Beberapa saat ini UIIPRINT menjadi topik perbincangan yang menarik setelah salah satu berita dari Kognisia.co memuat statement kepala BSI (Badan Sistem Informasi) bahwa UIIPRINT sepi peminat. Berita ini pun langsung disusul dengan penyebaran kuisioner tentang pentingnya UIIPrint bagi mahasiswa oleh LPM Kognisia FPSB (Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya) Universitas Islam Indonesia (UII).

UIIPrint sendiri sepengetahuan saya adalah layanan cetak dan pindai berkas secara online yang memanfaatkan printer yang terkoneksi dengan internet dan tersebar di seluruh gedung di kampus UII. Pengoperasian layanan ini juga tebilang cukup mudah dan memudahkan.

Kenapa bisa dibilang mudah? karena layanan ini membuat kita dapat mencetak berkas secara online tanpa perlu memindahkan file yang dicetak ke dalam flashdisk. Gampangnya kita tinggal upload file yang ingin dicetak ke Cloud Print lalu bisa langsung dicetak di UIIprint. Dengan cara manualpun menggunakan flashdisk bisa dilakukan. Mudah toh?

Kenapa juga bisa dibilang memudahkan, semua transaksi disini menggunakan uang elektronik. Transaksi bisa mengguanakan voucher yang diisikan ke akun UIIPrint kita ataupun tinggal tempel kartu RFID (ATM atau credit card) kita di mesin UIIprint. Simplenya lagi ini seperti kita melakukan transaksi GOJEK menggunakan GOPAY. Transaksi ojek online saja bisa, masa untuk printer online tidak?

Untuk dari segi harga sendiri memang UIIPrint sedikit lebih mahal dari jasa percetakan konvensional. Saya kira ini sesuai dengan pelayanan yang sudah sangat powerfull, tentu pelayanan berbanding lurus dengan harga. Dalam layanan ini sudah mendukung percetakan kertas A4 dan A3, dan yang paling penting adalah jasa pindai/scan disini tidak ditarik biaya atau gratis dan hal-hal gratisan sangat dekat dengan mahasiswa.

Lalu, kenapa dengan pelayanan yang sangat mudah dan memudahkan mahasiswa dalam dunia yang sangat sudah sangat modern ini sepi peminat?

Kenapa dengan dunia yang saat ini sudah berserakan pelayanan yang berbasis Internet Of Things masih banyak mahasiswa yang memilih untuk menggunakan cara yang konvensional?

Disini saya akan memaparkan analisis hemat saya kenapa hal-hal tersebut masih sering terjadi. Ini murni hasil pemikiran saya sendiri dan apa yang saya rasakan di sekitar saya sejak pertamakali layanan UIIPrint diluncurkan.

Pertama, pemahaman teknologi informasi yang kurang dari mahasiswa sendiri. Layanan UIIPrint sendiri adalah layanan yang mengintregasikan antara perangkat dan pengguna secara langsung dan online. Mudah sekali bukan? Nah, disini sering terjadi pemahaman yang terbolak-balik tentang bagaimana teknologi informasi itu memudahkan bukan mempersulit. Banyak yang menganggap hal yang memudahkan ini malah mempersulit karena cara kerjanya yang baru. Sebenarnya ini sangat mudah jika kita tau bagaimana sistem ini bekerja. Sama halnya dengan ojek konvensional yang menolak untuk migrasi ke online karena dianggap sulit tanpa tahu dulu bagaimana sistemnya bekerja, lalu apa yang terjadi? Ojek konvensional menjadi tertinggal dan marah.

Kedua, rasa ingin tahu kebanyakan mahasiswa jungkir balik dengan minat membaca. Contoh saja dalam pendapat yang diberikan beberapa mahasiswa dalam berita tentang UIIPrint di kognisia.co. Pendapat mereka tentang layanan ini sungguh jauh dari apa yang sebenarnya, mulai dari pembatasan sheet dan tarif yang gratis bagi dosen serta penggunaan yang ribet. Mungkin dapat dimaklumi karena yang dimintai pendapat adalah mahasiwa baru yang mungkin baru yang belum genap satu semester ada di UII. Namun yang menjengkelkan adalah beredar gosip bahwa UIIPrint tarifnya akan ditambahkan ke tagihan mahasiswa, dimana bakal diakumulasi dalam tagihan.uii.ac.id. Entah dari mana awalnya datang gosip ini saya sendiri kurang tahu, tapi sering sekali saya dengar diantara teman-teman. Apakah panduan penggunaan tidak jelas yang diberikan dari pihak kampus? Saya kira tidak, semua hal detail sudah ada petunjuknya dalam situs resmi itsupport.uii.ac.id. Jadi apa penyebab simpang siur informasi yang beredar? Saya sedikit malu untuk menyimpulkan bahwa banyak yang tidak membaca.

Ketiga dan yang paling terakhir menurut saya kenapa layanan ini sepi peminat adalah kurang efektifnya sosialisasi yang dilakukan. Memang sudah cukup baik dan jelas informasi yang diberikan kepada mahasiswa tentang layanan ini. Namun, sebagai kids jaman now yang haus akan tampilan visual dan yang setiap harinya mengkonsumsi video tutorial singkat di Instagram. Sosialisasi yang dilakukan menggunakan broadcast email dan himbauan berupa surat tidaklah cukup menarik perhatian. Sosialisasi juga tidak melibatkan mahasiswa sendiri, dimana kita tahu mahasiswa sangat dekat dengan mahasiswa lainnya dan informasi dapat tersebar cepat lingkarannya. Dengan begitu juga kesalahan informasi bisa terjadi seperti di poin kedua. Saran saya yang harus dilakukan adalah memberikan informasi yang tepat kepada sekelompok mahasiswa dan tugas merekalah yang akan menginformasikan ke mahasiswa yang lainnya. Pertanyaannya siapa yang pantas untuk hal ini? Menurut saya lagi, yang tepat untuk diajak kerjasama untuk sosialisasi ini adalah lembaga mahasiswa. Bukankah lembaga mahasiswa dan birokrat kampus katanya bermitra.

Mungkin cukup pemaparan saya tentang UIIPrint menurut saya dan pandangan saya kenapa layanan ini sepi peminat menurut analisi hemat saya.

Manfaatkanlah layanan sistem informasi yang dananya berasal dari uang yang kita bayar di setiap tagihannya. Atau masih mau mejadi ignorant? (Hilman Maulana)

 

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika UII 2015

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *