(Kampus Terpadu, 21/05/2017) Jumat malam lalu, tepatnya pada tanggal 19 Mei 2017, ratusan massa yang berasal dari berbagai elemen masyarakat tampak berkerumun di area lapangan basket Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Mereka datang berbondong-bondong untuk mengikuti acara Sinau Bareng Cak Nun yang dihelat oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) FPSB dan pihak Dekanat FPSB UII. Tidak tanggung-tanggung, acara ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa, tapi juga masyarakat sekitar dan 11 jamaah masjid di lingkungan UII. Selain itu, FPSB juga memberikan santunan kepada setiap masjid sesuai dengan kebutuhan 11 masjid tersebut, seperti kipas angin, sajadah, dan sebagainya.

Dalam acara yang bertemakan “Ramadhan Membentuk Insan Ulul Albab” tersebut, Cak Nun mengajak massa yang hadir untuk berdiskusi secara lebih interaktif. Diselingi lagu-lagu garapan grup musik Kiai Kanjeng, Cak Nun berupaya merangsang daya pikir massa dengan melontarkan sejumlah pertanyaan yang umumnya berangkat dari masalah yang sering diperdebatkan oleh kalangan umat muslim Indonesia selama beberapa waktu ini. Seperti soal halal-haramnya musik, intoleransi antar umat, hingga polemik mengenai sebagian kalangan muslim yang menghendaki tegaknya khilafah di Indonesia.

Di tengah acara, ulama cum budayawan bernama lengkap Emha Ainun Nadjib itu menyampaikan pandangannya bahwa berbagai pertengkaran serta perdebatan yang ada di Indonesia saat ini pada dasarnya disebabkan oleh kelompok-kelompok yang saling menyombongkan kebenarannya masing-masing. Oleh karenanya, menurut Cak Nun kebenaran itu tidak untuk dikeluarkan dan disombongkan dari diri seorang individu. Cak Nun pun berpesan agar kebenaran sebaiknya diungkapkan kalau itu menjadikan kebaikan dan sebaliknya jika hanya menambah kejelekan. Sebab harusnya, lanjut Cak Nun, kebenaran itu menjadi bekal dan keluarnya bukan lagi dalam bentuk kebenaran tapi dalam bentuk kebaikan, kenyamanan, keteduhan, keseimbangan, serta kemuliaan.

“Jangan sombong dengan kebenaranmu karena Alhaqqu Min robika, kebenaran itu hanya dari Alloh dan kita hanya berposisi menafsirkannya. Orang tidak butuh kebenaranmu, orang hanya butuh kasih sayangmu dan keseimbangan hidup bersama.,” salah satu nasehat Cak Nun kepada massa yang hadir dalam acara tersebut.

Pesan dari Cak Nun tersebut diakui oleh Akmal Maulana Luthfi Ridlo Sanggusti, Ketua LEM FPSB UII periode 2016/2017, telah memberi pelajaran yang sangat penting bagi dirinya. Lebih dari itu, Akmal memandang sosok Cak Nun sebagai pribadi yang begitu mencintai negara dan saudara sesama muslim.

“Cak Nun menurut saya selalu berusaha memahami perbedaan untuk bisa menjadi satu, karena itu Cak Nun kan bilang kalau mereka tidak mau memahami saya (Cak Nun) biar saya yang memahami mereka. Mereka itu maksudnya yang mungkin sedang mencari Tuhannya,” ujar Akmal.

Acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng merupakan salah satu rangkaian acara Tasyakuran Milad FPSB yang ke-22 sekaligus juga Tasyakuran Milad UII yang ke-74. Acara tersebut berlangsung sejak sekitar pukul 20:00 WIB dan berakhir hingga hampir pukul 01:00 WIB dini. (Sulkhan)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *