Orangtua Harus “Melek Pendidikan Anak”

Satu tahun yang lalu, saya mendengar banyak orang mengkritik berbagai macam sistem pendidikan di Indonesia, tanpa menyertakan solusinya. Pada tahun yang sama, saya mencoba memahami permasalahan pendidikan yang ada di sekitar saya. Menggunakan ilmu yang saya dalami saat ini, yaitu Psikologi, saya mencoba memahami permasalahan Pendidikan melalui sudut pandang yang sedikit berbeda. Berawal dari sinilah, saya bersama empat rekan saya mulai melakukan observasi dan wawancara ke beberapa Sekolah Dasar di Yogyakarta untuk menggali pola-pola permasalahan yang sebenarnya teradi. Tentunya sebagai bentuk nyata atas kepedulian terhadap Pendidikan Bangsa Indonesia. Tidak hanya kritik tanpa solusi.

Baik, mengapa saya memilih Sekolah Dasar? Sebab, saya menganggap bahwa fase kehidupan yang ideal untuk menanamkan nilai-nilai dasar adalah ketika masa anak-anak, sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi. Seorang ilmuan psikologi bernama Santrock juga mengatakan bahwa usia sekolah dasar merupakan masa dimana seorang anak mengalami perkembangan emosi, kognisi, dan perilaku.

Setelah saya bersama keempat rekan saya turun ke lapangan, kami menemukan banyak sekali permasalahan yang terjadi pada siswa SD. Seperti lupa mengerjakan PR, tidak bisa mengerjakan soal di depan kelas, dan  tidak mendengarkan guru. Guru sendiri mengaku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi mengatasi hal tersebut. Kemudian, kami mewawancarai salah seorang anak di SD tersebut. Kami menanyakan apa saja kegiatan yang dilakukan di rumah, bagaimana belajarnya di rumah, apakah orangtua mengontrol. Jawabannya adalah tidak ada.

Miris! Saya tersentak mendengar hal tersebut. Setelah kami analisis lebih lanjut, ternyata memang permasalahan tersebut terjadi karena kurangnya kontrol dari orangtua. Lalu, kami bertanya kepada pihak sekolah terkait ada atau tidaknya upaya yang dilakukan untuk mengajak orangtua bekerjasama. Jawabannya pun tidak ada. Pertemuan guru dengan wali murid hanya ketika pengambilan rapor atau ketika anak memiliki masalah serius seperti berkelahi. Bermula dari sinilah kami mengetahui bahwa sinergi antara orangtua dan guru seringkali tidak diperhatikan. Bagaimana mungkin pendidikan yang tidak tersinergi seperiti ini mampu memajukan bangsa. Oleh karena itu, peran orangtua sangat penting bagi perkembangan belajar anak.

Orangtua selaku lingkungan terdekat yang mengetahui segala kebutuhan anak seharusnya mampu menjadi seorang teman sekaligus figur panutan. Banyak kasus kekerasan sesama anak, pornografi, pelecehan seksual karena anak tidak memiliki hubungan emosional yang kuat kepada orangtua. Begini, saya beri contoh. Apabila ada seorang anak yang secara emosional kurang dekat dengan orangtuanya, maka anak tersebut mungkin tidak akan bercerita ketika memiliki masalah. Atau jika anak selalu dimarahi ketika menceritakan masalahnya, maka anak tersebut akan ragu bercerita. Disinilah pentingnya orangtua, orangtua sebagai figur lekat anak yang harus memahami permasalahan anak. Memberikan kenyamanan secara psikologis, agar orangtua menjadi pilihan anak dalam menumpahkan segala masalahnya.

Namun sekarang ini banyak diantara kita yang merasa lebih nyaman menceritakan masalah kepada orang lain. Oleh karena itulah, bagi orangtua, calon orangtua, siapapun, kita harus melek terhadap kondisi anak. Namun, muncul banyak pertanyaan, seperti bagaimana jika kedua orangtua anak tersebut adalah orangtua yang sibuk berkarir hingga jarang bercengkrama dengan anak. Bahkan, setiap harinya anak dititipkan kepada pengasuh. Tentunya hal tersebut akan mempengaruhi kepribadian dan perilaku anak, karena jika tidak diatasi dengan cara tertentu, anak akan cenderung meniru figur lekatnya, yaitu pengasuh, bukan orangtuanya.

Kaitannya dengan Pendidikan, orangtua terkadang acuh dengan proses belajar anak, baik di kelas maupun di rumah. Orangtua kadang tidak menanyakan bagaimana kegiatan di kelas tadi siang, apa yang diajarkan guru, bisa mengikuti pelajaran atau tidak, mematuhi perintah guru atau tidak, dan semacamnya. Seperti yang sudah saya singgung di atas, bahwa seakan-akan orangtua hanya menitipkan anak kepada sekolah, lalu orangtua merasa tidak punya tanggung jawab lainnya. Ada pula orangtua yang memasukkan anaknya di sekolah yang mahal, full day, dsb. Lantas, apa artinya jika membayar mahal-mahal tapi bukan berarti tanggungjawab memperhatikan Pendidikan anak itu selesai. Orangtua juga bertanggungjawab terhadap berbagai aspek psikologis anak, tidak hanya akademik, tapi juga kognitif, perilaku, dan juga emosi.

Selama ini, pendidikan di Indonesia belum terlalu menyorot hal tersebut. Sistem Pendidikan di negeri ini hanya berfokus pada murid dan guru. Buktinya, wacana kurikulum 2013 yang ditawarkan hanya berbasis student centered learning, artinya pembelajaran berfokus pada siswa, bukan sekedar guru memberi ceramah. Saya setuju, ini sistem pendidikan yang konstruktivis. Namun ada sisi-sisi lain yang perlu dipahami. Bermula dari analisis tersebut, saya kemudian mengajak teman-teman saya untuk mencari solusi atas permasalahan ini. Singkat cerita, kami melakukan penelitian kuasi eksperimen yang menguji pengaruh hubungan orangtua-guru dan keterlibatan siswa di kelas.

Dalam penelitian ini, kami mencari solusi berdasarkan masalah yang ada. Kami membangun komunikasi antara orangtua dan guru setiap harinya melalui pesan singkat atau SMS (short message system). Intervensi ini dilakukan selama kurang lebih 2 bulan. Pertama kami mengukur keterlibatan siswa sebelum kami berikan perlakuan berupa komunikasi orangtua dan guru melalui media SMS. Kemudian kami mengukur kembali setelah adanya perlakuan tersebut, lalu pengukuran ketiga kami lakukan untuk melihat apakah keterlibatan siswa masih stabil meningkat, ternyata tidak berubah secara signifikan. Hasil perlakuan tersebut membuktikan bawha, keterlibatan siswa SD meningkat hingga 40%. Hasil ini juga didukung dengan wawancara kepada subjek setelah penelitian selesai dilakukan. Banyak orangtua yang mengatakan sangat senang ketika guru setiap hari memberikan kabar perkembangan anak di kelas. Guru juga memberikan informasi terkait topik yang harus dipelajari anak untuk menghadapi pelajaran hari esok. Guru siswa SD pun mengatakan senang bahwa anak menjadi semakin rajin mengerjakan tugas, di kelas mendengarkan, dan bisa menjawab soal. Orangtua mengaku merasa terbantu dengan adanya pengiriman SMS ini, dari yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Orangtua juga bisa menceritakan masalah belajar yang dialami anak secara pribadi kepada guru melalui SMS.

Dengan begitu, sistem pendidikan di Sekolah Dasar ini bisa bersinergi, antara anak, guru, dan orangtua. Sebab, manusia merupakan makhluk yang multidimensional, artinya, dalam konteks ini adalah perilaku anak di rumah juga mempengaruhi perilaku anak di sekolah, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itulah, sudah saatnya orangtua mulai melek dengan kondisi anak. Jangan terus-menerus mengandalkan pihak lain, pemerintah, sekolah. Setidaknya memulai dari hal terkecil yang bisa kita lakukan. Bukan sekedar kritik tanpa solusi. (Mirza Iqbal)

 

Ilustrasi oleh: Osi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *