Kampung Komunikasi atau lebih akrabnya disebut Kakom merupakan salah satu event tahunan milik program studi Ilmu Komunikasi yang memanfaatkan kreativitas mahasiswanya, terutama dalam bidang manajemen eventEvent yang eksis sejak tahun 2014 ini selalu menjadi salah satu event yang paling ditunggu mahasiswa Ilmu Komunikasi. Rangkaian acara yang diadakan Kakom antara lain Talk Show, Stand Up Night, Bazaar, berbagai macam lomba dan rangkaian konser bertajuk Dreamland.  Namun pada tahun ini berhembus isu bahwa Kakom tak lagi menjadi eventtahunan. Mengapa demikian?

Rapat pleno dosen Ilmu Komunikasi yang dilaksanakan pada awal semester ganjil membahas dan mengevaluasi kegiatan mahasiswa, diantaranya adalah penerapan lima skema dalam pengembangan kemahasiswaan yang akan dimulai pada semester ini yakni Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), asisten riset dosen,  pendampingan Himakom dan klub-klub yang ada dibawahnya, kursus bahasa asing, dan yang terakhir adalah event aksidental. Selain lima skema tersebut Kakom juga menjadi sorotan sehingga diputuskan bahwa Kakom menjadi event dua tahunan tanpa konser musik, keputusan ini disampaikan langsung oleh ketua prodi Ilmu Komunikasi dalam workshop PKM program studi Ilmu Komunikasi (10/9/2016).

Muzayin Nazaruddin selaku kepala program studi Ilmu Komunikasi menjelaskan bahwa setelah mengevaluasi kegiatan mahasiswa Kakom dianggap tidak produktif dengan berbagai alasan, diantaranya adalah banyaknya energi yang terserap di kakom karena mayoritas mahasiswa tergabung dalam kepanitian Kakom dengan persiapannya cukup menyita waktu yang sering kali mengakibatkan mahasiswa mengabaikan perkuliahannya, selain itu dari sisi akademik berkembang pula wacana yang tidak sehat, yaitu wacana penyeragaman bahwasanya mahasiswa Ilmu Komunikasi identik dengan Kakom. “Itu tidak boleh, pendidikan itu bukan menyeragamkan, pendidikan itu membebaskan dan menguatkan potensi“ tegas Muzayin.

Muzayin juga menambahkan bahwa mahasiswa harus diberi ruang yang sama dalam mengembangkan potensi sesuai dirinya masing-masing, bukan malah diarahkan ataupun diserap dalam kepanitiaan Kakom. Banyak pula pihak yang mengkritik Kakom, terutama Dreamland karena dianggap terlalu banyak menyita waktu dan panitia harus berfikir keras untuk mempersiapkan Dreamland baik dari finansial ataupun tenaga. Selain itu Dreamland dianggap cenderung kurang kreatif karena hanya memikirkan siapa artis yang akan diundang dan berapa honor yang akan dibayar, namun tidak ada ruh komunikasi di dalamnya.

“Anak komunikasi harusnya kalau bikin event ya yang menunjukan dia itu mahasiswa komunikasi yang ada kaitanya dengan keilmuan dia, dan kalo di prodi komunikasi berarti event itu harus mempunyai dimensi pemberdayaan, dua duanya ini tidak ada di Dreamland” jelasnya.

Menanggapi keputusan prodi tersebut, Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) Mozaik Al Isamaer mengatakan bahwa belum ada pertemuan langsung dengan prodi, namun ia mengaku keberatan jika memang Kakom menjadi event dua tahunan. “Saya rasa prodi juga punya pertimbangan yang jelaslah kenapa dijadikan dua tahun sekali. Saya belum tahu juga alasan yang jelas, mungkin itu bakal dibicarakan”.

Senada dengan Mozaik, Yogatama Yalesena mahasiswa Ilmu Komunikasi 2014  yang juga anggota panitia Kakom menyayangkan keputusan prodi jika memang Kakom menjadi event dua tahunan karena menurutnya banyak fakultas bahkan kampus yang ingin mengadakan acara seperti Kakom. Melalui event Kakom mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapatnya di kelas. Namun disisi lain Ia juga mengtakan adanya sisi positif jika Kakom diadakan dua tahun sekali salah satunya adalah persiapan dan konsep mungkin akan lebih matang.

Hal serupa juga disampaikan Bagus Restu Dewanto mahasiswa Ilmu Komunikasi 2014 bahwa dia belum mengetahui pasti namun dia telah mendengar isu-isu kakom dua tahunan. Menurutnya kakom merupakan pemantik bagi mahasiswa ilmu komunikasi untuk mengasah potensinya. “Jadi aku rasa kalo di pending dua tahun artinya ada waktu setahun yang dibuang untuk mengasah bakat atau potensi mahasiswa Ilmu Komunikasi” ucapnya

Ia juga menyebutkan banyak hal positif yang didapat dari kakom diantaranya adalah melatih skill, menjalin relasi berbagai kalangan dan memberikan hal baik kepada prodi ilmu komunikasi ataupun universitas. “Kakom sendiri sudah memberikan dampak yang baik, baik untuk prodi atau pun mahasiswa, mahasiswa lebih aktif, ada wadah, serta universitas juga bangga dengan adanya Kakom”. Namun, banyak mahasiswa yang belum mengetahui keputusan prodi tentang Kakom yang dilaksanakan dua tahun sekali karena pihak prodi dalam memutuskan regulasi ini tidak ada koordinasi dengan mahasiswa “Kalau mau bicara dialogis memang tidak dialogis, oke tapi prodi tidak akan menarik mundur keputusan itu” ujar Muzayin. Ia juga menambahakan keibijakan ini diambil untuk mengarahkan mahasiswa agar tidak mengabaikan kuliah.

“Tanggung jawab prodi kan juga mengarahkan ke jalan yang benar, yang prodi yakini, maka dibuatlah regulasi kakom dua tahunan supaya mahasiswa tidak terserap energinya. Tanpa konser musik itu biar mahasiswa kembali ke ruh komunikasinya, kalo mau bikin event tujukan dong kalian mahasisawa komunikasi” tegasnya.

 

Reporter : Sarah Rahma Agustin dan Suci Yolianda

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *