Mengapa Kampanye Melawan Hoax Penting?

Di era Global Village ini (meminjam istilah Marshall McLuhan), tentu kebanyakan dari kita sudah sangat akrab dengan yang namanya internet (interconnection-networking). Sebagai sebuah teknologi komunikasi yang canggih, internet harus diakui sangat membantu kita dalam mengakses ragam informasi baik yang skala lokal maupun internasional secara mudah, cepat, serta efisien. Bayangkan saja, untuk mengetahui apa yang hari ini terjadi di Jakarta atau bahkan Amerika, kita tak perlu repot datang langsung kesana, kita juga tak perlu berlangganan koran harian yang datang di waktu tertentu. Cukup duduk di ruang tamu, connect internet, lalu search info yang ingin kita ketahui dengan menulis kata kuncinya di Google dan Sim Sala Bim! Seperti sulap, kita hanya tinggal memilih mau memasuki portal mana. Semua sudah tersedia.  Bisa diakses kapan saja dan dimana saja.

Apalagi sekarang, internet rasanya semakin ajaib saja sejak lahirnya berbagai media sosial (medsos) seperti facebook, instagram, line, whatsapp, Blakcberry Mesengger, Twitter, dan lain sebagainya. Medsos membuat kita bisa berinteraksi dengan banyak orang serta memungkinkan adanya feedback secara langsung dan kontinyu walaupun tidak berada di tempat yang sama. Dengan jangkauan yang luas, berbalut konten menarik, dan mudahnya penggunaan fasilitas yang ada, media sosial tak butuh waktu lama untuk bisa ‘merakyat’ dan  menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Sayangnya, perkembangan teknologi komunikasi yang demikian pesat ini pada titik tertentu justru menjadi problematika baru bagi masyarakat Indoneisa. Ibarat pisau dengan dua sisi. Di satu sisi setiap orang bisa mengakses berbagai informasi global, berjejaring, mengenalkan potensi wisata daerah dan lain sebagainya. Sedangkan di sisi lain, masyarakat kita, diakui atau tidak, masih rentan terhadap efek-efek negatif internet. Salah satunya, yang paling gawat, ialah mudahnya masyarakat kita terpengaruh dengan terpaan info-info hoax.

Tahun 2014 silam, ketika Indonesia memasuki Pemilu Presiden untuk yang kesekian kalinya, kita bisa menyaksikan bagaimana info hoax hidup dalam berbagai agenda kampanye hitam. Misalnya, isu bahwa Jokowi adalah seorang keturunan PKI (Partai Komunis Indonesia). Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang masih terhegemoni Orde Baru, menyebut seseorang sebagai keturunan PKI sama halnya dengan memberi Kartu Merah pada  orang tersebut. Terlebih jika dilakukan ketika pertarungan politik sedang menegang. Selain disebut PKI, Jokowi juga pernah digosipkan sebagai keturunan Cina, beragama Kristen, dan lain-lain. Pokonya macam-macam. Parahnya, tak sedikit orang yang memviralkan kabar-kabar hoax tersebut di media sosial mereka.

Tetapi fenomena semacam itu acap kali dimaklumi oleh sebagian besar akademisi dengan alasan “Masyarakat Kita Masih Minim Melek Media.” Benarkah demikian? Ternyata tidak juga. Iwan Awaluddin Yusuf, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, dalam majalah edisi pertama Red_Aksi Ilmu Komunikasi terbitan 2015, mengutip hasil laporan penelitian Brendan Nyhan and Jason Reifler yang berjudul Misinformation and Fact-checking: Research Findings From Social Science tahun 2012. Dalam tulisannya, Iwan menyimpulkan bahwa ketika seseorang dihadapkan pada berita dan informasi yang bertolak belakang dengan keyakinannya, maka ia cenderung akan menolak meskipun berita-berita tersebut menunjukkan data dan fakta yang relatif lengkap. Sebaliknya, terlebih di media sosial, seseorang lebih suka mencari, membaca, dan menyebarkan berita yang sesuai dengan apa yang ia yakini meski berita itu belum jelas kebenarannya. Artinya, banyak orang yang membaca dan menyebar info hoax semata-mata demi mendukung kepentingannya. Meski harus diakui, tak sedikit juga mereka yang memang benar-benar kurang atau bahkan sama sekali tidak melek media.

Masalahnya, potensi dampak negatif terpaan isu-isu hoax dalam kehidupan cukup besar. Seperti isu soal penculikan anak, isu geng motor, isu teroris dan lain sebagainya. Bagaimanapun, isu-isu yang belum terbukti kebenarannya itu, karena memainkan emosi masyarakat (penculikan, pembunuhan, dll), akhirnya mampu menjadi kabar yang meresahkan banyak orang. Apalagi ketika isu-isu hoax tersebut sengaja diarahkan untuk menjatuhakn pihak atau kelompok tertentu. Perpecahan dan pertempuran pun bisa tak terelakan. Oleh sebab itu masyarakat kita perlu benar-benar memahami seperti apa isu-isu hoax ini, bagaimana karakteristiknya, serta muatan-muatan macam apa yang biasa dimainkan.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen, Suwarjono, dalam AntaraNews.com, mengungkapkan sejumlah ciri berita hoax. Diantaranya ialah judul yang provokatif, walaupun terkesan mengada-ada dan aneh. Data yang tak jelas kebenarannya, situs yang meragukan kredibilitasnya, serta foto yang tidak relevan dengan isi. Hal ini karena berita-berita hoax memang kebanyakan dibuat untuk menarik orang agar mau mengunjungi situs tertentu. Terlebih berita hoax juga acap kali menjadi agenda kampanye hitam dunia perpolitikan seperti sejumlah isu miring mengenai Jokowi di atas.

Jika masyarakat sudah bisa melihat benar/tidaknya suatu isu dengan cukup baik, maka mereka akan mampu untuk turut serta dalam memerangi hoax dan para pembuatnya. Namun untuk mencapai keadaan semacam itu, butuh kegiatan-kegiatan literasi media yang masif dan kontinyu agar orang-orang yang minim melek media bisa sadar bagaimana besarnya ancaman berita hoax. Menurut saya pribadi, kegiatan literasi media dalam hal ini hendaknya tidak cuma dilakukan dengan model Diklat atau hanya sekedar mengadakan workshop-workshop mengenai media. Dengan kata lain, semua itu butuh dibarengi sebuah gerakan kampanye yang konsisten dan penuh dedikasi agar masyarakat senantiasa diingatkan mengenai pentingnya melawan hoax. Mengapa mesti kampanye? Jawabannya karena kampanye memang serangkaian kegiatan komunikasi terencana yang persuasif dengan tujuan menciptakan reaksi atau perubahan tertentu. Dalam beberapa aspek, kampanye juga serupa dengan propaganda, walau konotasi propaganda lebih negatif namun tujuannya tetap untuk “mempengaruhi perilaku.” Dalam sejarah Ilmu Komunikasi, propaganda menjadi alat yang ampuh untuk mempengaruhi pola pikir masyarakat. Sebagaimana bila kita lihat dari upaya Wodrow Wilson ketika menciptakan histeria ketakutan terhadap komunis (Red Scare) pada Perang Dunia I,  seperti saya kutip dari Noam Chomsky di buku “Politik Kuasa Media” (2009). Boleh dikatakan kampanye melawan hoax akan bisa menumbuhkan kesadaran terhadap individu untuk berhati-hati dalam memilih serta memilah informasi. Walaupun tentu saja butuh waktu yang tidak sebentar

Dalam memerangi hoax, bentuk kampanyenya bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti penyebaran sticker, membuat video-video literatif mengenai pemahaman tentang bahaya hoax serta bagaimana cara melawannya, poster dengan infografis, dan lain sebagainya. Tentu tidak hanya pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) saja yang bisa melakukan kegiatan tersebut. Tetapi kaum intelektual sekaliber mahasiswa pun juga bisa dan harusnya bisa, meski dengan catatan ‘Benar-Benar Sudah dan Mau Melek Media.’ (Sulkhan)

 

Sumber refrensi

Anggoro, FB. “AJI: kenali lima ciri berita “hoax,” http://www.antaranews.com/berita/618827/aji-kenali-lima-ciri-berita-hoax (Diakses, 28 Mei 2017)
Chomsky Noam. Politik Kuasa Media. Pinus Book Publisher: Yogyakarta, 2009
Yusuf, Iwan Awaluddin.2015. Aku Share Maka Aku Ada. Red_Aksi I
             

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *