Dulu sekali, saya pernah sekilas memperhatikan sebuah buku di salah satu lemari Perpustakaan pusat UII. Cover biru, kelihatannya buku ini sudah berumur uzur. Di judulnya tertulis dengan tebal berwarna putih, “PERS MAHASISWA INDONESIA: PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI,” penulisnya Amir Effendi Siregar. Nama yang tidak asing di telinga saya. Amir Effendi Siregar bisa dibilang salah satu founding father dari prodi saya kini, Ilmu Komunikasi UII. Dulu, beliau aktif mengajar selama beberapa tahun sebelum akhirnya jatuh sakit karena tumor otak hingga sekarang.

Beberapa hari ini, judul buku tersebut menjadi mantra yang terus menghantui isi kepala saya, “PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI, PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI, PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI.” Dulu saya memang tidak sempat membaca buku tersebut. Berkat Mantra-mantra yang terus terngiang di kepala saya ini, membuat saya bergegas menuju Perpustakaan pusat dan mencari-cari buku tersebut. Untungnya, buku tersebut masih ada dan sepertinya hanya ada satu-satunya di Perpustakaan pusat. Dilihat dari daftar peminjam yang berada di bagian belakang buku, buku ini telah berada di perpustakaan semenjak tahun 1985. Keinginan saya saat itu hanyalah segera membawa buku ini pulang dan membacanya hingga habis. Mencoba memahami mantra “PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI.”

Jatuh Bangun Pers Mahasiswa

Amir Effendi menyebutkan pergerakan pers mahasiswa rawan untuk jatuh-bangun dalam sejarah: tuntutan untuk lulus cepat membuat kegiatan pers mahasiswa sekedar “Aktivitas tambahan.” Pengelolaan pers mahasiswa masih begitu amatir, entah itu dulu maupun sekarang.

Ada beberapa kritik lain dari Amir Effendi sebagai pengamat media terhadap pers mahasiswa Indonesia. Menurutnya, persma sendiri kerap mengelitkan organisasinya hanya untuk kalangan tertentu saja, glorifikasi diri bahwa seorang pers mahasiswa lebih daripada mahasiswa lainnya berdasarkan dari sejarah keemasan pers mahasiswa yang begitu dibanggakan. Nono Anwar Makarim, dalam kongres IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesa) pernah berkata:

… hati nurani kita terganggu karena kita mengakui di dalam sudut terpencil hati nurani tersebut bahwa sebenarnya kita bukan mahasiswa lagi.”

Salah satu kakak tingkat saya di Ilmu Komunikasi, pernah menuliskan pengakuannya selama 4 tahun menjadi seorang pers mahasiswa: menyesal pernah menjadi pers mahasiswa katanya. Glorifikasi masa lalu itu yang membuat pers mahasiswa tidak berkembang, terlalu sibuk membahas masa lalu pers mahasiswa, sedangkan tidak ada prestasi baru yang dapat dibanggakan saat ini.

Patut diakui juga, secara jumlah anggota pers mahasiswa pun terbilang sedikit. Saya pernah melihat sebuah foto anggota persma saya belasan tahun lalu, jumlahnya banyak sekali dan imbang antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan kini, jumlahnya hanya beberapa saja dan tentu selalu ada yang hilang di tengah jalan. Lebih ekstrimnya lagi, sudah banyak pers mahasiswa di Indonesia yang kini telah mati entah kenapa.

Saya sendiri sebagai anggota pers mahasiswa di salah satu Universitas di Yogyakarta mengakui bahwa kini pers mahasiswa memang sedang jatuh-jatuhnya. Kebebasan pers yang semakin terjamin pasca runtuhnya orde baru, membuat pers nasional semakin terjamin hak-haknya dan tentu saja pers mahasiswa amatir kalah saing dengan pers profesional. Sistem perkuliahan pun semakin ngebut untuk memenuhi kuota kebutuhan pekerja, ditambah semakin sedikitnya minat baca khususnya di kalangan mahasiswa menjadi faktor tersendiri dalam kejatuhan pers mahasiswa Indonesia.

Posisi Pers Mahasiswa Kini

Sejarah pers mahasiswa memang khas sebagai gerakan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter: orde lama dan orde baru. Sehingga ideologi yang terlahir pun muncul dalam bentuk perjuangan atas kebebasan manusia sebagai individu. Namun, Amir Effendi mengkritik pers mahasiswa pada saat itu (1960-1980-an) yang terlalu sarat akan politik sehingga menjauhkan esensi indepedensi pers dari itu sendiri. Judul yang dipilih sendiri begitu bombastis, salah satu yang ditampilkan di buku tersebut ialah: “PEMILU ATAU DAGELAN?” dan “PELACURAN LEMBAGA2 NEGARA.” Ini salah satu contoh dari sejarah pers mahasiswa yang patut ditinggalkan. Memang, pers mahasiswa kini lebih obyektif dalam pemberitaannya dan membiarkan pembaca untuk menafsirkan sendiri fakta-fakta yang ditampilkan. Namun saya sendiri masih melihat beberapa kasus seperti ini.

Pers mahasiswa khususnya di D.I.Y, punya kultur kritis. Pembahasannya ke-“kiri-kirian” dan tak jauh dari niatan untuk memperjuangkan hak-hak kaum marjinal. Sayangnya, kembali mengutip kata kating yang menyesal jadi persma itu: “Orangnya hanya itu-itu saja.” Barangkali, cara seperti ini perlu diubah. Nugroho Notosusanto berpendapat bahwa kehadiran pers mahasiswa sebagai kekuatan politik di Indonesia didasari karena Indonesia sebagai negara berkembang, kaum intelegensia masih begitu minim. Sebuah panggilan moral bagi kaum intelegensia untuk ikut menyumbangkan pikiran dan kepandaiannya –tentu saja di antara kaum intelegensia ialah mahasiswa. Akan lebih baik jika pers mahasiswa membentuk kesadaran kritis di kalangan mahasiswa terlebih dahulu. Percuma jika dengan panggilan moral tersebut kita menyampaikan pesan-pesan kebenaran, tapi tidak ada aksi yang terlahir dari situ.

PATAH TUMBUH, HILANG BERGANTI

Di satu saat, saya pernah mendengar secara langsung dari seorang mahasiswa baru tentang alasan kenapa ia tidak ingin lanjut di pers mahasiswa, katanya “terlalu berat, terlalu pers banget.” Ini bukan salah dia, ini adalah sebuah tamparan bagi kakak-kakak tingkatnya dia yang mungkin juga termasuk saya sendiri. Kenyataannya, hampir semua teman-teman pers mahasiswa yang saya kenal pernah mengalami kejadian yang sama.

Saya melihat mahasiswa baru perlu beradaptasi secara perlahan dengan kultur kritis ini. Ibaratnya seperti ngopi, tidak bisa langsung dicekokin begitu saja. Perlu dihirup dulu, seruput sedikit-sedikit, diresapi perlahan. Menurut pribadi saya sendiri, 12 tahun pendidikan di Indonesia memang tidak dirancang untuk membentuk kesadaran kritis. Kita dididik untuk patuh dan tunduk pada pendidikan gaya bank, gaya yang sama dengan gaya ngecekokin di pers mahasiswa.

Perlu diakui, banyak juga yang memilih untuk hilang seperti karena lebih menyukai acara-acara seremonial, kegiatan di luar kampus, atau fokus di akademik. Bukan berarti, hal ini dijadikan alasan untuk berhenti berjuang sambil membayangkan indahnya kejayaan pers mahasiswa di masa lalu. Kini zaman telah berubah, tapi penindasan-penindasan terhadap kaum marjinal masih terjadi. Saya menemukan makna tersendiri dibalik mantra “PATAH TUMBUH, HILANG BERGANTI” yang kerap menghantui saya ini.

Di perjalanan, banyak yang patah dan hilang. Namun, di setiap yang patah akan selalu ada yang tumbuh, di setiap yang hilang akan ada yang mengganti. Entah itu seribu, atau hanya satu. Ini yang perlu diyakini dengan teguh oleh pers mahasiswa saat kini.

Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Kavling10 berkata:

Pada masanya, mungkin kami juga akan hilang atau patah. Kepercayaan bahwa yang patah akan tumbuh dan yang hilang akan berganti akan tetap kami ilhami. Pasti akan digantikan oleh siapa saja, dan tidak menutup kemungkinan bahwa harapan yang baru tumbuh itu adalah kamu, atau orang disebelahmu. Selamat datang tunas baru, selamat bertumbuh.” (Satya Rizky)

 

Referensi

 

Khafid, Sirojhul. (2017). Menyesal Jadi Anak Persma. https://himmahonline.id/2017/08/22/menyesal-jadi-anak-persma/

Sihombing, Asry P. Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti. http://kavling10.com/2017/08/yang-patah-tumbuh-yang-hilang-berganti/

Siregar, A. E. (1983). Pers Mahasiswa Indonesia: patah tumbuh hilang berganti. Karya Unipress.

 

 

Ilustrasi oleh: Satya

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *