Suasana pagi itu cukup terik. Meski bekas-bekas penggusuran masih menyisakan tanah yang lembab dan berair. Pepohonan yang tumbang berserakan bersama puing-puing rumah menghiasi Desa Palihan sejauh mata memandang seraya menjadi saksi untuk mereka yang tetap bertahan melawan penggusuran. Tersisa, kurang lebih, 38 rumah warga Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kulon Progo yang belum digusur. Para penghuninya memilih tak berkompromi dengan proyek Angkasa Pura 1 (AP1) yang hendak membangun New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Pada hari Senin (04/12/2017) warga yang masih bertahan dibantu para relawan penolak bandara Kulon Progo, melakukan aksi di depan kantor BP Angkasa Pura sekitar pukul 09.00, tepat ketika puluhan aparat yang mendampingi aksi penggusuran tengah melangsungkan apel pagi. Sementara itu, tak jauh dari tempat apel pagi, alat-alat berat, seperti ekskavator dan bulldozer, yang sejak beberapa waktu lalu digunakan untuk merobohkan rumah-rumah serta meluluhlantakkan lahan telah berdiri kokoh. Seolah mengawasi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Salah seorang warga berjalan di depan aparat yang hendak melaksanakan apel pagi. Foto oleh: Rizal Purnawan

Di depan kantor Angkasa Pura, warga dan para relawan kemudian mengadakan mujahadah bersama yang dipimpin oleh ulama cum aktivis agraria, Muhammad Al-Fayyadl atau yang juga akrab disapa Gus Fayyadl.

Mujahadah warga dan para relawan dalam aksi menolak penggusuran, dipimpin Muhammad Al-Fayyadl. Foto oleh: Rizal Purnawan
Muhammad Al-Fayyadl tengah menenangkan salah seorang warga yang menangis ketika memanjatkan doa. Foto oleh: Rizal Purnawan

Terik matahari yang cukup menyengat tak lantas melemahkan warga dan para relawan dalam mengikuti mujahadah, kendati mereka mesti duduk tanpa alas di atas aspal. Tak lama kemudian keseriusan membaca sholawat dan doa-doa mujahadah tersebut disambut dengan komando dari salah seorang aparat yang menjadi pemimpin apel.

“Hari ini kita akan menggusur rumah-rumah yang sudah kosong, ingat hanya rumah-rumah yang sudah kosong,” perintahnya.

Mendengar perintah tersebut, para relawan kemudian memberi instruksi kepada warga yang masih bertahan agar nanti tidak keluar rumah. Maka begitu mujahadah selesai, warga di dampingi relawan kemudian segera kembali ke rumah masing-masing untuk berjaga. Sementara itu, Muhammad Al-Fayyadl singgah di rumah Sofyan, salah seorang warga yang memilih bertahan walau terancam penggusuran.

Selang beberapa saat kemudian, ekskavator dan Bulldozer mulai digerakkan. Bersiap untuk menggusur lagi.

Alat-alat berat digerakkan, rumah-rumah mulai dihancurkan. Foto oleh: Rizal Purnawan
Suasana prosesi penggusuran. Foto oleh: Rizal Purnawan
Aparat mengawasi jalannya penggusuran. Foto oleh: Rizal Purnawan

Menghadapi Intimidasi yang Semakin Intens

Rumah Sofyan cenderung bernuansa sejuk dibanding kawasan sekitarnya. Barangkali karena di sekitar pekarangan rumahnya masih ada pepohonan yang rimbun. Padahal di luar pekarangan rumahnya, nyaris sudah tidak ada lagi pepohonan maupun bangunan yang berdiri. Semuanya telah habis digusur.

“Dulu di sini juga pasti sejuk sekali ya?” Tanya Fayyadl sambil melihat luar pekarangan rumah Sofyan.

“Iya Gus,” Sofyan membenarkan.

Muhammad Al-Fayyadl tersenyum sejenak, lalu masuk ke dalam rumah Sofyan bersama Jumari, paman Sofyan, dan Kardiyono, tetangga Sofyan yang juga terancam digusur. Di dalam rumah, sudah menanti istri Sofyan dan bibinya. Mereka juga ditemani oleh salah seorang relawan.

Sofyan termasuk salah seorang warga yang menolak pendirian bandara. Ia, yang berprofesi sebagai petani, bersama keluarganya memilih bertahan karena baginya ada banyak ketidakadilan dalam proyek bandara di Kulon Progo. Kepada tim reporter LPM Kognisia, Sofyan lalu mengatakan sebagian besar warga dipaksa meninggalkan rumah dan lahan mereka. Padahal banyak yang tidak tahu-menahu soal kesepakatan Angkasa Pura secara konteks hukum. Apalagi, menurut Sofyan, hampir semua warga di desa ini sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) untuk tanah mereka.

“Kalau bicara soal Pakualaman Ground itu cuma sedikit di pinggiran pantai sana,” kata Sofyan.

Nur Arifin, salah satu pemuda yang menolak bandara, menuturkan bahwa dulu banyak warga yang melawan.  Namun gencarnya intimidasi yang dilakukan pihak Angkasa Pura mengakibatkan perlawanan warga makin melemah. Bahkan, organisasi Wahana Tri Tunggal (WTT) yang sedianya dibentuk untuk memperkuat perlawanan pun akhirnya terpecah-belah.

“Biasanya mereka ngancem begini ‘kalau misal tanahmu kegusur dan nggak dapat ganti rugi gimana?’ atau ‘kalau tanahmu nanti nggak laku gimana yang lain udah dapat uang,’” tutur Nur Arifin yang kala itu juga singgah di rumah Sofyan.

Intimidasi dan iming-iming uang, menurut Arifin, juga membuat ketua WTT, Martono, memilih untuk menyerah. Arifin bercerita, Martono dikabarkan mendapat tawaran uang satu koper dengan syarat mesti mengumpulkan massa pro bandara.

“Tapi sampai sekarang dia juga ngeluh katanya belum ada dikasih uang satu koper itu,” ujarnya.

Sampai hari ini, warga yang menolak penggusuran, masih mendapat berbagai intimidasi dari pihak Angkasa Pura.  Intimidasi tersebut bahkan mulai meningkat sejak Senin lalu (27/11). Kardiyono bercerita bagaimana ia menyaksikan kemunculan sosok-sosok bertopeng yang mencongkel jendela dan pintu beberapa warga. Mereka datang bersama aparat yang mengawal penggusuran. Tak berhenti sampai disitu, aparat juga menggali lubang yang cukup dalam di jalan menuju Masjid. Seolah berupaya menghalangi mereka yang hendak beribadah.

“Saya tidak habis pikir, wong mereka (para aparat) saja kalau ibadah di masjid ini, kok tega-teganya dibuat lubang besar begitu,” kata Kardiyono.

Kardiyono paling tidak bisa terima tatkala aliran listrik rumahnya diputus. Sebab anaknya akan segera menghadapi ujian. Oleh karena itu, anaknya butuh penerangan untuk belajar.“Saya sampai marah-marah ke orang yang memutus aliran listrik, tapi mereka cuma diam saja dan pergi,” kata Kardi.

Kardiyono mengatakan ia akan terus mempertahankan rumah dan tanahnya. Ia menegaskan bahwa sikapnya tersebut bukan saja karena ketidakadilan pihak Angkasa Pura, melainkan juga soal lingkungan. “lingkungan hidup di sini harus kita jaga, karena di sini saya dan warga kalau nanam-nanam enak, bisa di tegalan (pesisir) ataupun di sawah,” ujarnya.

Baik Sofyan, Nur Arifin, maupun Kardiyono,merupakan warga yang hidup dari hasil pertanian. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan mereka jika nantinya lahan mereka digusur. Nur Arifin bahkan mengaku bisa menghasilkan pendapatan bersih sebesar Rp. 25 juta selama 50 hari dengan menanam semangka.

Sementara itu, berbicara mengenai pemindahan lokasi, menurut Kardi warga hanya diberi ganti sejumlah uang. Meskipun sudah disediakan tanah, namun tanah itu mesti dibeli oleh warga. Pembangunan rumah pun harus dengan biaya dan tenaga warga sendiri. “Itu juga beberapa masih belum diberi uangnya, saya sendiri kurang tahu soal hal tersebut,” pungkas Kardi.

Sampai berita ini ditulis, intimidasi terhadap warga semakin intens. Dikabarkan Selasa tadi (05/12), sejumlah warga dan relawan ditahan oleh aparat. (Sulkhan)

Liputan Bersama: Mirza Iqbal, Rizal Purnawan, Satryo Kusuma Wibowo

 

Foto headline oleh: Mirza

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *