(Kampus Terpadu, Rabu 06/09/2017) Jumlah mahasiswa yang maju menjadi bakal calon legislatif untuk Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, periode ini mengalami penuruan. Dari hasil seleksi administrasi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum Pemilihan Wakil Mahasiswa (KPU PEMILWA) UII 2017, hanya ada dua bakal calon untuk FPSB yang dinyatakan lolos, yakni Firman Hidayat dari Program Studi Hubungan Internasional dan Annisa Fahmawati dari Program Studi Psikologi. Padahal ketika Pemilwa periode kemarin (2016), jumlah mahasiswa FPSB yang maju sebagai bakal caleg tingkat fakultas berjumlah dua belas orang dengan hasil akhir sepuluh orang yang terpilih.

Minimnya jumlah bakal caleg ini membuat para petinggi Lembaga Mahasiswa FPSB merasa khawatir terhadap laju perkembangan organisasi dan UKM-UKM di fakultas tersebut. Apalagi beberapa waktu lalu berhembus pula isu bahwa Lembaga Mahasiswa FPSB terancam dibekukan jika hanya dua caleg yang maju. Sebab peran DPM FPSB serta alat kelengkapannya (pimpinan dan Komisi-komisi) tidak akan berjalan baik dengan hanya dua caleg. Namun, sampai berita ini ditulis, belum jelas dari pihak mana pertama kali muncul isu tersebut. Pasalnya dalam Peraturan Dasar Keluarga Mahasiswa UII (PDKM UII) dan juga dalam Ketetapan Sidang Umum (TAP SU) XXXVII tidak disebutkan secara tegas mengenai adanya pembekuan lembaga dengan alasan sebagaimana disebutkan di atas.

Akmal Maulana Luthfi Ridlo Sanggusti, Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) FPSB periode 2016/2017, mengatakan bahwa ia mendapat kabar ancaman pembekuan dari Grup DPM FPSB. Akan tetapi, ketika dihubungi oleh Reporter LPM Kognisia, mahasiswa Psikologi angkatan 2013 itu kurang tahu lebih lanjut terkait ancaman tersebut.  Di sisi lain, Akmal, begitu sapaan akrabnya, merasa kecewa ketika melihat animo Pemilwa FPSB yang rendah. Ia bahkan mengatakan kalau memang benar Lembaga Mahasiswa FPSB, yaitu Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) sampai dibekukan, maka seluruh organisasi mahasiswa di bawah FPSB juga akan menanggung konsekuensi berat.

“Kalau lembaga beku, proses pemulihannya lagi lama, kalau kita  beku siapa yang akan mengurus dana mahasiswa? Pasti dananya bakal lari ke Rektorat terus ngambilnya bakal susah harus lewat Dekanat juga, apakah Prodi mau ngurusin? Ya tidak, itu uda beda urusan, mahasiswa ya mahasiswa!” Ujar Akmal.

Menurut Mi’rajul Akbar selaku Komisi III DPM FPSB, pasal yang secara tegas membahas ancaman pembekuan lembaga memang tidak ada di PDKM. Mi’rajul menduga hal tersebut merupakan penafsiran logika lembaga dari poin di TAP SU yang membahas kelengkapan alat lembaga. Meski begitu, Mi’rajul menuturkan jika pembekuan lembaga mungkin saja terjadi namun itu bukan menjadi sebuah pilihan.

“Kalau misalnya memang lembaga yang terlibat melihat bahwa betul-betul tidak memungkinkan jalan, maka bisa jadi ada keputusan penonaktifan lembaga, tapi sekali lagi itu bukan menjadi sebuah pilihan, karena saya yakin baik KPU maupun lembaga akan mencari solusi terkait ini,” kata Mi’rajul.

Sementara itu, Ketua DPM FPSB periode 2016/2017, Endo Faisal Ad Dehlawi, enggan memberi tanggapan lebih lanjut mengenai isu pembekuan lembaga. Kepada LPM Kognisia, Endo mengatakan masih akan memastikannya.

“Ini saya perlu pastikan lagi,” kata Endo.

Sejauh ini upaya yang dilakukan oleh pihak Lembaga Mahasiswa FPSB untuk mengatasi permasalahan minimnya caleg ialah melobi KPU serta berdiskusi dengan para petinggi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Akmal mengatakan kalau KPU kemungkinan akan membuka lagi pendaftaran bakal caleg.

“Ya ini saatnya kita merenung bersama, lembaga ini milik kita dan ada demi kepentingan kita bersama, kalau sampai lembaga beku ya HMJ-HMJ yang udah memasuki pelegalan itu bakalan susah, dan kalau itu terjadi kan berarti kita semua dholim,” pungkasnya. (Sulkhan, Zahro)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *