Program KKN Luar Jawa dibawahi Labma, Firza Pertanyakan Kesiapan UII

Sejak pertengahan 2016 lalu, tiga orang pegiat Laboratorium Mahasiswa (Labma) Univesitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, yakni Firzananda (Direktur Labma), Ade Rahmah Putri Nasution (sekretaris Labma) dan Muhammad Abdul Rauf Lamada (Sekretaris Jenderal Labma), berupaya merealisasikan program Kerja Kuliah Nyata(KKN) di luar pulau Jawa. Propgram KKN tersebut rencananya akan menyasar daerah Gampong Sah Raja, Kecamatan Pante, Aceh Timur.

Firzananda menuturkan bila program KKN luar Jawa tersebut berangkat dari pandangan bahwa kegiatan pengabdian mahasiswa mestinya terjun ke daerah-derah yang tingkat kesejahteraannya masih relatif rendah. Dalam hal ini, Firza menilai desa-desa di daerah Jawa sudah banyak yang sejahtera bila dibanding desa di pulau lain, khususnya dalam masalah pendidikan. Karena sudah bukan hal yang asing lagi kalau daerah Jawa merupakan pusat Pendidikan di Indonesia. Untuk itu, ia bersama dengan rekan-rekannya pun berinisiatif menyusun program KKN di luar Jawa.

“Walaupun di Jawa masih ada daerah-daerah yang membutuhkan bantuan, tapi lebih sedikit jumlahnya daripada di luar. Aku sempat tanya sama yang sudah KKN juga, gimana daerah KKN mu? Mereka jawab aman-aman aja, listrik aman dan lainnya juga aman,” tutur Firza.

Sejak awal, Firza mengaku bila daerah yang hendak dijadikan tujuan KKN adalah antara pulau Kalimantan dan pulau Sumatera. Namun, karena Firza sendiri merupakan orang asli Aceh, dia mendapatkan link di daerah asalnya tersebut, tepatnya di Gampong Sah Raja, Aceh Timur. Daerah ini juga dinilai sangat cocok untuk mewujudkan realisasi KKN itu sendiri, yaitu pengabdian terhadap masyarakat.

Firza menuturkan bahwa jalanan didaerah yang akan dijadikannya KKn itu masih berupa tanah merah yang susah dilalui jika terkena hujan. Aksesnya juga 2 hinnga 3 jam, latar belakang pendidikan penduduknya pun mayoritasnya SD. Sementaraitu yang berpendidikan SMP dan SMA hanya ada di dusun sebelahnya yang tidakterlalu dekat dan tidak terlalubegitu jauh. “Disana juga cuman ada satu SD,” ungkapnya.

Sementara itu, Ade Rahmah Putri Nasution menjelaskan bila program KKN luar Jawa tersebut akan berjalan di bawah divisi community and development Labma UII yang membidangi pengabdian masyarakat, Ade menerangkan hal ini dikarenakan DPPM (Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) UII menganjurkan agar program KKN luar Jawa tersebut sebaiknya berada di bawah naungan organisasi.

“Katanya agak sulit kalo nggak dari organisasi, per-orang kan susah. Nah, berhubung kita di Labma itu ada divisi community and development yang emang dibidang pengabdian masyarakat, akhirnya program ini di bawah divisi itu,” kata sekretaris Labma yang juga sekaligus menjabat sekretaris program KKN luar Jawa tersebut.

Sejauh ini, sudah ada 17 mahasiswa yang menurut Ade telah tercatat mengikuti program KKN luar Jawa. Sedangkan untuk proses realisasinya sendiri saat ini, mahasiswa yang mengikuti program tersebut masih mengumpulkan dana dari perusahaan-perusahaan.

Meski begitu, program KKN luar Jawa yang kemudian dibawahi oleh Labma membuat Firzananda mempertanyakan kesiapan UII dalam menerima kegiatan yang ia susun bersama rekan-rekannya tersebut. “secara umum sih sebenarnya UII siap, tapi nggak tau alasannya kenapa sehingga mereka belum mengiyakan 100%,jadi program ini kita yang pegang dulu untuk proyeksi kerja 3 tahun pertama,” pungkasnya. (Karel dan Merlina)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *