(Kampus Terpadu, 19/10/2017) Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (Komahi), Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), Universitas Islam Indonesia (UII), mendapat amanah dari Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (FKMHII) Koordinator Wilayah 4 (lingkup Jawa Tengah dan DIY) untuk menjadi penyelenggara Guardian Of ASEAN 2017 yang tahun ini mengusung tema Security Dilemma And Human Rights Protection In Southeast Asia.

Acara yang berlangsung pada hari Sabtu-Minggu (14-15/10) tersebut memiliki dua agenda utama, yaitu Seminar Nasional yang bertempat di Ruang Audiovisual Lantai 2 Perpustakaan Pusat UII dan simulasi sidang ASEAN atau ASEAN Regional Forum di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito UII.

Wahyu, ketua panitia Guardian Of ASEAN, mengatakan target acara ini ialah untuk meningkatkan ASEAN Networking serta kemampuan leadership dan public speaking sembari menjalin tali silaturahmi antar mahasiswa HI se-Korwil 4.

“Paling penting itu menjalin silaturahminya,” Kata Wahyu.

Wahyu menuturkan acara ini memang selalu rutin diselenggarakan setiap tahunnya oleh Prodi HI yang tergabung dalam FKMHII. “UII baru pertama gabung di Korwil 4, itu kemarin di lobbying opsi pertamanya kami pegang MUN (Model United Nation) sama Model ASEAN, cuma kami lebih prefer ke Model ASEAN karena konsentrasi HI kami ke ASEAN,”ujar Wahyu.

Sementara itu menurut Dzikra Ramiza Akram Sugito, ketua Komahi 2017-2018, acara Guardian Of ASEAN ini dapat menaikkan skill sumber daya manusia Hubungan Internasional dan sekaligus menjadi kesempatan bagi Prodi HI UII untuk menunjukkan kualitasnya.“Ini bisa jadi bahan pertimbangan bagi anak SMA, karena walaupun HI UII merupakan prodi baru tapi kualitas yang diberikan merupakan kualitas terbaik dan internasional,” ucapnya.

Terdapat 26 delegasi dari 11 universitas yang menjadi peserta Guardian Of ASEAN. Lalu kegiatan apa saja yang mereka lakukan dan apa yang dibahas?

Mengkritisi Masalah Kemanusiaan di Myanmar

Seminar Nasional bertajuk Security Dilemma And Human Rights Protection In Southeast Asia menjadi acara utama di hari pertama Guardian Of ASEAN 2017. Acara tersebut bertempat di Ruang Audiovisual Lantai 2 Perpustakaan UII. Pengisi seminarnya adalah Irawan Jati, Kepala Prodi HI UII, dan Salman Al Farisi, Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Dalam seminar itu mereka membahas, antara lain, kondisi etnis muslim Rohingya di Myanmar dan sejauh mana kepedulian negara-negara ASEAN terhadap konflik kemanusiaan di negara tersebut.

Dalam konteks Myanmar, Irawan Jati menuturkan Rohingya mulai menderita setelah adanya kudeta di Burma tahun 1962. Sebelumnya masyarakat Rohingya, lanjut Irawan Jati, diperkirakan berasal dari Bangladesh. Mereka dibawa ke Myanmar oleh orang-orang Inggris untuk dipekerjakan, meski beberapa memang melakukan migrasi lewat jalan darat demi mencari penghidupan lebih baik.

“Dulu mereka (Rohingya) sebagian ada yang melakukan gerakan separatis, tetapi kemudian menyarahkan diri karena pemerintah menawarkan kewarganegaraan, lalu kudeta terjadi, mereka mendapat berbagai tekanan termasuk tidak diberikannya status kewarganegaraan,” kata Irawan Jati.

Akibat dari tidak adanya status kewarganegaraan, masyarakat Rohingya pun disebut oleh pemerintah Myanmar sebagai illegal migrants. Jati menyebut logika ini juga sampai pada tingkat ASEAN, dimana Rohingya disebut sebagai irregular movement of persons ketimbang refugee (pengungsi). “Bahasa lainnya anda adalah illegal migrants dan berarti anda melawan hukum, ini makanya ada kasus dimana pengungsi yang terkatung-katung di laut tidak ditolong,” ujarnya.

Irawan Jati mengatakan sampai saat ini, ASEAN terkesan membatasi perhatiannya terhadap masalah kemanusiaan di Myanmar. Ia berpendapat salah satu sebabnya ialah karena karakter politik ASEAN yang didasarkan pada collective Identity. Artinya ASEAN mengutamakan kolektivitas dan persatuan, sehingga negara-negara di dalamnya cenderung menghindari isu-isu yang berpotensi memecah-belah, seperti isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

“Misalnya Indonesia dan beberapa negara lain mengkritisi apa yang terjadi di Myanmar (masalah Rohingya) sebagai pelanggaran HAM. Nah Myanmar sebaliknya juga bisa mengkritisi negara-negara itu, karena pelanggaran HAM isu yang terjadi hampir di semua negara, makanya sensitif,” ujar Kaprodi HI tersebut.

Sedikit berbeda pendapat dengan Irawan Jati, Salman Al Farisi mengutarakan bahwa ASEAN sebenarnya tidak tinggal diam ketika menanggapi kasus Myanmar. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya forum Emergency ASEAN Meeting pada Desember 2016 dan forum serupa yang diadakan kembali pada tanggal bulan September 2017. Salman juga menambahkan jika ASEAN memfasilitasi dialog mengenai masalah HAM di ASEAN Intergovernmental Commision On Human Rights (AICHR).

“Memang sifat komisi di ASEAN ini dialog, seperti dulu ketika masalah Kamboja kita tidak menghadapkan pemberontak dengan pemerintah Kamboja tetapi kami memfasilitasi sebuah pertemuan,” kata Salman Al Farisi.

ASEAN Regional Forum, Mengasah Kemampuan Berdiplomasi

Agenda di hari kedua ialah ASEAN Regional Forum. Acara ini merupakan simulasi sidang yang topiknya membahas konflik di Laut China Selatan dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia dengan  Rohingya sebagai studi kasusnya. Peserta yang berjumlah 26 mahasiswa itu kemudian diibaratkan mewakili 26 negara. Dalam forum itu, mereka diuji baik secara skill diplomasi maupun skill pengetahuannya.

Dilla Mahartina, mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta semester 3, mengungkapkan forum yang diselenggarakan Komahi UII ini memberi banyak manfaat baginya, “Acara ini membantu mereka yang masih baru di dunia perdiplomasian. Soalnya materinya juga masih tentang berita yang lagi hot. Jadi udah ada gambaran gitu,” kata Dila.

Senada dengan Dilla, Rury Maretha, mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Slamet Riyadi, Surakarta, mengatakan acara itu menyuguhkan perspektif lain mengenai kasus yang menimpa Rohingya.

“Menurut saya itu informatif banget, yang sebelumnya tidak dibicarakan sama berita, yang bukan sebenarnya apa yang terjadi di Rohingya. Mereka nggak ngebahas dari satu perspektif saja,” pungkasnya.

Acara dilanjutkan dengan Gala Dinner dan Farewell Party yang juga merupakan sesi terakhir. Pada sesi ini ada penyerahan penghargaan kepada para peserta atau delegasi yang terpilih berdasarkan partisipasinya di Model ASEAN Meeting. (Hanani, Farhan Kamal, Kartika Intan)*

*Reporter Adalah Magang LPM Kognisia 2017

Foto oleh: Karel F

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *