Oleh: Mirjak, Feerdah

(Kampus Terpadu, Senin 18/09/2017) Endo Faisal Ad Dehlawi tersenyum di atas mimbar kampanye saat menyambut para Calon Legislatif Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII). Ketika ditemui reporter LPM Kognisia, ia mengaku bahwa senyum yang dilontarkan sepanjang sambutannya itu karena dirinya merasa bahagia. Ia merasa bahagia lantaran estafet kepengurusan yang sempat diterpa berbagai isu karena hanya dua orang, akhirnya menemui titik cerah dengan adanya enam calon. Kebahagiaan kedua yang ia rasakan yaitu karena tanggung jawab yang dipangkunya sudah hampir usai. “Harapannya, apa yang disampaikan dalam kampanye bener-bener direalisasikan dalam perjalanannya nanti. Tidak kemudian pasif setelah menjabat di DPM, sehingga DPM dapat menjadi contoh yang baik bagi mahasiswa.” Tutup endo.

Ketua DPM FPSB, Edo Faisal Ad Dehlawi saat memberikan sambutan

Mi’rajul Akbar, mewakili Komisi Pemilihan Umum menyampaikan hal yang senada dengan Endo dalam sambutannya. “Yang hilang adalah kedewasaan berlembaga, kesadaran individu bahwa jalannya lembaga bukan di tangan orang lain. Anarki gampang, menghina gampang, melawan otoritas gampang, menjalankannya tidak semua bisa.”

“Caleg tidak saya kasih  ucapan selamat,” lanjut Akbar, “kalau mau menangis, lakukan sekarang! Tapi jalankan amanah sebaik mungkin karena tidak ada yang mau mengemban tanggung jawab lagi,” dengan nada tinggi dan keras.

Calon Legislatif (FPSB) Universitas

Pada Pemilwa kali ini, dua calon legislatif (caleg) universitas berasal dari FPSB, Gharby Saidi dan Yanju Sahara yang sebelumnya merupakan anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa FPSB. Keduanya sama-sama mengusung isu pergerakan mahasiswa yang saat ini mulai terdegradasi. Sambil meminta audience mengangkat tangan kiri, Yanju membuka orasinya dengan berkata, “kenapa mengangkat tangan kiri? Karena sesungguhnya kita sebagai mahasiswa selalu membela kaum-kaum yang lemah, selalu membela kaum-kaum mustad’afin.”

Yanju juga bercerita bagaimana Universitas Islam Indonesia berperan penting dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu, visi yang diangkat oleh Yanju yaitu “terwujudnya basis gerakan Keluarga Mahasiswa Universitas Islam Indonesia dengan mempertegas arah dan diaspora gerakan mahasiswa di Universitas Islam Indonesia.” Sedangkan misi yang pertama adalah mengoptimalkan serta mendorong mahasiswa untuk memahami sebuah Catur Dharma. Kedua, memporkokoh ukhuwah islamiyyah, ukhuwah basyariyyah, dan ukhuwah wathoniyyah. Ketiga, yaitu membangun sinergitas, harmonisasi dengan keluarga besar mahasiswa UII dan seluruh civitas akademika di ruang UII. Keempat, mengedepankan IMTAK dan IPTEK sebagai landasan sebuah kegiatan. Kelima, ini yang akan betul-betul diwujudkan oleh Yanju, adalah mewujudkan tata kelola organisasi di KM UII yang professional, transparan, dan accountable.

Sedangkan, Gharby dalam orasinya yang berlokasi di depan Hall FPSB itu mengatakan bahwa selama ini mahasiswa UII masih cenderung terkungkung di dapur internalnya sendiri. Untuk itu, ia berjanji akan membuat mahasiswa UII bergerak kepada isu-isu yang lebih global, seperti mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah. Namun, saat ditanya oleh salah seorang tim LPM Kognisia mengenai bagaimana langkah konkrit yang akan dilakukan untuk mengawal kebijakan pemerintah itu, Gharby menjawab akan lebih mengintegrasikan diri kepada lembaga-lembaga eksternal seperti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) ataupun universitas-universitas lain.

Terlihat para caleg sedang khidmat menyanyikan Lagu Kebangsaan

Dialog Kampanye Calon Legislatif (Caleg) FPSB

Guntur Herlambang (Psikologi 2014)

Kampanye calon legislatif FPSB diawali dengan orasi Guntur Herlambang. Ia mengawali kampanye dengan meminta audience mengepalkan tangan kiri dan mengucapkan “hidup mahasiswa!”. Dengan nada tinggi, ia menuturkan visi misinya di hadapan puluhan audience. Adapun visi-misi Guntur yaitu: “Meningkatkan etos perjuangan mahasiswa dan lembaga agar terciptanya sinergi antara mahasiswa dan lembaga dalam rangka mengurangi tingkat apatisme yang ada dalam mahasiswa”. Guntur menegaskan bahwa tugas mahasiswa adalah sebagai agent of change, agent of social control, dan iron stock. Maka, lanjut Guntur, apatisme adalah haram bagi seorang mahasiswa, “dan tentu saja, perlu kita buang apatisme dalam diri kita.”

Pada sesi tanya jawab seusai orasi Guntur, Putra Persada kemudian mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana langkah konkrit caleg nomor urut 1 itu dalam menangani apatisme mahasiswa. “Karena terkadang mahasiswa apatis itu tidak merasa bahwa dirinya apatis.” ujar pria yang kerap disapa Sada.

Guntur menganggap bahwa mereka yang tidak merasa apatis itu lebih berorientasi pada akademiknya, ingin mempertinggi IPK, lulus cepat. “Mungkin kita dapat memberi pemahaman bahwasannya dalam dunia kerja, nilai hanya sebagai prasyarat untuk memasuki dunia kerja. Tentu akan adanya soft skill, kemampuan menghadapi masalah dan sebagainya,” yang menurutnya itu tidak bisa didapatkan hanya ketika di kelas.

Walaupun Guntur sudah menjawab dengan lantang, Sada tetap merasa bahwa jawaban yang diberikan kurang bisa menjawab pertanyaannya. “itu seperti kaya bukan langkah konkrit gituloh, masih angan-angan begini-begini. Saya nanya di lapangannya gimana.”

Firman Hidayat (Hubungan Internasional 2014)

Firman Hidayat juga membahas tentang apatisme mahasiswa, yang kemudian disebutnya sebagai permasalahan utama di FPSB. Selain itu, terdapatnya sekat-sekat, perbedaan, ataupun golongan yang membuat mahasiswa tidak dapat berkontribusi terhadap kelembagaan. Ia menegaskan, “Kita semua merupakan individu yang berbeda, jadi kita gunakan persepsi subjektif, bukan kebenaran objektif.”

Berlatar belakang dari permasalahan utama yang dipaparkan, Firman menawarkan visi-misi: (1) DPM FPSB bisa menjadi pelita pergerakan yang memiliki sikap kontributif dan mampu berkolaborasi  dengan seluruh elemen FPSB, (2) menumbuhkan sikap kritis dan kreatif pada mahasiswa FPSB, (3) memperluas jaringan strategis untuk mengembangkan potensi pada mahasiswa, (4) dan membangun pergerakan seperti kajian dasar yang bersifat keilmuan yang strategis, sistematis, tetap terarah, dan terprogram.

Pada orasi tersebut, pria asal Aceh ini menekankan tentang bagaimana semua mahasiswa bisa bersatu dengan perbedaan-perbedaan yang terjadi. Entah itu karena jurusan yang berbeda maupun dengan dinamika yang berbeda dari setiap jurusan. “Kita bukan lagi berbicara masalah sentimen terhadap organisasi eksternal, tapi bagaimana kita dapat membangun persepsi yang kita agung-agungkan, yaitu perdamaian yang kita buat di FPSB.”

Saat sesi tanya-jawab dibuka, Akmal Sanggusti, yang sekarang masih menjabat sebagai Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) FPSB dengan sigap langsung mengacungkan tangan. Kemudian disusul oleh pertanyaannya terkait langkah konkrit untuk mengawal setiap kebijakan Dekanat, dimana pada setiap pemberian kebijakan tersebut tidak mengadakan audiensi pada DPM ataupun LEM.

“Legalitas di lembaga tidak jelas pada statuta UII,” jawab Firman. Ia berkata, perlu dilakukannya penegasan untuk mengadakan diskusi dengan mengikutsertakan lembaga dalam pembuatan kebijakan yang ada.

Nadia Rizky (Psikologi 2015)

Kembali mengusung masalah apatisme, Nadia menegaskan bahwa mengubah sikap apatis pada mahasiswa dapat dilakukan dengan cara melakukan perubahan pada diri sendiri terlebih dahulu, sehingga dapat memberikan contoh pada mahasiswa lainnya.

Visi yang dikemukakan oleh caleg nomor 3 yaitu: Mengoptimalisasikan fungsi DPM FPSB sebagai lembaga yang representatif dan aspiratif, sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan sinergis dengan seluruh stakeholder. Sedangkan, misinya yaitu meningkatkan peran dan fungsi DPM FPSB sebagai lembaga yang menampung seluruh aspirasi dan ide mahasiswa untuk optimalisasi yang didapat untuk kemajuan FPSB. Menurut Nadia, komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam setiap hubungan agar suatu organisasi dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Saat dibukanya sesi tanya-jawab, Zikra Ramiza (Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Hubungan International) mengambil kesempatan untuk memberikan pandangannya tentang kemungkinan mahasiswa apatis. Mereka yang apatis, menurut Zikra, kemungkinan karena melihat adanya kekurangan pada lembaga itu sendiri. Zikra kemudian menanyakan pendapat Nadia tentang kekurangan apa yang terdapat pada lembaga dan bagaimana program kerja unggulan yang membahas tentang apatisme mahasiswa tersebut.

Nadia menjawab bahwa mahasiswa menjadi malas mengikuti lembaga karena terdapat orang-orang yang menggunakan status kelembagaan untuk kepentingan kelompok. “Kita butuh suatu forum besar dimana isinya seluruh mahasiswa FPSB, dimana kita samakan tujuan kita dulu dan meninggalkan apa yang mereka pakai.” Jelas Nadia menanggapi pertanyaan Zikra.

“Kita di sini berkumpul,” lanjut Nadia “tidak ada tendensi pada golongan apapun dan bahkan pada jurusan apapun karena di sini kita sama-sama mahasiswa UII Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya.”

Annisa Fahmawati (Psikologi 2015)

Caleg nomor 4 terlihat maju ke atas mimbar yang kemudian langsung memaparkan visinya, yaitu: Internalisasi nilai-nilai integritas sebagai basis gerakan lembaga mahasiswa FPSB yang rahmatan lil álamin. “Dimana nilai integritas di sini yaitu nilai kejujuran, nilai kebangsaan, ketangguhan yang tak tergoyahkan. Kita menjadi satu bersama maju. Yang dimaksud dengan rahmatan lil álamin yaitu berguna bagi masyarakat semua.”

Sedangkan misi yang ditawarkan yaitu: (1) Meningkatkan kualitas mahasiswa di bidang keilmuan dan keislaman melalui diskusi serta kajian, (2) memberikan ide-ide kreatif demi kemajuan lembaga kemahasiswaan, (3) konsolidasi internal yang dilakukan secara intens dan komprehensif, (4) menjadikan lembaga kemahasiswaan sebagai sarana menuangkan minat dan bakat, dan sebagai sarana penyampaian aspirasi mahasiswa serta sebagai jembatan kontribusi antara mahasiswa dengan masyarakat. “Karena bagaimanapun di sini kita kuliah tidak hanya berlembaga, tetapi bagaimana kita peduli terhadap masyarakat dan berguna bagi orang-orang di sekitar kita.” Namun, saat ditanya oleh Ravilia (Psikologi 2015), salah seorang audience, terkait langkah konkrit apa yang akan dilakukan, Annisa justru malah menegaskan visi misinya kembali.

Mohammad Haidar Ali (Psikologi 2014)

Dengan mengenakan baju pantai, Haidar menyampaikan orasinya dengan suara pelan dan tempo yang lambat. Alasan Haidar mengenakan baju pantai tersebut karena selain dirinya menyukai pantai dan laut, ia menganggap bahwa “kita berada di iklim tropis.” Berpenampilan seperti wisatawan pantai, Calon Legislatif nomor urut 5 ini juga mengusung isu lingkungan dan alam.

Visi yang ia janjikan kepada puluhan audience yaitu: Optimalisasi peran lembaga kemahasiswaan FPSB guna mewujudkan kampus rahmatan lil álamin. Sedangkan misinya yaitu: (1) Meningkatkan kualitas mahasiswa FPSB di bidang keilmuan, teoritis maupun praktis, (2) konsolidasi internal yang intens dan komprehensif, (3)memberikan ide-ide kreatif untuk kemajuan lembaga mahasiswa FPSB, (4) menjadikan lembaga sebagai sarana menuangkan minat, bakat, dan penggapaian aspirasi, (5) mengembalikan budaya intelektual yang semakin memudar di kalangan mahasiswa, (6) membangun budaya mencintai alam dalam lingkup mahasiwa FPSB, alam dijaga karena kita khalifah, (7) meningkatkan sistem pengelolaan SDM di internal lembaga kemahasiswaan di FPSB, pengolaan SDM di kepanitiaan berkurang terutama event dakwah Islamiyah.

Saat sesi tanya jawab kembali dibuka, salah seorang audience yang tidak ingin disebutkan namanya, bertanya soal bagaimana gagasan konkrit tentang menjaga alam. Sebab menurutnya, kampus ini alamnya bagus, tapi mahasiswanya nggak bisa menjaga.

Kemudian pria asal Jepara ini menjawab bahwa langkah konkrit yang akan dilakukan yaitu menjaga tanaman, memperketat regulasi tentang rokok, melakukan tindakan preventif seperti penyuluhan agar mahasiswa peduli dengan alam, tidak hanya dengan manusia terutama dirinya sendiri. Karena ia merasa mahasiswa banyak mengikut kegiatan yang hanya menguntungkan dirinya sendiri, “untuk pengabdian masyarakat seperti dakwah dan mengajar kurang peminatnya.”

Aryo Kusumojati (Psikologi 2015)

Dengan menguncir rambut ke belakang, Aryo Kusumo menyampaikan visi, yaitu: Sinergi di KM FPSB untuk mengoptimalkan mahasiswa sebagai agent of change. Aryo menjelaskan bahwa agent of change adalah penggagas perubahan, “perubahan apa? Tidak ada mahasiwa tidak aktif ataupun apatis, tidak mau mendikte menjadi manusia super.

“apabila kalian mengetahui teman kalian belum mau ikut lembaga,” lanjut Aryo “ajaklah! Apabila temannya merasa lembaga itu terlalu tinggi, lalu ikutlah yang di bawahnya. Apabila temannya tidak mau sama sekali, ajaklah! Apabila temanmu itu tidak tahu menahu dan tidak ingin tahu, ceritakan dan ajak diskusi. Tidak ada kata-kata untuk mahasiswa itu tidak aktif.”

Aryo pun mengajak para audience untuk mengubah pandangan buruk terhadap lembaga terkait sentimen yang selama ini terjadi, “kita bisa memperbaiki bersama.”

Saat sesi tanya jawab dimulai, salah seorang audience bertanya apa misi yang ditawarkan. “Sebelum kita menjadi seorang penggagas atau seorang pengubah marilah kita berjalan bersama terlebih dahulu. Sebelum kalian mementingkan urusan orang lain, kalian melawan diri sendiri atau memaafkan diri sendiri. Perubahan itu dari diri sendiri baru kalian mengubah orang lain.” Jawab Aryo

Patrick

Terakhir, salah seorang mahasiswa yang tidak ingin disebut namanya, sebut saja Patrick, beranggapan bahwa setiap orang punya persepsi masing-masing. Ia berpesan bahwa alangkah lebih baik jika sasaran visi-misi para caleg tidak hanya kepada mahasiswa melulu. Ia berharap visi-misi calon legislatif juga memiliki dampak dan efek untuk masyarakat di Indonesia. Sebab, menurut Patrick, masih banyak orang di luar sana yang kekurangan dan membutuhkann pertolongan itu. ia memberikan contoh kegiatan semacam mengadakan penggalangan dana, baju bekas,”bukan sekedar tentang perut,” tegas Patrick. Menurutnya, visi-misi dari setiap caleg sudah bagus, tapi yang perlu dilihat yaitu bagaimana cara mereka merealisasikan.

 

Foto Oleh: Mirjak

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *