“Berapa jumlah kalian?…..satu. Berapa jumlah kalian….satu”, seru peserta aksi damai dari aliansi yang mengatasnamakan Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (KM FTSP) di incourt Gedung FTSP, Kampus Terpadu UII 23 Agustus 2017. Aliansi tersebut berisi beberapa anggota lembaga-lembaga mahasiswa hingga mahasiswa biasa di FTSP.

Aksi damai ini digelar karena mahasiswa-mahasiswa tersebut merasa pihak dekanat telah mengintervensi acara ospek FTSP, “PEKTA,” sehingga mereka memutuskan untuk menarik diri dari kolaborasi kepanitiaan. Kini penyambutan mahasiswa baru tidak dilaksanakan seperti biasanya, yakni dipegang oleh pihak dekanat dan berganti nama menjadi “Pilar Bangsa.” Pihak mahasiswa merasa kurang puas dengan kebijakan pihak dekanat yang membatasi keterlibatan mahasiswa dalam penyambutan mahasiswa baru, sehingga Ketua LEM FTSP, M. Fahri Dirgananta akhirnya memutuskan untuk membubarkan kepanitiaan PEKTA.

“Kami sepakat adanya kolaborasi, tapi ternyata yang dimaksud pihak fakultas ialah Mahasiswa hanya melaksanakan rancangan acara yang dibuat oleh Dosen. Mereka ga terima melaksanakan apa yang bukan mereka rancang, dengan berat hati OC PEKTA saya bubarkan karena pihak Fakultas mengambil keputusan terakhir tanpa melibatkan lembaga kemahasiswaan,” ungkap Fahri.

Kasam selaku Kemahasiswaan Dekanat FTSP menyatakan bahwa pihak Dekanat FTSP tidak setuju dengan konsep yang ditawarkan oleh lembaga mahasiswa karena himbauan dari Surat Edaran Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 253/B/SE/VIII/2016 mengenai Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang menyatakan bahwa PKKMB merupakan program institusi bukan program mahasiswa, sehingga PKKMB merupakan tanggung jawab pimpinan perguruan tinggi dengan struktur kepanitiaan yang melibatkan unsur pimpinan perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa. Perguruan tinggi pun dapat menerbitkan peraturan tentang tata perilaku mahasiswa untuk menghindari pelanggaran atas norma, etika dan hukum.

Pers Rilis Aksi Aliansi KM FTSP UII
Surat Edaran Kemenristekdikti
Surat Edaran Rektor UII

“Intinya fakultas atau institusi sangat berharap pelaksanaannya ini sederhananya, tidak ada yang namanya ‘pengkondisian’ atau apapun namanya karena saat ini UII sedang mendapatkan sorotan yang sangat luar biasa. Ditambah lagi, FTSP baru saja mendapatkan akreditasi internasional sehingga sangat riskan jika di dalamnya ada ‘pengkondisian’, sangat beresiko akreditasi diturunkan”, ungkap Kasam.

Menanggapi Surat Edaran tersebut, Fahri merasa bahwa kekhawatiran dari pihak dekanat itu terlalu berlebihan. “Saya tahu fakultas kami ini akreditasinya internasional, saya bersyukur bisa berada di sini. Tentunya mahasiswa ketika mengadakan kegiatan tidak melupakan kampusnya. Mahasiswa mana sih yang mau mencoreng kampusnya? Kecuali memang dia niatnya nggak mau kuliah. Mahasiswa disini ingin menjalankan proses, ingin mengadakan kegiatan yang membuat nama kampus baik juga,” tegas Fahri.

‘Pengkondisian’

Berdasarkan Surat Edaran Rektor No. 1820/Rek/90/DPBMKM/VIII/2017 perihal Pelaksanaan Kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru UII 2017/2018 yang ditujukan kepada Dekan, Ketua Program Studi, dan Lembaga Mahasiswa di lingkungan UII tertulis bahwa dalam pelaksanaan PKKMB tidak diperkenankan adanya kekerasan (fisik, psikis, verbal) dan aksi pembodohan serta bentuk-bentuk aktivitas lain yang mengarah pada perpeloncoan dengan alasan apapun. Selain itu, waktu pelaksanaan yang diperbolehkan hanya mulai pukul Pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Kegiatan ospek pun hanya boleh digelar di lingkungan UII. Hal ini menyebabkan banyak kontroversi di berbagai fakultas yang rutin mengadakan acara Malam Keakraban (Makrab). Sebab makrab tersebut biasanya berlokasi di luar lingkungan Kampus UII, bahkan melebihi waktu yang ditetapkan dalam Surat Edaran tersebut. Makrab sendiri biasanya dilaksanakan sekitar 2-3 hari setiap tahunnya. Selain itu, Kemenristekdikti sudah menetapkan materi yang wajib diberikan dalam kegiatan pengenalan kampus seperti Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, General Education, Pendidikan HAM Berperspektif Gender, dan lain-lain, yang kemudian diterapkan pada acara pengenalan kampus “Pilar Bangsa” di FTSP sebagai pengganti PEKTA.

Ketua LEM FTSP, M. Fahri Dirgananta

Ketua LEM FTSP sendiri mengatakan bahwa manual yang dirancang sudah tidak ada Divisi Penertib Lapangan (DPL), pengkondisian, maupun kekerasan. Namun, hal ini tidak senada dengan ungkapan Kasam (Kemahasiswaan Dekanat FTSP) bahwa ketika lembaga mahasiswa menyodorkan konsep pada saat rapat bersama pihak fakultas, masih terdapat rangkaian acara sebelum pukul 08.00 dalam jadwal kegiatan PEKTA. Sedangkan, menurut Kasam, hal itu menyalahi aturan, sebab waktu untuk memulai kegiatan ospek tersebut sudah diatur yakni pukul 08.00.

Menurut Fahri, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan PEKTA ini porsinya lebih sedikit jika dibandingkan dengan acara PESTA UNISI. Walaupun begitu, pihak mahasiswa tetap menerima keputusan dekanat. Kemudian, dalam konsep acara tersebut ia menyatakan bahwa telah ada kegiatan baru yakni Social Project, Talk Show yang diisi alumni dari lembaga-lembaga terdahulu untuk berbagi pengalaman seputar organisasi kepada mahasiswa baru dan focus group discussion yang membahas isu-isu masyarakat seperti halnya pada PEKTA tahun 2016 lalu. Namun konsep tersebut ditolak oleh pihak fakultas, yang diterima hanyalah pengenalan lembaga, makan besar dan koreografi. “Menurut kami, acara tersebut juga penting, namun pada saat sedang bersantai saja, bukan ilmu untuk mereka dari lembaga. Waktu pengenalan lembaga pun hanya satu jam, padahal lembaga di Fakultas kami ada 5 yang berarti 1 lembaga hanya diberi waktu 12 menit. Berarti porsi kami ditekan dong dalam kegiatan ini”, ujar Fahri.

Mengenai DPL sendiri, Fahri yang juga masih menjabat sebagai Ketua LEM FTSP dalam PEKTA tahun lalu menyebutkan bahwa DPL memanglah hal yang pro-kontra, namun akhirnya tetap disetujui dengan MoU yang berisi poin-poin seperti boleh suara keras tapi dengan tetap menjaga jarak dengan peserta, tidak boleh membuat mahasiswa baru lari, tidak boleh ‘main tangan’. Aturan tersebut diakui Fahri sudah dilaksanakan oleh panitia PEKTA.

“Tahun ini kami telah memberikan penjelasan, namun masih disebut kekerasan dan pembodohan, akhirnya kami setuju di PEKTA tahun ini tidak ada lagi DPL tidak ada lagi baris-berbaris, padahal baris-berbaris sendiri tujuannya agar mahasiswa baru bisa masuk dengan rapi, tapi itu juga disebut pembodohan. Bahkan mahasiswa baru menggunakan atribut hitam putih juga disebut sebagai pembodohan, jadi lucu aja bagi kami”, ujar Fahri.

Terkait dengan acara Pilar Bangsa, Fahri merasa bahwa acara tersebut sangat baik dan bermanfaat bagi mahasiswa baru, namun rangkaian acara semacam itu masih bisa dilaksanakan pada salah satu acara perkuliahan, karena hanya berupa seminar atau ceramah. Sebab, menurut Fahri, PKKMB ialah saatnya mahasiswa baru berinteraksi dengan sesamanya dan waktu bagi mahasiswa untuk menyambut mahasiswa baru. “Kekerasan sudah saya pastikan tidak ada, tapi mindset mereka masih menganggap kalau diserahkan ke mahasiswa akan terjadi (kekerasan). Nah, itu kami tidak bisa terima. Kok Su’udzon sama kami”, ungkap Fahri.

Fahri berharap tidak ada lagi intervensi yang berlebihan pada kegiatan di lingkup kelembagaan FTSP dan berharap pendapat mereka didengarkan. “Jangan sampai semua kegiatan mau diambil alih oleh dosen. Bisa dilihat tadi panitia disini (Pilar Bangsa) tadi semuanya dosen. Pembukaan saja dirijennya pun dosen. Menurut kami itu juga aneh sih. Saya sendiri juga prihatin kepada bapak ibu dosen yang menjalankan, karena sepertinya mereka ini kurang tidur”, tutup Fahri.

Namun, dibalik keluhan lembaga mahasiswa tersebut, Kemahasiswaan FTSP sendiri mengatakan walaupun panitia telah berjanji bahwa tidak ada kekerasan, namun pihak Fakultas menganggap panitia tidak memiliki jaminan yang jelas, padahal resikonya sangat besar. “Yang namanya jaminan harus ada dalam konsep yang tertulis. Seharusnya dalam konsep acara resmi kegiatan dimulai jam 8, tapi di manual acara yang dibuat panitia tertera bahwa sebelum jam 8 itu sudah ada acara pengkondisian. Pokoknya dari kamu harus tidak ada intimidasi, atau apapun yang berbau pressure”, Ungkap Kasam.

Menanggapi pengambilalihan pihak dekanat tersebut, Kasam menambahkan, “Kesannya, kasian juga anak-anak mahasiswa karena seperti mengambil alih. Padahal diambil alih karena super-super terpaksa, karena anak-anak mengundurkan diri”, tegas Kasam.

Pihak fakultas sendiri mengakui bahwa masalah ini sudah dibahas semenjak tahun lalu, namun tahun lalu pihak dekanat merasa gagal untuk meniadakan kegiatan yang dianggap sebagai tindakan kekerasan oleh fakultas. “Tahun ini kita harus kenceng berani, karena kita saat ini sedang sangat disorot dan khusus FTSP seluruh akreditasi telah teraktivasi secara Internasional, lebih disorot lagi”, Jelasnya.

Setelah mahasiswa mengundurkan diri, akhirnya hanya dalam waktu 3 hari konsep acara Pilar Bangsa dirancang oleh pihak Fakultas FTSP. Akhirnya Kasam berharap bahwa acara ini tidak akan dilaksanakan sampai ke teknis operasional oleh fakultas dan kedepannya dapat dijalankan oleh mahasiswa, namun tetap sesuai dengan Surat Edaran Kemenristekdikti.

Tanggapan Mahasiswa Baru

Mengetahui bahwa mahasiswa baru menjadi objek dari konflik antara Dekanat FTSP dan Lembaga Kemahasiswaan FTSP, Latifah R.A, salah satu mahasiswa program studi Arsitek 2017 mengungkapkan, “Menurutku sih bermanfaat (Pilar Bangsa), nggak menguras fisik juga, tapi ada waktu-waktunya kita bosen kalau dengerin orang ngomong terus“.

Latifah sendiri merasa bahwa, jika acara penyambutan mahasiswa baru diadakan oleh mahasiswa, tentu akan lebih banyak kegiatan yang membantu mahasiswa baru untuk mengenal sesama angkatan dan kakak tingkat.

“Misalkan kita diospek sama dosen, kita kan sulit untuk kenal dari sipil, teknik lingkungan, atau bahkan dari prodi sendiri. Sedangkan dari kakak tingkat dari lembaga mahasiswa pasti ada acara-acara yang barengan jadi otomatis lebih kenal. Kepedulian antara satu sama lainnya itu berbeda”, pungkas Latifah. (Satya, Mirza)

Foto oleh: Fatimah Zahro

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *