(Minggu, 16/04/2017) Perkembangan Islam di Indonesia tak lepas dari kiprah para ulama abad ke-15 atau yang lebih dikenal dengan sebutan Wali Songo. Sebab, para Wali Songo merupakan tonggak paling penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa dan Nusantara. Demikian sebagaimana diungkapkan Profesor Agus Sunyoto, Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI), dalam Talkshow Dialog Kebudayaan Sport Art Culture And Festival (STEEL) yang dihelat oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta (13/04/2017).

Dalam gelar wicara yang berlangsung di Gedung Auditorium Kahar Muzakkir UII itu, Agus Sunyoto menceritakan bahwa sebelum kedatangan para Wali, Agama Islam tidak mengalami perkembangan signifikan di Nusantara selama hampir 800 tahun lamanya. Salah satu penyebabnya, menurut Agus Sunyoto, ialah karena ada agama purba Nusantara yang tidak menghendaki tersebarnya Islam di kalangan masyarakat pada waktu itu.

“Nama agama itu Tantrayana bersama sekte Bhairawanya, sejak awal mereka memang berlawanan keras dengan Islam,” ungkap Agus Sunyoto.

Agus Sunyoto menuturkan agama Tantrayana dengan ritual Pancamakara atau Mo-limo-nya yang meliputi Mamsha (daging), Matsya (ikan), Madya (minuman keras), Maithuna (bersetubuh), dan Mudra (bersemadhi) sangat bertentangan keras dengan ajaran Islam. Apalagi ketika naik tingkat dalam ritual, syarat Mamsha yang semula berupa daging hewan akan diganti dengan daging manusia.

“Itulah kenapa Islam di Jawa ini dengan tegas menolak Mo-limo,” tukas Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang tersebut.

Agus Sunyoto juga mengisahkan bila di Jawa terdapat agama lain yang dinilai oleh para Wali memiliki kesamaan dengan Islam secara substansial. Agama tersebut, sebagaimana diterangkan Agus Sunyoto, bernama Kapitayan, yaitu sebuah agama dimana para pengikutnya menyembah Sang Hyang Taya (bermakna kosong, hampa, absolut tidak bisa diapa-apakan). Agus Sunyoto menjelaskan jika seluruh daerah di Nusantara (selain Jawa) juga terdapat agama-agama sejenis Kapitayan dengan nama yang berbeda-beda. Lewat agama Kapitayan dan sejenisnya inilah, lanjutnya, para Wali kemudian melakukan Islamisasi Nusantara melalui asimilasi dan sinkretisasi. Meski begitu, tak berarti penyebaran agama Islam berlangsung lancar karena para Wali acap kali harus bertarung baik secara spiritual maupun fisik dengan para penganut Tantrayana.

Usai mengisi acara, Agus Sunyoto menyampaikan betapa pentingnya mempelajari sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Sebab menurut penulis buku Atlas Wali Songo tersebut,  mempelajari sejarah Islam Nusantara selain sebagai bentuk menghargai para Wali Songo juga bisa menjadi salah satu upaya membendung arus negatif globalisasi yang sudah semakin mengakar dalam diri anak-anak muda bangsa Indonesia. Agus Sunyoto meyakini ketika masyarakat, terlebih generasi muda Indonesia, tercerabut dari identitas sejarahnya, maka orientasi jiwanya pun akan berubah.

“Bayangkan jika seluruh bangsa ini sekarang memaknai nilai kecantikan saja sudah refrensinya orang Barat, mereka tidak lagi melihat kecantikan khas orang Jawa, itu dampak negatif globalisasi,” ujar Agus Sunyoto. (Sulkhan)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *