Semesta berkisah tentang perjalanan rindu manusia. Menjelajahi hati yang memendam rasa dan tenggelam dalam lautan cinta. Meski cinta bukanlah keabadian, tetapi memilikinya adalah suatu kebahagiaan tersendiri yang berbeda. Berbicara cinta, ialah rasa yang selalu disebut-sebut manusia. Nama yang sama, namun percayalah kepada setiap hati, bahwa rasa setiap cinta itu berbeda. Makna yang beralur indah tak semuanya memiliki cerita indah di baliknya. Mudah saja alur berbelok sesuai penempatan takdir kehidupan.

Malam yang begitu dingin, menghantarkan kegelisahan di sudut jendela. Seorang gadis mendekat di bibir jendela sambil menatap langit malam yang indah. Matanya sayu. Wajahnya pias diterpa lampu yang redup, ditambah sinar rembulan yang malu-malu menampakkan sinarnya.

“Mendekatlah rembulan, ajak aku menjelajahi angkasa dan kulihat dunia dengan leluasa. Agar aku mampu meninggalkan kenangan masa lalu dan tak berharap lagi bertemu dengannya kembali.” Desah seorang gadis lugu di bingkai jendela. Memeluk lutut.

Tidak banyak yang bisa diharapkan dari pertemuannya dengan seseorang yang dinanti. Dua tahun lamanya mereka berdua harus terpisah. Rindu membawa keduanya mengaduh pada alam. Setiap kali rindu datang, tidak ada komunikasi antara keduanya. Seseorang yang jauh disana entah mengapa sulit dihubungi. Menggelesahkan hati selama dua tahun lamanya. Tidak tahu kapan pergi dan kembalinya. Hati gadis di bibir jendela itu kini merintih, lebih sesak.

Hingga jatuh tertidur. Ditemani tampias sinar rembulan yang sendu.

***

Esok harinya, pengantar pos mendatangi rumahnya saat hari menjelang siang.

“Permisi…”

“Ya?” Jawab gadis itu. Lugu.

“Ada kiriman untuk saudari Reyna.”

“Oh ya, saya sendiri.”

“Kami sangat memohon maaf atas keterlambatan tersampaikannya kiriman ini. Sebab, terselip di bawah meja pengecekkan petugas kami.”

“Ya, tidak apa-apa.”

Gadis itu, bernama Reyna. Ia seolah tidak lgi memiliki harapan tentang hari ini ataupun hari esok. Baginya, semua kesempatan dan waktu yang tersedia sama saja. Pada akhirnya, akan mengecewakan jiwanya lagi.

 

 “Untuk Reyna, sahabatku.

Apa kabar? Sungguh aku minta maaf jika selama ini aku tidak bisa menghubungimu. Aku merindukanmu, tapi aku tidak bisa melakukan apapun selain mengadu pada bintang, rembulan, malam, dan segala isi semesta ini. Aku tidak menghamba pada mereka, Tuhan pasti mengerti.

Surat terakhirmu, aku telah menerimanya. Paman yang membacakan suratmu.

Rey, aku menangis mendengar isi suratmu. Sungguh, aku tidak sekalipun membencimu. Dulu atau hingga saat ini kita tetaplah sahabat. Meski akhirnya, sebelum aku pergi kau membenciku karena aku melempar bara api saat permainan di kampung kita, dan akhirnya mengenai matamu. Aku kira itu tidak parah akibatnya. Ternyata, dugaanku salah. Kau terluka, karena kesalahanku.

Aku memang pergi saat itu juga. Jauh ke tempat yang aku sendiri tidak mengenali tempat itu.

Tapi aku kembali, Rey…

Asal kau tahu.

Aku kembali saat aku mendapat kabar bahwa kau terancam buta karena ulahku. Aku kembali untuk mendonorkan kedua mataku. Agar akhirnya, kau bisa melihat rembulan kembali.Seperti kegemaranmu yang lalu. Kau menulis puisi dengan nyata. Melihat apa yang kau tulis dengan kedua matamu yang bisa melihat dengan jelas. Rupa huruf dan kalimat demi kalimat yang kau lukis.

Ya, Rey.. aku sekarang buta. Tetapi, percayalah padaku, semua yang terjadi bukanlah kesalahanmu. Inilah perjalanan takdir hidup kita yang harus dijalani dengan baik. Mungkin, akulah yang harus meminta maaf karena membuat keluargamu sempat menangis dan merasa putus asa melihat keadaanmu saat itu. Maaf. Sungguh, Rey. Maafkan aku.

Dan aku tidak tahu kapan aku kembali untuk menemuimu. Bukan aku melarikan diri, Rey. Kelak, kau akan mengetahuinya sendiri.

Satu yang pasti, Rey. Sahabat tetaplah sahabat. Sahabat terbaik bisa jadi adalah ketika engkau mengenang segala hal tentang kita dan menerimanya dengan tulus. Lalu kau tersenyum mengingat perjalanan kita.

 

Sahabatmu, Mentari.

 

 

Sebenarnya, hal itulah yang semakin membuat Reyna merindu lebih dalam. Kepergian Mentari membuatnya tak sempat untuk mengucapkan terima kasih. Bukan seharusnya Mentari yang meminta maaf kepadanya, Reyna merasa bahwa dirinyalah yang seharusnya meminta maaf atas segala kemarahannya dan ucapan yang barangkali kurang berkenan di hati Mentari. Tetapi, waktu dan ucapan tidak bisa terulang kembali. Masa lalu harus diterimanya.

Sinar matahari semakin menyengat kulit. Panas sekali. Reyna tidak berpikir lama. Ia lihat alamat pengiriman paket yang baru saja ia dapat dari pengantar pos. Menyiapkan segala macam keperluan dan berpamitan kepada ibunya yang sedang beres-beres di dapur. Tidak banyak yang ia bawa, hanya beberapa pasang pakaian, uang saku, alat mandi, dan alat sholat seadanya. Setelah makan siang, Reyna berpamitan kepada ibunya.

Satu jam berlalu, Reyna baru turun dari angkot yang berhenti di sebuah terminal kota. Perjalanan masih jauh. Tersisa berpuluh-puluh kilometer lagi. Akses dari desa ke kota tidak terlalu bagus, tapi patut disyukuri perjalanan masih bisa dilalui dengan selamat. Reyna menunggu bus tujuan Yogyakarta.. Berjam-jam lagi ia harus sabar menunggu pertemuan. Ya, kalau bertemu Mentari. Kalau tidak? Tetapi Reyna berusaha menepis segala pikiran buruk. Ia yakin akan segera bertemu dengan Mentari. Seolah perkiraannya tidak akan meleset.

***

Di rumah, ibunda Reyna sangat khawatir. Karena hari itulah pertama kalinya Reyna pergi seorang diri untuk perjalanan yang sangat jauh dan tempat yang pertama kali ia datangi. Pastilah ada kebingungan yang Reyna rasakan. Ibunda hanya bisa berdoa agar anaknya selamat sampai tujuan. Sementara Reyna terus melihat ke arah jendela. Matanya mulai mengantuk. Siang hari pukul 14.00 waktu yang tepat untuk tidur. Tetapi hatinya menolak. Setiap kali terkantuk-kantuk, ia akan segera bangun dan duduk tegap. Memaksakan diri untuk terus terjaga.

Seseorang di samping Reyna adalah seorang laki-laki usia 40-an. Guratan wajahnya terlihat ramah dan memiliki jiwa penyayang. Melihat Reyna yang terlihat sedikit gelisah, membuatnya berkeinginan untuk bertanya, “Maaf, kalau boleh aku bertanya, mengapa kau terlihat gelisah dan sendu seperti itu?”

Reyna sedikit terkejut. Laki-laki disampingnya tersenyum ramah. Wajahnya meneduhkan.

“Oh—e, anu…”

“Hm?”

“Aku ingin bertemu sahabatku. Sudah dua tahun kami tidak bertemu.”

“Berkomunikasi?”

“Tidak lagi—sejak selama kami berpisah dulu. Terakhir kali mendapat kabar, adalah tadi siang saat suratnya sampai ke tanganku. Padahal, surat itu ia kirimkan sebulan yang lalu. Tapi, karena surat itu terselip di bawah meja petugas, jadi baru sampai ke tanganku tadi siang. Ah—itu bukan masalah, Pak. Memang takdirnya seperti itu.”

Laki-laki tersebut mengangguk paham. Berusaha empati. Ia berusaha memahami bahwa diantara Reyna dan sahabatnya memiliki sesuatu yang tak biasa. Sebuah cerita yang menyadarkan suatu hal.

“Malam itu, aku melihat rembulan begitu redup—“ Laki-laki tersebut mulai bercerita. Setelah beberapa jam perjalanan. Reyna mendengarkannya dengan tenang. Berusaha menerka. Melihat wajah yang mengekspresikan kehilangan.

“Istriku telah meninggal dunia. Tidak lama setelah anakku sakit. Maka, perjuangan berat dimulai saat itu. Anakku harus mendapatkan penanganan secepat mungkin. Ginjalnya rusak. Sementara keinginannya untuk menemaniku begitu kuat. Ia sangat paham bahwa aku kesepian karena istriku—ibunya, telah meninggal. Tapi, aku memaksanya untuk beristirahat. Karena ia tidak boleh terlalu banyak aktivitas. Semakin sakit tubuhnya semakin membuat hatiku perih. Hingga akhirnya, seseorang membuatnya kembali normal. Mendonorkan ginjalnya. Membuatnya kembali bahagia. Sehat seperti dulu. Tapi, pendonor itu kini sakit-sakitan. Aku sangat mengenang jasanya. Harusnya aku berbalas budi. Tapi, ia tidak pernah meminta apapun. Hmm.. Melihatnya senang bermain dengan anak-anak, akhrinya, aku mengajaknya ke tenda darurat di pinggiran kota. Tempat anak-anak pemulung dan anak yang terbuang belajar. Mereka diurus dan dididik disana. Seadanya. Lalu, setelah beberapa kali ke sana, pendonor itu akhirnya memintaku untuk membangunkan sebuah sekolah dan tempat tinggal untuk mereka. Semuanya, pendonor itu yang mengurus. Ia yang mengajar dan mengatur segala keperluan. Hingga akhirnya, aku memaksa mengirimkan beberapa orang untuk membantunya di sekolah dan panti. Sekarang, pendonor itu sangat bersemangat dan bahagia, lebih dari sebelumnya. Mungkin sebahagia aku mengenalnya.”

Reyna mengangguk pelan. Kisah memilukan namun bermakna kebahagiaan untuk hati yang suci. Nurani manusia cenderung kepada kebahagiaan dan kebaikan. Laki-laki di samping Reyna menyeka sudut matanya. Terisak. Reyna paham, berat baginya untuk merasakan kehilangan sekaligus penderitaan yang terus menjalari kehidupannya.

Hingga tak terasa, hari sudah semakin malam. Bus yang Reyna tumpangi tidak memiliki gorden. Ia melihat ke jendela tanpa bosan. Gelap memang. Tapi, cukuplah baginya untuk melihat bayangannya di dinding kaca. Setelah berulang kali mengulas cerita yang ia dengar dari laki-laki di sampingnya. Reyna memutuskan untuk membuka mulut. Mengungkapkan kegelisahan hatinya.

“Aku kembali melihat rembulan. Benda angkasa yang menjadi temanku berdialog tentang rindu. Aku dan rembulan seperti dua orang sahabat yang terpisah oleh jarak, namun masih dapat selalu bersua melalui keterikatan jiwa. Bercerita tentang perjalanan dan isi hati. Sekitar dua tahun yang lalu, kebencian melandaku terhadap sahabat terbaikku sendiri. Setelah terjadi kecelakaan kecil yang merusak mataku. Tetapi, aku tidak menyangka dia kembali demi untuk menebus kesalahannya. Mendonorkan kedua matanya untukku. Agar aku bisa melihat rembulan seperti sekarang, menulis puisi, dan segala hal yang bisa kulakukan dengan melihatnya secara nyata. Aku sangat berterima kasih. Sungguh, perjalanan ini adalah untuknya. Aku merindukan sahabatku itu. Aku ingin membawanya pulang ke kampung halaman. Bermain seperti dulu. Aku khawatir, penyebab dia pergi adalah karena rasa bersalahnya kepadaku atau karena kemarahanku kepadanya. Aku kehilangan sahabat terbaikku karena diriku sendiri.”

Reyna menangis. Seirama dengan hujan yang turun. Rintikkannya mengalir di kaca jendela dengan anggun. Diterpa pantulan lampu penerang jalan. Membuat suasana menjadi berbeda. Seolah alam menyatu dengan kesedihan di hatinya. Berbalut duka. Menyampaikan pertanda pada semesta bahwa ada seorang manusia yang terluka, berduka, dan kehilangan.

“Kau ada saudara di Yogyakarta?”

“Tidak ada.” Jawab Reyna. Sambil menggeleng pelan.

“Tapi, Nak. Kau akan sampai di sana saat larut malam. Kau akan tidur dimana?”

“Entah. Mungkin aku bisa tidur di emperan masjid atau toko. Mungkin….”

“Baiklah, jika kau percaya padaku, kau boleh ikut aku. Disana ada anakku, dia sangat ramah. Kau akan menjadi teman barunya.”

“Terima kasih. Tawaran yang kuterima.”

Sesampainya di rumah. Reyna di sambut oleh seorang gadis lucu seusianya.

Baru saja pintu dibuka, seorang anak berteriak lantang, “Ayahhhh…..”

Mereka berpelukan. Reyna tersenyum. Laki-laki tersebut memperkenalkannya kepada anaknya yang ada dalam rangkulannya.

“Naima..” Gadis itu menjulurkan tangannya, ramah.

“Reyna..”

Mereka berdua bersalaman. Naima diperintahkan Ayahnya untuk mengajak Reyna ke kamar. Menyuruhnya beristirahat. Naima cepat mengangguk. Semangat menggandeng tangan Reyna. Asyik! Naima mendapat teman baru.

Reyna masuk ke kamarnya. Naima sibuk menjelaskan segala hal ini dan itu. Reyna mengangguk paham sambil tersenyum. Ia sangat beryukur bertemu dengan teman seperti Naima. Ramah, cerdas, lincah, dan sangat sopan.

“Oh ya Reyna, lima belas menit lagi aku tunggu di ruang makan ya. Kita makan bersama. Di lantai satu. Oke?”

“Ya, Naima.”

Akhirnya, lima belas menit berlalu. Reyna segera turun. Di sapa oleh Ayah Naima dan anaknya. Duduk berdampingan dengan Naima. Suasananya begitu berbeda.

“Naima, buah-buahannya kau tinggalkan begitu saja. Tolong bawakan ke meja makan!” Suara seorang wanita terdengar dari arah dapur.

Naima bergegas ke dapur dan mengambil buah-buahan yang telah dipotong dadu. Reyna melihat Naima hingga tenggelam di balik pintu.

Reyna seperti pernah mendengar suara wanita yang ada di dapur. Suara itu tidak asing lagi. Mata Reyna tidak lepas menghadap ke arah dapur. Ia berharap wanita itu muncul.

Benar, Reyna mengenalnya.

“Mentari!!”

Reyna bergegas memeluk Mentari yang sedang baru saja melepas celemek. Mentari sontak terkejut. Berhamburlah keduanya dan saling berpelukan.

“Reyna…. Akhirnya kita bertemu..”

“Kau jahat, Tari. Kau tidak mengabarkanku kalau kau disini.”

Mentari menjelaskan sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh laki-laki ramah di mobil bus itu, yang sekarang ada di ruang makan.

“Kalian sudah saling kenal? Jadi, pendonor yang kau ceritakan adalah Mentari, Reyna?”

“Benar, Pak. Dia adalah sahabat terbaikku.”

“Dia juga sahabat terbaik anakku, Rey. Aku senang kalian bertemu kembali. Rey, dialog rindumu telah utuh kembali. Rembulan itu hadir di hadapanmu saat ini.”

Reyna menangguk.

Setelah makan malam, Mentari mengajak Reyna ke halaman rumah. Berbaring di taman rumput. Bersama menatap langit. Menunjuk bintang-gemintang menjadikannya berpola sesuai imajinasi mereka. Tertawa. Meski Mentari tidak akan bisa melihat keindahan malam karena buta.

“Aku dan rembulan adalah dialog rindu. Entah mengapa, rembulan seolah setia mendengar segala rintihanku dan desah kerinduanku padamu, Tari. Selalu ada kata rembulan setiap malam-malamku. Karena dialah yang kuanggap temanku. Bisa jadi, ratusan hari yang telah kita lewati, kita berdua menatap rembulan di saat yang sama. Pada saat kita merindukan seseorang yang berarti dalam hidup. Seperti dirimu, Tari.”

Mentari menggenggam tangan Reyna, menangis.

“Maafkan aku, Rey. Aku takut jika aku kembali, masa lalu yang dulu terkenang kembali. Kau masih membenciku. Aku merasa bersalah, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tetap disini. Bersama keluarga baruku.”

“Pulanglah… Pulang bersamaku. Semuanya sudah berlalu. Kita sambut perjalanan baru.”

“Terima kasih, aku ingin tetap di sini. Mengertilah. Kota ini telah membuatku merasa semain hidup. Akan lebih indah jika kita kembali berdialog bersama rembulan. Bedanya, sekarang, kita bisa saling bercerita lewat media apapun. Sahabat tetaplah sahabat. Tidak ada yang hilang dari hati. Kau, adalah kenangan yang tak akan terlupa, Rey.”

“Baiklah, aku mengerti. Kau benar, sejauh apapun kita pergi, sahabat sejati tidak akan terganti.”

Malam itu, sama seperti malam yang lalu. Dingin dan sepi. Tetapi, mala mini berbeda. Kegelisahan telah sirna dan kerinduan telah terobati. Pertemuan dalam bingkai persahabatan yang indah. Tidak ada kata janji dan pengkhianatan. Persahabatan yang indah selalu menerima dan setia.

(Ditulis oleh: Rostika Hardianti, Mahasiswa Psikologi 2016 dan Ketua Komunitas INSPIRALOVA Chapter Yogyakarta)

Ilustrasi oleh: Bang Sat

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *