Di depan teras kontrakan, pagi-pagi, sambil nyerutup kopi, seperti biasa saya mengamati jalanan yang masih sejuk. Saya diam saja melihat orang-orang lalu-lalang, sambil menunggu jam kuliah. Serutupan kopi yang kedua membuat saya terdiam jauh di bawah alam sadar, ngelamun. Serutupan ketiga malah tambah membuat saya mengingat-ingat masa kecil saya.

***

Dulu, saat saya masih kanak-kanak, saya selalu bisa menemukan dimana teman-teman saya berada. Saya selalu tahu hari apa, pukul berapa, dimana mereka bermain tanpa satu pun alat komunikasi. Tanpa smartphone, grup Whatsapp, apalagi Line. Entah setan jenis apa yang menuntun saya, yang jelas itu terbukti berulang kali dan setiap hari.

Siang sepulang sekolah, saya berjalan ke selatan menghampiri mereka di rumah pohon. Kalau tidak ada, berarti mereka di lapangan, atau di depan rumah Bang Tombur, sebutan “kepala suku” anak-anak di desa saya. Sore sedikit, saya tahu pasti mereka berada di lapangan untuk main sepak bola. Kalau tidak ada, berarti mereka bermain bola di pelataran masjid. Setiap kali mendekati maghrib, jika marbot masjid, mbah Sahli, terlihat berjalan ke arah masjid, kita selalu ambil langkah seribu, kabur. Setelah lolos dari kejaran Mbah Sahli, kita saling menertawakan satu sama lain. Lalu kami pulang dan siap-siap ke masjid untuk sholat maghrib.

Sampai di masjid, kami, para anak pesepak bola pelataran masjid pasti berada di shaf paling belakang. Sebab, kami menghindar dari pengelihatan Mbah Sahli. Selesai sholat, salam, kami langsung tancap gas keluar untuk lanjut main petasan, atau main kartu, atau main kejar-kejaran sampai isya’. Setelah sholat isya’ kami pulang untuk belajar (kadang langsung tidur).

Betapa serunya hidup di zaman jadul. Generasi tanpa smartphone dan teknologi yang terlampau canggih. Bagaimana tidak, saya tidak pernah kebingungan menunggu kabar dimana teman-teman saya. Tidak pernah berharap-harap cemas dengan pesan singkat “otw nich” di Whatsapp, atau nunggu kabar di grup yang membuat saya menunda pekerjaan. Sama sekali tidak!

Berbeda dengan kids zaman now. Mau otw aja nunggu kabar di grup, atau chat. Sampai-sampai bisa telat datang rapat, atau bahkan kuliah. Saya juga merasa kasihan dengan anak zaman sekarang yang ngikutin tren full day school. Pergi pagi, pulang sore. Nggak ada waktu untuk bermain petak umpet, apalagi sepak bola sore-sore di pelataran masjid. Soalnya, pulang sekolah tidur, capek. Oh tapi tidak apa-apa, tujuannya kan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. “benar begitu kan, pak Menteri Pendidikan?”, tanya saya seandainya bertemu pak Menteri Pendidikan.

Tapi kalau menurut bapak tua yang satu ini, namanya pak Santrock, masa kanak-kanak itu adalah fase yang paling efektif untuk mengembangan aspek perilaku, kognitif, dan emosi. Nah karena manusia Indonesia dipandang kurang dalam aspek kognitif, pemerintah pengen ningkatin  lewat akademik. Jadi, mungkin dengan adanya FDS –begitu sebutan akrabnya—aspek kognitif akan berkembang, walaupun mengesampingkan aspek perilaku dan emosi. Perilaku anak terhadap lingkungan soaialnya misal, atau aspek emosi seperti melatih kepekaan anak kepada masyarakat. Ah aspek emosi dan perilaku kan tidak lebih penting dari Matematika dan IPA. Soalnya, kalau anak-anak pintar matematika dan kawan-kawannya, dia kan nanti bisa pintar banyak hal. Pintar bisnis, ulet dalam mencatat nota-nota, kerja kantoran, dan menjadi pegawai yang paling dicita-citakan orang Indonesia, PNS.

Nggak apa-apa kok. Pendidikan sekarang ini kan tujuannya cuma untuk cari kerja. Ngapain sih sok-sok an idealis kalau “belajar itu murni karena ingin mendalami ilmu”. Saya yakin, kalau masih ada orang yang idealis kaya gitu, insyaallah temennya dikit. Saat teman-temannya sibuk copas, yang penting dapet nilai A, eh si orang yang sok-sok an idealis repot-repot baca buku. Si copas udah selesai nugas, si baca buku baru sampe bab 2.

Oh iya, saya jadi ingat kata-kata pak tua asal Italia yang keluar-masuk penjara itu. Namanya Antonio Gramsci. Dia itu bilang kalau pendidikan sudah dimanfaatkan oleh para penguasa untuk menindas (hegemoni katanya dia) para rakyat kecil. Jadi, dia nyinyir gitu sama para penguasa. Dia nganggep kalau pendidikan hanya digunakan untuk menciptakan masyarakat yang mencetak uang. Ya gitu, masyarakat dianggepnya (‘nya’ nya maksudnya ke penguasa) sebagai pencetak uang. Itu orang ngelindur kali ya. Pas di penjara, mungkin dia ngelindur trus nulis buku dan nyiptain teori hegemoni kali ya.

***

Aduh, saya ini ngelamun apa, sampai mana tadi kok malah jadi kemana-mana. Ah, yaudah lah. Namanya juga ngelamun. Yasudah, sekarang buka smartphone, main mobile legend aja. (Mirza Iqbal)

 

Ilustrasi: google.com

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *