(Kampus Terpadu UII, 29/8/2017) Selasa, 29 Agustus 2017 adalah hari kedua Semarak Ta’aruf Mahasiswa Penuh Makna (SERUMPUN) digelar. Pada hari kedua ini peserta melaksanakan sebuah kegiatan yang baru pertama kali dalam kegiatan SERUMPUN, yaitu Social Experiment. Social experiment merupakan salah satu agenda perdana SERUMPUN yang bertujuan untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengunjungi beberapa masjid binaan FPSB (Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya) dan melakukan observasi pada masyarakat tentang permasalahan di lingkungan sekitar, seperti masalah sulit tidaknya pendidikan di lingkungan tersebut hingga bagaimana kehidupan mahasiswa di kos.

Menurut Komisi A SERUMPUN, Bilal Prama Rizki, kegiatan ini bermanfaat untuk masyarakat dan mengajarkan para mahasiswa baru untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan serta mencegah adanya shock culture. Selain itu, Ibrahim Malik selaku Remaja Masjid Mau’idhatul Khasanah Dusun Lodadi (salah satu masjid yang menjadi objek social experiment) juga mengatakan bahwa kegiatan ini dapat memacu jiwa sosial mereka. Menurut pria yang kerap disapa Baim, kegiatan ini juga dapat mempererat ikatan emosional antar masyarakat dan kampus.

Dalam kegiatan social experiment ini, Dekan FPSB, Arief Fahmi juga menunjuk empat dosen dari masing-masing program studi untuk mendampingi kelangsungan acara tersebut. Ratna Permatasari, salah satu Dosen Ilmu Komunikasi yang ditunjuk Dekan berharap bahwa kegiatan ini dapat mengajak mahasiswa untuk berkontribusi secara nyata kepada masyarakat. Salah satunya yaitu dengan membersihkan masjid binaan FPSB dan melakukan observasi wawancara tentang masalah pendidikan, keamanan, kesehatan dan kehidupan mahasiswa di lingkungan sekitar. Harapan lainnya yang diutarakan Ratna adalah kegiatan ini dapat memberikan dampak positif, terutama untuk pengenalan fakultas.

Kegiatan perdana ini direspon positif oleh para mahasiswa baru dan Ibrahim, salah seorang remaja masjid. Rifdah Hana, mahasiswi baru dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris mengatakan bahwa kegiatan ini memberinya pengetahuan tentang lingkungan tersebut dan membuatnya memahami bagaimana pandangan warga sekitar tentang dirinya dan mahasiswa lainnya. Rifdah berharap untuk kedepannya kegiatan ini dapat diselenggarakan jauh lebih baik lagi dan lebih dapat memilih lokasi yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Namun, hal ini tidak sepenuhnya dianggap positif oleh Gandung, selaku Ketua Rukun Warga (RW) Lodadi jika tidak dilakukan secara rutin. Sebab, masjid Mau’idhatul Khasanah sudah memiliki susunan jadwal untuk dibersihkan. Bahkan pihak masjid juga sudah menyewa orang untuk membersihkan masjid secara rutin. Meski begitu, ia tetap mengapresiasi kegiatan social experiment ini. “Mungkin, jika kedepannya masih ada agenda seperti ini, lebih baik difokuskan ke acara seperti pengajian di masjid-masjid ataupun kegiatan yang bersifat agamis, jika seperti itu mungkin lebih terasa manfaatnya khususnya bagi masyarakat lodadi ini”, Pungkasnya. (Nazihatin Nuzula)

Reporter: Muadz, Zahro, Farra

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *