HIMAPSI Salah Tempat Eksis

Panitia ospek  Semarak Pekan Ta’aruf Mahasiswa Penuh Makna (Serumpun) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, beberapa waktu lalu sempat mengalami suatu permasalahan dengan Himpunan Mahasiswa Psikologi (Himapsi). Permasalahan tersebut muncul lantaran Himapsi telah memasuki area serumpun serta mengumpulkan sejumlah Mahasiswa baru Psikologi 2016 tanpa adanya koordinasi terlebih dahulu dengan pihak panitia.

Kejadiannya bermula ketika seluruh rangkaian acara serumpun telah selesai, yakni sekitar pukul 17:30 Waktu Indonesia Barat. Pada saat itu, kondisi para peserta serumpun beserta panitia tengah asyik ber-selfie-ria di beberapa titik venue Serumpun. Momen selfie-ria tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Himapsi yang masih berstatus organisasi eksternal, untuk masuk ke area venue guna mengumpulkan para peserta serumpun dari Psikologi angkatan 2016. Padahal meski rangkaian  acara telah selesai, area Serumpun saat itu masih berada dibawah tanggung jawab panitia berikut para peserta. Maka karena tindakannya tersebut, Himapsi yang dikepalai oleh M Sakti Prawiranegara sempat di datangi pihak panitia Serumpun sebab tidak meminta izin terlebih dahulu.

Namun dengan alasan menyambut adik-adik jurusannya, Himapsi kemudian meminta waktu barang beberapa menit untuk sekedar bertegur-sapa dengan mahasiswa baru Psikologi 2016. Selain itu mereka juga mengaku sudah diperbolehkan memasuki venue oleh salah seorang anggota tim Advokasi Serumpun, Yanzu Sahara, yang mana juga merupakan Legislatif terpilih tingkat fakultas. Namun saat diklarifikasi, Yanzu berujar apabila dirinya hanya membolehkan Himapsi menyambut mahasiswa Psikologi 2016 semata, dalam artian bukan memasuki venue Serumpun. Di sisi lain Yanzu juga berdalih bahwa saat berbicara dengan pihak Himapsi, Ia sedang tidak dalam keadaan sebagai Legislatif terpilih maupun anggota tim Advokasi.

“Penyambutan kan mempunyai makna dan teknis yang berbeda-beda. Saya tidak tahu-menahu kalau soal teknis Himapsi seperti itu karena waktu itu kondisi sedang ngobrol santai.” jelas Yanzu.

Akibat dari sikap dan pernyataannya tersebut, Yanzu akhirnya dinilai telah melanggar kesepakatan tim Advokasi karena memperbolehkan Himapsi memasuki area Serumpun. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Bagus Restu Dewanto selaku Koordinator Komisi A Serumpun, yang mana menegaskan bahwa ketika seseorang tengah memegang suatu jabatan politis, maka baik di tempat kerja maupun dirumah, jabatan tersebut akan tetap tersemat dalam dirinya.

“Analoginya begini, seorang bupati itu baik ditempat kerja ataupun dirumah, pasti masih dianggap bupati oleh masyarakat. Nah begitu juga saudara Yanzu, saya rasa pernyataannya tidaklah relevan” jelas Bagus.

Masalahnya ialah aturan dalam Serumpun tersebut yang tidak membolehkan organisasi eksternal masuk ke dalam area tersebut. Firman Hidayat selaku koordinator Komisi B yang memiliki wewenang mengatur tata tertib acara Serumpun, mengatakan bahwa aturan yang ada di ospek Serumpun merupakan aturan yang mengacu pada Surat Keputusan Universitas yang menyatakan bahwa selama kegiatan pengenalan kampus ataupun kegiatan-kegiatan ospek sedang berlangsung, maka tidak boleh ada organisasi eksternal kampus yang masuk.

Sejalan dengan Firman, Ketua Steering Committee (SC) Serumpun, Dzikra Ramiza Akram Sugito, juga menyayangkan tindakan dari pihak Himapsi yang masuk ke venue serumpun begitu saja. Pasalnya, meski mereka merupakan organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan, tetap saja statusnya masih belum dilegalkan oleh pihak Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Meski begitu, Dzikra menilai bahwa hal ini terjadi dikarenakan tidak ada komunikasi yang baik diantara mereka.

“Waktu itu Himapsi belum dilegalkan secara sah oleh DPM FPSB, nah bila mengacu pada peraturan yang ada, maka artinya Himapsi tidak bisa masuk ke dalam Serumpun” ujar Dzikra.

Berdasarkan kesepakatan dari pihak-pihak yang terkait, maka pada hari Sabtu tanggal 3 September 2016, diadakanlah mediasi guna mencari penyelesaian masalah tersebut. Dalam mediasi tersebut Himapsi kemudian dinyatakan bersalah dan dikenakan sanksi berupa pernyataan maaf secara lisan dan tertulis. Sementara untuk pihak Yanzu sendiri juga akan diberikan sanksi, meskipun belum ada keterangan cukup jelas mengenai apa wujud sanksi serta ketentuan waktu pemberian. Namun Hans Mahenta Fadhli selaku Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) FPSB periode 2015/2016 mengatakan bahwa sanksi untuk Yanzu diturunkan oleh ketua DPM yang lama dan nantinya akan dibacakan oleh presidium sidang.

Sakti Prawiranegara selaku ketua Himapsi mengakui kesalahan tersebut berasal dari pihaknya karena telah salah memahami kalimat Yanzu dan semena-mena memasuki area Serumpun. Selain itu, ia juga sempat mengira bahwa Himapsi sudah termasuk organisasi internal. Sementara saat audiensi berlangsung, Sakti baru tahu jika Himapsi belum dilegalkan.

“Ini murni kesalahan saya dan rekan-rekan, jadi saya meminta maaf semoga dengan hal ini kami bisa belajar agar tidak melanggar aturan dan kami juga menjadi sadar untuk lebih giat mencari tahu aturan-aturan yang ada di kampus.” tutupnya.

 

Reporter : K. A. Sulkhan, Satryo Kusuma W, Retty Ulfasari dan Suci Yolianda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *