(Yogyakarta/ 11/ 7/ 2017) – Berawal dari tugas kuliah menulis proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Fawwaz Ahmad Fauzan (Psikologi), Dyah Delinda (Psikologi), dan Putri Zakia Salsabila (Ilmu Komunikasi) terpilih menjadi salah satu tim yang didanai oleh DIKTI. Skema PKM yang diikutinya adalah PKM Kewirausahaan dengan judul “Vegie Oçhips Kripik Sayur Non-MSG dan Pengawet”.

Kripik Sayur hasil proyek mereka ini terbilang cukup berbeda dari kripik lainnya, karena sama sekali tidak menggunakan MSG. Nur Pratiwi Noviati selaku pembimbing mengatakan bahwa produk mengedapankan kesehatan dan tidak memuat bahan-bahan yang berbahaya. Selain itu, mereka juga menggunakan mesin Vacuum Frying, yaitu alat pengorengan dengan suhu dibawah 100 derajat. Menggorengnya pun juga lebih memilih minyak kelapa murni ketimbang minyak kelapa sawit. Menurut tim PKM Kewirausahaan ini, minyak goreng kelapa murni dan kelapa sawit itu sangat berbeda jauh kualitasnya. Minyak gorang yang biasa digunakan oleh produk-produk konvensional itu bukan minyak kelapa murni, tapi minyak dari kelapa sawit. Menggunakan minyak kelapa murni ini bertujuan agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal dan terjamin. “Setiap jenis sayur cara penggotengannya juga berbeda dan dengan suhu yang berbeda” ujar Dyah.

Dalam proses distribusi dan penjualannya, tim mereka tidak mengalami banyak masalah yang berarti. Tapi bagi Dyah, setiap karya yang maksimal pasti selalu ada kesulitan didalamnya. Kesulitan yang dialami dalam menggarap PKM ini ada pada proses produksinya. Seperti masalah pada mesin yang mereka gunakan membutuhkan tegangan listrik yang cukup besar, dan juga bahan bakar yang banyak. Ketika masa-masa padat produksi pun, tak pelak mereka setiap pagi harus selalu mencari bahan bakar gas terlebih dahulu.

Fawwaz, Dyah, dan Salsabila sangat-sangat menaruh harapan besar dengan proyek PKM mereka ini. Mereka ingin usaha yang mereka lakukan ini menjadi berkah dan bermanfaat di masyarakat, dapat menjadi usaha yang lebih baik lagi dan dapat bekerjasama dengan masyarakat juga kedepannya. Dan terakhir, tentunya harapan terbesar mereka ialah agar dapat melaju ke PIMNAS 30 dan dapat mengharumkan nama besar Universitas Islam Indonesia. Bagi Nur Pratiwi, masalah lolos PIMNAS atau tidak itu bukan masalah yang dijadikan obesesi. “Harapan saya di awal itu intinya ketika mereka lolos pendanaan berarti ada tanggung jawab yang mereka emban”, tutup Tiwi. (Yunisa, Karel)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *