(Kampus Terpadu, 12/11/2017) Dalam rangka mengenang tragedi wafatnya seorang aktivis Universitas Islam Indonesia (UII) bernama Slamet Saroyo pada empat November 1989 silam, Klinik Advokasi dan Hak Asasi Manusia (Kaham) UII menggelar acara diskusi publik yang bertajuk “Kilas Balik Perjuangan Slamet Saroyo: Menguak Tabir Peristiwa 1989.” Acara diselenggarakan di Gedung Hall Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UII, Yogyakarta, pada Sabtu siang (11/11). Sementara yang menjadi pemantik diskusi ialah Agus Taufik (Wakil Rektor III UII Bidang Kemahasiswaan), Mukmin Zakie (Dosen Fakultas Hukum UII) serta Purwari selaku perwakilan keluarga Slamet Saroyo.

Slamet Saroyo merupakan seorang mahasiswa UII asal Purworejo yang terbunuh di tengah investigasinya mengenai dugaan korupsi dana pembangunan Kampus Antara UII (sekarang Fakultas Ekonomi). Mantan Pembantu Rektor II UII Effendi Ari, dituding sebagai otak dibaliknya.

Sebelum terbunuh, Slamet sempat terlibat perkelahian dengan beberapa mahasiswa yang diduga adalah kaki tangan sang Pembantu Rektor. Ketika itu, ia bersama Bambang Irawan (Teknik Industri UII), Umar Soko (LEM FTSP), Heri Subagyo (DPM FH), dan M. Fajar Hadiyanto (Ketua Senat Mahasiswa), baru saja pulang dari rumah Wakil Rektor III di Perumahan Banteng. Di jalan, mereka tiba-tiba dipepet oleh sebuah mobil. Rupanya orang-orang di dalam mobil tersebut terdiri dari Samsudin Tanda selaku Ketua Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK), Karel (bendahara BKK), serta Monhadi (keponakan Effendi Ari), dan dua orang tak dikenal yang dicurigai merupakan Preman asal Lampung.

Tak pelak, pertarungan pun terjadi. Masing-masing kubu saling serang-menyerang. Celakanya, Slamet Saroyo terbunuh di tempat dengan beberapa luka tusukan yang diduga menembus jantungnya. Sementara dari pihak Samsudin, yang meninggal ialah Monhadi, setelah sempat dibawa ke Rumah Sakit akibat luka-lukanya pasca pertarungan.

Setelah peristiwa berdarah tersebut, muncul sejumlah versi cerita mengenai terbunuhnya Slamet Saroyo. Bahkan, ada beberapa kalangan yang menganggapnya sebagai pertarungan antara dua oposisi mahasiswa biasa. Benarkah demikian? Apa yang sesungguhnya terjadi sebelum pertarungan itu? Lalu, sosok seperti apakah Slamet Saroyo ini?

Berikut, rangkuman Kognisia mengenai kilas balik tragedi Slamet Saroyo sebagaimana disampaikan oleh masing-masing pembicara dalam diskusi tersebut.

Agus Taufik: “Slamet Saroyo Pantas Dicontoh Mahasiswa”

Agus Taufik mengawali diskusi dengan menceritakan suasana Fakultas Teknik pada tahun 1987-an. Kala itu, Agus menjadi Pembantu Dekan III Fakultas Teknik yang membidangi kemahasiswaan. “Embrio pro-kontra di antara mahasiswa memang sudah tampak waktu itu, di Fakultas ada permasalahan ketika pemilihan dekan kemudian di saat yang bersamaan muncul pula permasalahan menyangkut pembangunan Kampus,” kata Agus.

Dalam situasi tersebut, Agus melihat Slamet Saroyo sebagai sosok yang berbeda dari mahasiswa teknik kebanyakan. Menurut Agus, ketika dihadapkan pada suatu masalah, Slamet Saroyo cenderung melakukan penelusuran, menjaring informasi dari sumber-sumber yang baginya layak dipercaya, lalu menyusun skema analisis seraya mengumpulkan anggota tim. “Dia betul-betul menjadi stimulan pemikiran, dalam kapasitasnya sebagai ketua BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) Fakultas Teknik,” ujar Agus.

Agus memandang sikap Slamet Saroyo dalam menyusun strategi pemecahan masalah pantas dicontoh oleh mahasiswa.  “Slamet Saroyo telah memberikan pelajaran kepada mahasiswa dan seluruh civitas academica UII betapa penegakkan kebenaran itu dibutuhkan kejujuran, bahkan seringkali pengorbanan,”tutup Agus.

Aktivis Islam yang Kejawen, Keras, dan Pantang Menyerah

Diskusi selanjutnya dipantik oleh Mukmin Zakie, yang pada tahun 1985-1987 menjadi pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum sekaligus  pengurush Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Hukum. Mukmin Zakie menuturkan pada era itu ada komitmen bersama di kalangan mahasiswa bahwa tidak ada pengurus lembaga yang tidak melalui Batra (Basic Training) HMI. “Jadi semuanya di bawah naungan HMI dan ketua komisariat itu ada di atas semua lembaga intra, kalau ada ribut-ribut antara lembaga gampang diredamnya karena ada satu yang dianut,” tutur Zakie.

Zakie bercerita, pola pemikiran serta gerakan mahasiswa pada masa itu terbagi ke dalam corak kanan dan kekirian. Mereka yang biasa disebut kanan, seperti HMI, cenderung mengarah pada kegiatan-kegiatan diskusi serta klub debat. Sementara mereka yang disebut kiri lebih banyak melakukan aksi turun ke jalan. Menurut Zakie adu fisik antar gerakan mahasiswa saat itu memang sangat mungkin sekali terjadi. “Tas-tas mahasiswa dulu, isinya golok, keris, badik, celurit, apalagi pas pemilihan BKK,” kata Zakie.

Di tengah keadaan tersebut, Zakie menilai sosok Slamet Saroyo sebagai mahasiswa yang keras dan gejolak Islamnya sedang meluap-luap. Zakie berpendapat hal itu kemungkinan besar didapat oleh Slamet Saroyo usai mengikuti Batra HMI. “Loncatannya besar sekali, sedikit-sedikit jihad!’” ujar Zakie.

Meski begitu, Slamet Saroyo juga merupakan mahasiswa yang masih dilekati unsur-unsur kejawen. Zakie pernah memiliki pengalaman ketika sedang duduk bersama Slamet Saroyo di kantor BPM. Waktu itu, Slamet mengeluarkan sebilah keris dari tasnya seraya mengatakan, “ini peninggalan kakek saya!” Tak mau kalah, Zakie mengeluarkan badik peninggalan leluhurnya. Melihat badik tersebut, Slamet kemudian berkata, “wah ini, bau darah!”

“Tidak tahu punya ilmu apa tapi Slamet bilang Jek (panggilan Zakie masa itu), masukin punyamu itu, panas!” kata Zakie mencoba meniru perkataan Slamet Saroyo.

Selain itu, Slamet adalah seorang aktivis yang gigih. Saat kejaksaan menyatakan bahwa tidak ada unsur korupsi di UII, Slamet Saroyo tetap kukuh. Zakie, yang kala itu merupakan salah satu orang yang menggarap laporan kejaksaan dari hasil investigasi tersebut, mengatakan Slamet ingin ada pemeriksaan lebih lanjut dari kejaksaan.

Sebelum terjadi insiden perkelahian yang merenggut nyawanya, Slamet telah membubuhkan darahnya sendiri di atas laporan yang ia serahkan kepada ketua Koordinator Unit Aktivitas (KUA), Erwin Moeslimin. Menurut penuturan Zakie, hal itu merupakan bukti bahwa Slamet sudah siap dengan segala resiko yang akan dihadapi. “Dia bilang kalaupun saya mati, inilah perjuangan saya, saya ikhlas,” ujar Zakie lagi-lagi menocba meniru perkataan Slamet Saroyo.

Menurut keterangan Mukmin Zakie, pasca terbunuhnya Selamet Saroyo, banyak kalangan mahasiswa mendesak Badan Wakaf UII agar memecat Effendi Ari karena ia tidak bisa dijerat secara hukum. Desakan pun tercapai, Effendi Ari dipecat dari UII namun ia ditampung oleh Universitas Widya Mataram, Yogyakarta. Zakie menduga ada yang melindungi Effendi Ari.

“Wallahualam ya, dia kan dekat dengan orang nomor satu di Jogja, dia pernah menulis buku yang menceritakan Sri Sultan,” gumam Zakie.

Slamet Saroyo di Mata Sang Kakak: “Lelaki yang Menegakkan Kejujuran”

Menjelang akhir diskusi, Purwari, Kakak nomor tujuh mendiang Slamet Saroyo, bercerita mengenai lingkungan keluarga yang membentuk karakter adiknya tersebut. Sejak kecil, Slamet dididik agar selalu disiplin dan jujur. “Kejujuran yang tertanam dalam diri Slamet terbawa sampai kuliah,” kata Purwari. Sikap untuk selalu menegakkan kejujuran itulah yang menurut Purwari memberi motivasi kepada Slamet Saroyo ketika berjuang mengungkap dugaan korupsi dana di balik pembangunan kampus antara.

Purwari menuturkan, sebelum terbunuh Slamet sempat menemuinya di Jakarta guna meminta bantuan jika nanti masalah yang diinvestigasinya sampai ke kejaksaan. Ia pergi kesana menggunakan sepeda motor. Purwari tak menyangka, bahwa saat itu merupakan kali terakhir perjumpaannya dengan sang adik.

Pernah suatu kali, Slamet pulang dalam keadaan badan yang bengkak-bengkak dan memar. Ketika ditanya oleh adiknya, Slamet hanya menjawab “biasa, urusan laki-laki.” Belakangan, Purwari menemukan bahwa Slamet Saroyo sempat diancam. Keterangan tersebut didapatnya dari buku harian Slamet. “Ada secuil kertas itu tulisannya diancam agar tidak diungkap kasusnya,” tutur Purwari dengan nada suara yang sedikit bergetar.

Bagi Purwari, Slamet adalah sosok yang keras ketika memperjuangkan kebenaran. Karenanya, walaupun Ayahnya melarang Slamet untuk meneruskan langkah investigasinya, akan tetapi Slamet tetap maju. “Saya sebagai orang islam malu tidak menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya,” ujar Purwari, mengingat salah satu kata-kata Slamet.

Purwari berharap, kisah Slamet Saroyo bisa menginspirasi para mahasiswa agar selalu berani menyuarakan kebenaran dan menegakkan kejujuran. (Sulkhan)

Ilustrasi Oleh: Bang Sat

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *