Sampahku dan Sampahmu ‘Jangan’ Menjadi Sampah Kita

Oleh : Afrizal Ulinnuha

“Siapa yang bertanggung jawab ?!”, kata salah seorang kepada salah seorang juga, atau kata salah satu organisasi kepada organisasi, atau teman juga, atau pejalan kaki kepada pengguna jalan, atausuperman kepada superwati juga, kolor ijo belum ada lho. Jawaban salah seorang itu biasanya sungguh tegas dan individual, serta punya gaya yang khas sekaligus kecut “Ini bukan sampahku, jadi bukan tanggung jawabku” sambil memberi informasi milik siapa sampah itu. Ah, sudah jadi budaya saling menyalahkan, nilai kasih sayang kebersamaan telah luntur entah kemana.  Sejak kecil hanya hanya dididik tentang benar dan salah, pilih dan conteng, lulus atau tidak, pilihlah yang benar jangan salah. Segala sesuatu yang diukur sebatas benar dan salah tanpa memperhitungkan baik dan buruk, serta keindahan dan jelek atau keestetikaan. Mungkin itu hasil dari standar-standar berbasis benar dan salah, kelulusan dipandang modal utama masa depan! Dasar kolor ijo! Sehingga segala cara diubah, segala macam niat diubah, demi kelulusan itu sendiri sambil sedikit-sedikit melupakan niat. Ternyata saya baru mengerti pelajaran menggambar atau melukis yang sering kali malah dianggap tidak sebagai pelajaran, tetapi lebih dari sekedar hiburan melepas penat dan langsung membuat fresh, begitulah kira-kira ibu guru saya menyampaikannya di ruang kelas apa adanya sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Kini ibu guru tercinta saya itu baru saja dipanggil Tuhan di tahun dua ribu sepuluh. Ya Tuhan jangan sampai ibu guruku tidak disampingMu, awas kalau tidak, he. Justru disitulah adanya ajaran estetika dan etika atau bahasa sederhananya : baik dan buruk, indah dan jelek. Menggambar!

sumber: pixabay.com

Disesampahan juga begitu, nasib pikiran kita hampir sama ketika menjumpai segerombolan sampah bahkan secuil sampah pun, “sampahnya siapa ini ?” dengan nada ringan tetapi berat di mata. Semisal hanya nilai benar dan salah yang hanya menjadi acuan, maka jawaban orang benar dan salah “bukan sampahku atau bukan sampahmu”, mungkin juga ini bukan negeriku atau negerimu? bukan rumahku dan bukan rumahmu ?. Wajar jika persoalan apapun segala sesuatunya hanya berhenti pada benar dan salah dimungkinkan selalu ada peristiwa yang susah dipahami, dimengerti, dilihat, dan akan menjadikan kebenaran itu sendiri terkaburkan. Jika memang ini negeriku, negerimu, rumahku, rumahmu, bukankah berarti “ini sampah kita ?” tanggung jawab bersama tanpa melupakan siapa yang sebetulnya membuangnya, ntah itu saya atau kamu ataukah kita dan mereka. Mudah-mudahan sikap dari nasib pikiran kita bisa bergeser terhadap segala sesuatu yang tidak hanya dipandang dari standar-standar benar dan salah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *