Judul                   : Perempuan Berbicara Kretek

Penulis                : Abmi Handayani, dkk

Penerbit              : Indonesia Berdikari

Tahun                  : 2012

Tebal                    : 320 halaman

 

Lazimnya, kita menganggap bahwa merokok hanyalah untuk kaum laki-laki, atau kita bisa menggunakan istilah “rokok berjenis kelamin laki-laki”.  Lantas bagaimana jika yang merokok adalah perempuan? Dengan cepatnya, tanpa pikir panjang, kita langsung memberi justifikasi. Entah itu tidak baik, nakal, tidak tahu moral atau bahkan jalang. Semuanya buruk.

Membahas isu gender dalam keberlangsungan hidup seakan tidak ada habisnya. Disadari atau tidak, Indonesia masih begitu kental akan budaya patriarki. Ada semacam garis pemisah antara yang boleh atau tidak, yang baik atau buruk dan yang “sepatutnya” harus dilakukan antara laki-laki dan perempuan. Contohnya adalah perilaku merokok. Terlepas dari stigma buruk yang umumnya terjadi pada perokok, ada isu yang lebih menarik lagi untuk diperbincangkan seperti yang disinggung di atas; Perempuan Perokok.

Kehadiran perempuan bisa dibilang ada dan tiada karena ketidakadaan suara mereka. Saat kita membuat penilaian-penilaian tentang mereka, kita justru tidak pernah memberi mereka kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya. Maka buku ini menjadi semacam perwakilan dan wadah bagi kesaksian para perempuan perokok (pengkretek). Buku yang berisi kurang lebih empat puluh esai ini tidak hanya diisi oleh pandangan para perempaun perokok saja, tapi juga yang bukan perokok – dan tentunya ia perempuan.

Buku karya Abmi Handayani dkk ini berisi esai-esai yang menarik, ditulis oleh para perempuan cerdas  dengan gaya bahasa yang tidak kaku. Dari buku ini, kita melihat bagaimana perempuan berbicara tentang rokok (kretek) dan bagaimana mereka menghadap realitasnya. Selain itu, buku ini mengajak kita untuk memikirkan sekaligus juga harus merasakan apa yang mereka alami.

“Aku hanya merasa sepi di tengah masyarakat karena aku mengkretek”. Ungkap salah satu penulis dalam buku ini. Esai-esai itu dibagi menjadi empat bab agar pembaca mudah memahami  konteks yang diusung.

Bagian pertama, Ritus Keseharian. Bagian ini mengupas kehadiran rokok dalam kehidupan sehari-hari perempuan perokok khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Mulai dari rokok yang diracik sendiri, suasana kebersahajaan, sampai berdamai dalam perbedaan. Bagian kedua, Perempuan di Simpang Stigma. Bagian ini menceritakan kisah-kisah para perempuan dengan kebiasaan merokok mereka yang sampai pada stigma-stigma yang mereka hadapi, baik dari keluarga, kerabat, dan kehidupan bermasyarakat. Di bagian ini juga diangkat kisah klasik Roro Mendut dengan kretek sebagai bentuk perlawanannya. Jika sekarang perempaun perokok sering dikaitkan dengan seorang dari keluarga yang berkecukupan, tidak bermoral atau akibat pergaulan bebas, maka sosok Roro Mendut menjadi tokoh yang justru sebaliknya dari tiga stigma buruk itu.

Bagian ketiga, Pusaran Arus Zaman. Meluasnya kampanye anti-rokok, fatwa halal-haram rokok, sampai isu tersudutnya industri rokok lokal menjadi perjuangan tersendiri bagi perokok dan Manusia Indonesia yang mengais rejeki dengan bertani tembakau. Bagian ini juga menyinggung peran media yang terlalu membesar-besarkan,  bahkan salah seorang penulis di buku ini bercerita tentang “sesuatu” yang lebih bahaya dari rokok. Dan yang terakhir, bagian keempat; Kretek, Budaya, dan ke-Indonesiaan. Secara keseluruhan, bagan ini membahas seberapa besar pengaruh rokok (kretek) dalam unsur budaya dan ke-Indonesiaan.

Kita yang memandang perempuan perokok dengan tatapan “sinis”, bisa dikatakan hanya mempunyai satu skema dalam kepala sebagai hasil dari internalisasi bertahun-tahun dari berbagai media dan pandangan yang terlalu menyudutkan. Maka dengan buku ini, setidaknya kita tahu apa, mengapa, dan bagaimana perempuan perokok itu dalam kesehariannya.

Tapi, sebelum mulai  membaca buku ini, perbaiki dulu niat Anda. Bahwa membaca buku ini bukan untuk mencari kesalahan-kesalahan atau menjustifikasi, sebab buku ini hanyalah bentuk rasionalisasi atau pembelaan diri dari mereka, perempuan perokok. Membaca buku ini harus dengan pikiran terbuka. Anda hanya perlu duduk, diam, lalu pikirkan – dengan pikiran terbuka. Bila perlu, tambahkan kopi untuk pendamping.

Buku ini sama sekali tidak mengajak kita untuk merokok, alih-alih perempuan untuk merokok. Buku ini justru membawa kita memikirkan dan merasakan bagaimana posisi mereka; perempuan perokok.  Akhirnya, kita yang semula “pintar” dengan berbagai argumen rasional untuk menyudutkan perempuan perokok, mungkin saja, berubah menjadi “bijaksana” setelah membacanya. (Iqbal Kamal, Magang Kognisia 2017)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *