Judul Buku        : Pulang

Penulis               : Tere Liye

Tahun terbit       : 2015

Penerbit             : Republika

Tebal buku         : 400 halaman

 

 

Pulang merupakan sebuah novel yang menceritakan tentang seorang anak keturunan perewa yang diangkat oleh Tauke Besar, julukan untuk pemimpin Keluarga Tong, kumpulan orang yang bekerja di kegiatan shadow economy. Anak yang kerap dipanggil Bujang tersebut diberi perlakuan khusus dari Tauke Besar, dibawakannya guru-guru terbaik dari berbagai wilayah di dunia untuk mengajarinya latihan fisik, menembak, bermain pedang, dan bahkan juga mengajarinya untuk menjadi orang yang tidak hanya hebat di fisik, tetapi juga hebat di otak. Dengan potensi yang dimiliki oleh Bujang, ia dikuliahkan ke luar negeri dan tumbuh menjadi sosok mematikan yang kemudian dikenal oleh seluruh penjuru dunia sebagai Si Babi Hutan. Bujang sering ditugaskan oleh Tauke Besar untuk mengurusi masalah-masalah sekiranya membutuhkan negosiasi besar, dan bahkan kadang ditunjuk untuk menggantikan Tauke Besar dalam pertemuan dengan keluarga-keluarga penguasa shadow economy di seluruh dunia.

Meskipun Keluarga Tong sangat terkenal di dunia shadow economy, namun banyak masalah yang harus dihadapi oleh mereka, mulai dari orang-orang yang tidak bersedia membayar uang kompensasi, pencurian alat pemindai, keluarga penguasa lain yang iri dengan perkembangan Keluarga Tong, hingga pengkhianatan yang kemudian membuat Keluarga Tong porak poranda. Permasalahan terakhir membuat Bujang putus asa dan kembali mengenal rasa takut. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena kakak dari Ibu Bujang, Tuanku Imam, memberikan beberapa nasihat kepada Bujang yang dapat memberinya semangat baru sekaligus membangkitkannya dari keterpurukan. Pada akhirnya Bujang berubah menjadi sosok yang lebih bijak, ia dapat berkompromi dengan rasa takut, serta pulang  kepada panggilan Tuhan.

Kekurangan dari buku ini yaitu settingnya yang tidak Indonesia sentris. Ceritanya yang menggambarkan kehidupan layaknya mafia, yakuza, atau kelompok orang semacam itu tidaklah familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Boleh dibilang, kisah dalam buku ini, dari segi makna cerita, secara garis besar malah mirip film Kung Fu Hustle yang juga berhubungan dengan kelompok mafia dan proses penemuan jati diri si tokoh utama.

Namun, di balik semua kekurangan tersebut, Tere Liye telah berhasil mengenalkan beberapa hal baru kepada pembacanya. Seperti pengetahuan tentang dunia shadow economy dan informasi sekilas tentang operasi dunia tersebut. Selain itu, alur cerita yang sukar ditebak juga menjadi nilai plus tersendiri. Sebab pembaca akan diajak untuk menyelami dua dunia yang sungguh berbeda, yaitu antara dunia pertempuran ala gangster dengan dunia teologi ala Islam. Tak ketinggalan pula bumbu-bumbu cerita khas Tere Liye seperti konflik keluarga, cinta, dan rasa kehilangan yang juga turut menambah cita rasa drama novel ini. Boleh dikatakan novel ini cukup ringan dan menarik, cocok untuk pembaca yang memang ingin membaca novel genre baru yang menghibur, pun tidak diperlukan perasan otak untuk memahami jalan cerita dalam buku ini.

Amanat yang bisa diambil dari novel Pulang yaitu untuk tidak mempedulikan masa lalu seseorang. Karakteristik individu bukanlah dinilai dari masa lalunya, tetapi lebih ke masa yang sekarang, bagaimana dia bersikap dan berperilaku saat ini karena setiap individu memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Selain itu, novel tersebut juga mengajarkan kita untuk tidak usah terlalu pusing memikirkan pendapat orang lain atas apa yang kita lakukan. Hal tersebut tertulis pada halaman pertama buku, “Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apa pun penilaian kalian. Toh, aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar kalian.” Di akhir cerita, ada sentilan tentang Tuhan yang dimaksudkan untuk mengingatkan manusia agar tidak pernah lupa bahwa tujuan akhir kehidupan mereka tetaplah kembali kepada Tuhan.

Sungguh, sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh. Tuhan selalu memanggilku untuk pulang.Tere Liye. (Firda Mahdanisa)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *