Sumpah Mahasiswa Indonesia,

Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah:

bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan

Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah:

berbangsa satu bangsa yang gandrung akan keadilan..

Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah:

berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.

HIDUP MAHASISWA !!!

 

Selamat datang Anda yang telah menyandang gelar Maha atas kesiswaannya. Selamat datang Anda yang telah berada pada level cukup “mulia”. Selamat datang Anda yang telah memasuki dunia Perkuliahan yang penuh dengan “gemerlap pergolakan cinta dan kasih sayang”. Selamat datang Anda yang sudah dewasa dan beberapa mengatakan “independen”. Selamat datang Anda yang mendapat gelar “Agent of change”, “Social Control”, “Iron Stock” and “Moral force”.

Mahasiswa, Anda ingin jadi apa? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum borjuis? Manager untuk mengatur segala kebutuhan pemilik modal tinggi? Pengacara untuk membela kepentingan kaum kaum kaya? Atau arsitek untuk membangun gedung-gedung pencakar langit? Ustadz/ mubaligh, untuk memperdagangkan ayat-ayat suci Al Quran? ataukah pemimpin hebat untuk menindas rakyat jelata? Mungkin Pengusaha, untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya? Saya yakin TIDAKLAH itu keinginan Anda kelak. Saya yakin Anda memiliki cita-cita yang lebih tinggi dan sangat mulia.

Mahasiswa, Taukah Anda kabar di luar sana? Pemodal asing yang siap sedia menggerogoti kekayaan  alam kita, pabrik-pabrik tegak berdiri siap mengeruk segala isi bumi kita, gedung-gedung pencakar langit merebut lahan rakyat jelata, lahan pertanian disulap menjadi mall-mall mewah nan jelita, kemerdekaan adalah hak para pemilik modal, kenyamanan dan kesejahteraan adalah hak bagi para pemangku jabatan tinggi negara. Di sana banyak orang yang duduk berdiskusi ditemani dengan segelas cocktail, ruangan ber-ac, serta dengan segala kelayakannya. Di sana banyak orang pintar, tetapi tidak menempatkan kepintarannya pada tempatnya. Uang negara disimpan rapih di rekening luar negara, hobi asik bermain proyek milyaran, hobi bepesta malam di gelapan diskotik sampai uang negarapun lupa ikut digelapkan. Akibatnya, korupsi kolusi dan nepotisme adalah bahasa slank yang acap kali kita baca memenuhi kolom majalah, koran, ataupun lawakan harian media Indonesia Indah. Lucunya lagi hukumanpun bisa dibeli, haha. Itulah contoh berita kecil ataupun lelucon-lelucon yang sering saya dengar di Negeri ini. Pasti Anda masih banyak memilki berita ataupun lelucon lainnya bukan??

Mahasiswa, Sejarah mengatakan bahwa The founding fathers negara ini adalah kaum terdidik, kaum intelektual, cendekiawan baik tua ataupun muda yang siap hidup menderita, dan selalu tirakat.. Sama dengan Anda yang berstatus sebagai Mahasiwa atau kaum intelek muda saar ini. Pernahkah anda mendengar sejarah bahwa mereka adalah kaum yang hidup dengan bergelimpangan harta? hidup dalam segala kenyamanan? Hidup dengan segala kekayaan? Hidup dengan semaunya? Hidup dengan santai-santai? Netral ataupun aman-aman saja? Coba saya absen sebentar; Ir. Soekarno, Moh Hatta, Moh Yamin, Bung Tomo, KH Hasyim As’ary, KH Wahid Hasyim, Kyai Zaenal Musthofa, Jendral Ahmad Yani, dkk. Apakah ada dari mereka yang memilki hidup aman-aman saja? TIDAK jawabnya. Jangankan untuk menikmati kekayaan atau santai-santai pewe, untuk “ngopeni” diri sendiri, anak, istri saja masih susah. Hidup mereka hanya diperjuangkan demi tegaknya satu kata “Merdeka”. Saat itu mengabdi pada masyarakat adalah suatu hal yang menjadi keharusan dan trend. Sekarangpun juga menjadi trend dalam dunia sosial. Sebut saja banyak adanya lembaga-lembaga seperti NGO X, kantung gerakan sosial Y, komunitas penggerak sosial Z, dll. Namun lembaga sosial saat ini masihkah sesuai dengan idealita sebagai lembaga sosial? Apakah suci dari kepentingan parpol? Nanti Anda Andalah yang bertugas mencari dan menilainya.

Mahasiswa, mungkin Anda sudah mendengar isu tentang liberalisasi pendidikan? atau Kapitalisasi pendidikan bukan? Sistem pendidikan ini memang semakin hari semakin membuat GILA. Bayangkan saja anak SD saja sudah diajarkan grammar bahasa inggris yang tulisannya pun mereka tidak mampu membacanya, mata pelajaran yang terkadang lebih padat daripada shift kerja di kantoran. Belum lagi ketika SMA, proses belajar 3 tahun ditentukan hanya dengan 3 hari ujian kelulusan. Nilai patokan angka tertinggilah yang akan dinyatakan lulus dengan predikat terbaik, Selanjutnya dapat diterima di perguruan tinggi favorit.. Belum lagi ketika mahasiswa, ada sebutan kampus kampus elit, kampus rakyat, dsb. Supaya terlihat keren dibangunlah mall atau gedung-gedung menjulang tinggi bersolek dengan hiasan kaca di dalam kampus. Supaya terdengar kampus syar’i dibuatlah aturan-aturan homogen yang saklek atas nama agama yang membatasi adanya heterogenitas-heterogenitas. Akibatnya radikalisme merajalela, paham uluhiahism, muncul doktrin bahwa “Tuhanlah yang wajib saya bela” jauh lebih penting dari pada menjaga hubungan baik dengan kawan-kawan saudaranya. Membela mati-matian atas nama kebenaran dalam Agama dan Tuhan. Padahal kita ini punya apa? Siapa? Seberapa hebatkah kita? Kok sudah ingin membela Tuhan Yang Maha Besar?. TAKBIR!!. (Istighfar), Sehingga itulah yang menjadikan kita sombong, merasa paling benar. Sehingga ada pula yang tidak sungkan mengatakan kafir pada sesama saudaranya, kafirlah yang menolong orang itu, kafirlah yang mengikuti orang itu. Sungguh ironis… Semakin hari semakin pudar budaya toleransi di antara kita, Hal semacam inilah yang menandakan sepertinya konsep kebhinakaan yang tunggal ika telah hilang sirna dalam lubuk hati dan jarang lagi diajarkan di tempat yang dikatakan untuk mendidik manusia ini.

Mahasiswa baru perlu kita ketahui, terkadang kita tidak sadar bahwa dari awal tujuan didirikan kampus adalah untuk memenuhi kebutuhan industri industri pasar, pemodal yang haus akan kekayaan dan pemerintahan yang memimpikan terciptanya kesempurnaan peradaban. Pendidikan yang hanya berorientasi pada hasil saja adalah contoh yang tidak sehat, mencetak kader-kader bangsa pragmatis. Masuk peguruan tinggi disuruh memilih jurusan yang suitable dengan pilihan kita. Lulus dengan IPK tinggi mendapat predikat Cumlaude, Sarjana dapat kerja di perusahaan besar, gaji yang menggiurkan untuk hidup enak. Itukah keinginan Anda? Iya,, jika memang itu tuntutan atau keinginan dari orang tua, maka kita juga harus menghormati dan berbakti kepadanya, dan sedikit mengkritisinya setidaknya rantai pragmatism ini dapat kita putus untuk perbaikan generasi setelahnya. Ingatlah wahai Mahasiswa, Tuhan menciptakan Anda bukan untuk menjadi seorang robot yang tidak memiliki rasa. Tuhan menciptakan Anda dengan segala kompleksitas yang ada. Anda dibekali akal untuk berpikir, Anda dibekali qolbu untuk dapat merasa dengan kepekaan hati nurani, Anda memilki mulut, mata, tangan, kaki, badan (jasad fisik) untuk dapat menerjemahkan bahasa akal dan rasa untuk dipahami seluruh makhluk., untuk membantu satu sama lain, untuk peka dan berbuat baik menebarkan cinta dan kasih sayang kepada makhluk seisi alam semesta ini.

Jadi, mari kita renungkan lagi wahai kaum intelek muda. Sebagai mahasiswa Anda sudah pasti mengetahui mana jalan yang benar dan mana yang buruk (tamyiz)? Sifat naluriah, hati nurani Anda akan selalu menuntun Anda ke jalan yang tidak sesat. Akan tetapi cara berpikir Andalah yang dapat membawa Anda menuju jalan yang sesat (kesesatan dalam berpikir). Jadi berhati-hatilah ketika Anda memikirkan tentang segala sesuatunya. Anda sudah memiliki sifat naluriah sebagai karunia dari Tuhan Semesta Alam untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Maka MAHASIWA bersikaplah MEMIHAK ! Pihaklah pada KEBENARAN ! Belalah sesuatu yang menurutmu benar ! Jangan biarkan dirimu terjerumus kedalam golongan “netral”, sekedar ikut-ikutan (taklid), mencari aman atau bahkan membenarkan kesalahan, mendiamkan kebatilan ! Jangan biarkan dirimu menjadi abu abu ! Jangan, sekali lagi JANGAN !!! Jangan biarkan jiwamu menghamba pada biadapnya ketakutan dan kepragmatis-an sesaat !!! Karena IDEALISME adalah kekayaan terakhir yang saat ini mahal untuk dikau memilkinya, Kata Tan Malaka.

Selamat datang mahasiswa baru, selamat berkarya, semoga Tuhan selalu memberkahimu, menuntunmu ke jalan-Nya, jikalau jalanmu sesat kelak. Ku hanya berdoa, semoga Tuhan menyesatkanmu ke Jalan yang benar. Jalan yang diridloi-Nya. Ameen.

 

Marilah maju meniti masa depan bersama,

Bermimpi dan Raihlah cita-citamu setinggi langit,

Namun jangan pernah lupa ! menjadi mahasiswa bukan hanya tentang duduk dibangku perkuliahan, sibuk dengan setumpuk teori dan sederet gelar.

Akan tetapi juga tentang bagaimana menjadi sosok intelektual muda yang mampu menanamkan homogenitas, bergerak dan menggerakkan masyarakat sosial yang menjadi induknya.

Oleh: Akmal Sanggusti

Penulis adalah Ketua LEM FPSB UII

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *