(Jum’at, 18/08/17) Kahar muzakir siang ini dipenuhi oleh mahasiswa/i baru 2017 yang terlihat sedang mendengarkan materi mengenai apa dan bagaimana Universitas Islam Indonesia (UII) berdiri. Apabila menyoal sejarah UII, dalam slide materi yang disampaikan Rektor, UII memiliki hubungan yang sangat erat dengan para pejuang. Bagaimana tidak, sebut saja jajaran para pejuang yang merupakan bagian dari UII seperti Moh. Hatta, Kahar Muzakkir, ataupun Wachid Hasyim. Ini merupakan salah satu poin penting yang coba diangkat oleh Rektor Universitas Islam Indonesia, Nandang Sutrisno, pada sesi Stadium General dari rangkaian acara Pesona Orientasi dan Ta’aruf (PESTA) UNISI 2017.

Pada presentasi yang disampaikan di Gedung Auditorium Kahar Muzakkir UII, Nandang menjelaskan bagaimana dan apa saja yang membuat nama UII menjadi besar hingga saat ini. Ia pun juga memaparkan visi-misi yang menjadi kebanggan Civitas Akademika UII hingga saat ini di hadapan seluruh mahasiswa/i baru.

“Jika kita lihat, visi kita itu rahmata lil’alamin. Apa artinya? Berarti ialah kita harus menjadi rahmat yang dapat dirasakan kebaikan dan keberadaannya, tidak hanya di nasional tapi juga di internasional”, tegasnya.

Nandang pun juga menyampaikan, bahwasanya mahasiswa UII haruslah dapat menjadi mahasiswa yang sesuai dengan cita-cita pemimpin, yaitu dapat menjadi kader-kader pemimpin dan juga insan cendikia. Ia pun juga berharap agar mahasiswa UII semestinya menjadi insan Ulil Albab, dimana harus lekat dengan sikap-sikap islamiyyah, pengetahuan yang luas, berketerampilan transformatif atau keterampilan di luar akademik, dan juga kepemimpinan profetik yang sesuai dengan sifat-sifat Nabi.

Beliau pun juga sangat menginginkan mahasiswa UII dapat menjadi mahasiswa yang aktif. Tidak hanya aktif sebagai mahasiswa yang hanya berstatus sebagai “Kuda-Kuda”, Kuliah-datang Kuliah-Datang. Inilah yang sangat diingat oleh Muhammad Akbar Priandanu, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi 2017. “Salah satu yang beliau bilang menjadi mahasiswa itu harus menjadi aktif, tidak bisa pasif-pasif”, pungkas Akbar. (Eprina, Karel, Suci)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *