(Yogyakarta, Minggu, 24/12/2017) LPM KOGNISA mengadakan event tahunan yang diselenggarakan pada pada 23-24 Desember 2017 bertempat di Kelas Pagi Yogyakarta. Event yang bertajuk “Lomba Esai dan Fotografi Kognisia 2017” tidak hanya mengadakan lomba esai dan fotografi saja, tetapi juga pameran dan talkshow fotografi.

Event yang diselenggarakan selama 2 hari tersebut dibuka untuk umum dan Arbain Rambey merupakan salah satu bintang tamu dalam event tahunan LPM KOGNISIA. Ia juga mengisi materi talkshow fotografi dengan tema ”Memotret Isu Sara”. Arbain Rambey merupakan salah seorang fotografer senior dari Harian Kompas. Menurut penuturan Arbain, sepak terjangnya di dunia fotografi bukan hanya di lingkup nasional, tetapi sudah merambah ke dunia internasional.

Event dengan tema “Memotret Isu Sara” diambil karena belakangan ini marak sekali persoalan-persoalan yang menyangkut suku, agama, ras dan antar golongan. “Masyarakat sebagai konsumen, terkadang tidak bisa menerima berita-berita tersebut dengan rasional, dengan kata lain mereka belum menggunakan logikanya dan hanya menelan mentah-mentah apa yang diberitakan,” ungkap Arbain Rambey.

Dalam diskusi bersama Arbain Rambey, disimpulkan bahwa peran nyata jurnalis foto maupun tulis juga sangat dibutuhkan untuk mengolah suatu berita dengan benar. Pada kenyataannya informasi yang diberikan kepada netizen tidak sesuai dengan kondisi riil-nya. Berorientasi pada keuntungan adalah hal yang terjadi pada saat ini, menurut penjelasan Arbain. Seolah informasi adalah bisnis dan kebenaran informasi dijadikan sampingan dalam memberikan suatu berita, dan tidak memikirkan dampak apa yang akan ditimbulkannya, imbuhnya.

“Memoto merupakan hal berbahaya karena sebuah foto hanyalah mencomot sedikit dari suatu rangkaian adegan panjang” ucap Rambey. Perbedaan persepsi orang terhadap foto itu bisa saja diakibatkan pengalaman setiap kehidupan tiap orang itu tidak sama. Arbain Rambey juga menegaskan bahwa fotografer jurnalis juga harus bisa menulis dan merekam dengan jelas dalam otak mereka kejadian apa saja yang telah terjadi.

Memotret isu sara, lanjut Arbain, juga kerap kali mengandung hal-hal yang tidak terduga. Kehati-hatian menjadi modal pertama dalam menyeleksi kejadian apa yang layak diberitakan. Jika seorang fotografer melakukan kesalahan, dia tidak mempunyai hak untuk untuk dituntut dan diberikan hukuman. Tetapi, redakturnya yang memiliki tanggung jawab atas kesalahan fotografernya.

Pembahasan mengenai fotografi junalistik yang santai, menarik, interaktif, dan sedikit buka-bukaan oleh Arbain Rambey ini menuai berbagai respon oleh para audiensnya. Salah seorang audiens menjelaskan bahwa dirinya selalu mengikuti talkshow fotografi yang diisi oleh Arbain. Keramahan dan kesederhanaan yang terlihat dari sosok Arbain Rambey ini yang membuat para audiens sangat menikmati dan berharap di lain waktu memiliki kesempatan untuk terus berbagi pengetahuan pengalamannya bersama Arbain tentang fotografi jurnalistik. (Zakiyyah Ainun N.)

 

*penulis adalah magang LPM Kognisia FPSB UII 2017

 

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *