Kartini Sang “Pemula”

Dua puluh satu april menjadi tanggal yang didedikasikan khusus untuk memperingati dan mengapresiasi perjuangan salah satu tokoh pergerakan wanita Indonesia yang dengan cita-cita, kemurnian hati, serta keluasan berpikirnya telah memberi warna perubahan terhadap kehidupan para wanita di Indonesia, dia adalah Raden Adjeng Kartini. Sosok yang seringkali disebut-sebut mampu membebaskan wanita Indonesia dari feodalisme yang mengekang dan budaya patriarki yang menindas. Kartini, dalam keadaan gelisah secara intelektual, telah menggugah nurani banyak pihak melalui tulisannya dalam surat-surat yang kemudian dikumpulkan dan dibukukan oleh JH Abendanon dengan judul “Door Duisternis tot Licht,” dimana oleh Armijn Pane buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Kartini menikmati masa pendidikan sekolah hanya sampai pada usia 12 tahun. Ia tidak dapat melanjutkan sekolahnya karena harus menjalani tradisi pingitan yang pada masa itu merupakan salah satu adat istiadat Jawa yang tak berani dilanggar para bangsawannya. Inilah salah satu unsur yang melatar belakangi munculnya embrio-embrio pemikiran  perjuangannya terhadap persamaan gender atau yang lebih dikenal dengan nama emansipasi wanita (Sudrajat, 2007). Suatu hal yang perlu digaris bawahi, stigma kritis akan emansipasi wanita tidak hanya terlahir dari pengalaman dan kondisi yang dialaminya semata. Namun di sisi lain, Kartini pada dasarnya merupakan wanita yang cukup terpelajar di zamannya. Dia sadar meskipun dia tidak dapat melanjutkan sekolah itu bukan suatu halangan yang menghambat dirinya untuk mencari ilmu.

Oleh karena itulah selama dalam masa pingitan, Kartini mulai menyibukkan diri dengan melahap berbagai macam buku seperti karya Goekoop de-Jong Van Beek ‘Roman Feminis’, Max HavelaarDe Stille Kracht karya Louis Coperus, ditambah lagi dia juga membaca beberapa surat kabar seperti De Locomotief. Akibatnya wawasan kartini akan dunia luar semakin meningkat. Ia mulai memahami kehidupan wanita di dunia barat beserta kemajuannya, dimana hal itu semakin menginspirasi wanita asal Jepara ini untuk membebaskan kaum wanita pribumi dari keterpurukan akan kelas sosial dan ilmu pengetahuan.

Kartini pun mulai menuliskan curahan hatinya terhadap kondisi kaum wanita pribumi kepada teman-temannya yang ada di Belanda. Selain itu, Kartini juga mengirimkan beberapa tulisan ke majalah wanita De Hollandsche yang berkantor di Belanda (Suryanto, 2007). Satu hal yang  menarik dari Kartini adalah dia mampu mengemas tulisan curahan hatinya dengan menggunakan kalimat-kalimat yang sastrawi sehingga dapat menggugah hati dan mampu menuai tanggapan positif dari para pembacanya.

Karena sering bertukar surat dengan teman-teman di luar negeri itulah akhirnya Kartini  mulai dikenal oleh sejumlah intelektual belanda. Diantaranya adalah anggota Volksraad Belanda bernama Van Kol.  Dialah yang melihat potensi Kartini dan menyarankan kepada Kartini untuk melayangkan permohonan beasiswa belajar ke Belanda. Pada sidang Tweede Kamer, Van Kol dapat meyakinkan Menteri Belanda untuk memberikan beasiswa kepada Kartini. Namun sangat disayangkan niat Kartini untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda batal setelah dipengaruhi oleh Abendanon.

Pada tahun 1903 Bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat memperistri Kartini. Hidup sebagai seorang istri tidak lantas menyurutkan semangat perjuangan Kartini untuk memperjuangkan hak-hak kaumnya, wanita. Dia mulai merintis sebuah upaya pendidikan wanita yang pada awalnya hanya terdiri dari 2 orang siswa dan kian lama makin bertambah. Namun bukan  pujian yang ia dapatkan, tetapi justru berbagai macam kritik  karena hanya mengajarkan pendidikan kepada kalangan bangsawan saja.

Padahal alasan Kartini lebih memprioritaskan perempuan bangsawan di awal gerakan literasinya ini  dikarenakan bangsawan pada masa itu merupakan panutan bagi rakyat. Alasan Kartini memilih kaum bangsawan sebagai awal pergerakannya yaitu agar lebih mudah baginya menyebarkan paham emansipasi, karena kaum bangsawan memiliki dasar pendidikan dan wawasan yang baik sehingga nantinya masyarakat hanya tinggal mengikuti mereka (Arif dkk, 2014).

Kartini kemudian membangun sekolah di Rembang. Perlahan sekolah yang didirikannya makin  berkembang dan memperoleh banyak dukungan serta apresiasi hingga pada tahun 1910 dibentuklah Vereeniging Kartinifonds yakni Perkumpulan Dana Kartini yang bertujuan menghimpun dana untuk Kartini. Dana yang telah di himpun nantinya akan digunakan untuk membangun sekolah-sekolah seperti Sekolah Kartini di Semarang (1913), Bogor (1914), Batavia 1914, Madiun (1914), Malang (1915), Cirebon (1916), dan Pekalongan (1916) (Suryanto,2005).

Pada akhirnya, emansipasi wanita yang digaungkan kartini membuahkan hasil nyata dan perlahan mulai mengubah paradigma sosial masyarakat terhadap kaum wanita, khususnya pada aspek pendidikan. Disamping itu, Kartini juga tidak lupa untuk mengajak seluruh kaum muda sebangsa dan setanah air, baik itu pria maupun wanita agar terus menjujung tinggi solidaritas sosial dan semangat persatuan kebangsaan.

Karena kepeduliannya itulah, Kartini menjadi sosok wanita yang sangat gigih dalam memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia pada masa masih menjadi Hindia Belanda. Terlahir sebagai seorang bangsawan tidak lantas membuatnya lupa akan penderitaan kaumnya. Keterbatasan pendidikan juga tidak menghalangi perjuangannnya. Kartini sadar kaum perempuan tak boleh terus menerus tersubordinasi. Salah satu jalan perjuangan yang ditempuh Kartini adalah membangkitkan daya literasi perempuan, membuat mereka tak hanya berakhir sebagai penghangat laki-laki di peraduan tetapi juga menjadi insan berpendidikan. Kenyataan inilah kiranya yang membuat Pramoedya Ananta Toer (1985) kemudian menyebut angkatan Kartini sebagai angkatan pertama yang menyerap gagasan emansipasi wanita dari Eropa dan menjadi ‘pemula’ bagi gerakan sosial baru terkait hal tersebut.

Sudah selayaknya kita para generasi penerus Kartini tidak hanya melihat keberhasilan-keberhasilannya semata, tetapi juga harus dapat menelaah dan mengimplementasikan hal-hal apa yang telah membuat perjuangan putri bangsawan itu berhasil. Untuk itu, kita mesti menyusuri jejak literasi beliau, terlebih agar kita bisa menemukan jalan dalam membela kaum yang tertindas di negeri ini. Sebagaimana semangat Kartini dalam kegelisahan dan kesedihannya yang ia utarakan dalam salah satu surat untuk Nyonya Abendanon:

 “Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingan yang abadi” (Kartini kepada Nyonya Abendanon, 4 September 1901). (Satryo Kusuma Wibowo)

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Mukhrizal Arif., dkk.2014. Pendidikan Posmodernisme. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Toer, Pramoedya Ananta. Sang Pemula. Jakarta: Hasta Mitra

Sudrajat, 2007, “Kartini : Perjuangan dan Pemikirannya”Mozaik Jurnal Vol 2, No 1 (2007) , http://journal.uny.ac.id/index.php/mozaik/article/view/4489, (didownload tanggal 19 April 2017).

Sasroatmojo, Suryanto., (2005), Tragedi Kartini, Yogyakarta: Narasi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *