Sepenggal Cerita Di Pagi Yang Sunyi

Suasana pagi ini begitu sepi dan muram.  Angin diam, seperti tertahan oleh  suatu duka yang mendalam. Dibalut kabut dan awan kelabu yang berarak pelan. Bulir-bulir embun yang jatuh dari langit pun beku di atas daun-daun kemarau yang menguning kering. Begitu sunyi. Tak ada kicau burung atau kokok Ayam jantan sebagaimana pagi-pagi biasanya. Bahkan tak terlihat adanya lalu-lalang para manusia yang saban hari menjalani takdir sebagai peniup terompet-terompet kehidupan. Benar-benar tidak ada. Satupun.

Pagi macam apa ini? Aku menggumam dalam hati. Bukankah seharusnya pagi menjadi simbol dari semangat memulai segala sesuatu?  Tapi ini? Ini sungguh aneh. Tidak ada tanda kehidupan yang bisa kurasakan. Begitu sunyi, seolah-olah pagi sengaja mengasingkan dirinya sendiri.

Aku tersenyum pahit sembari bangkit menuju jendela, berharap angin segar menyapu wajahku. Namun lagi-lagi yang aku dapat hanya sepotong pagi yang sunyi, dengan langit kelabu, aroma tanah kering, dan debu-debu kemarau yang hinggap di jendela.

Sama-samar, detik berdetak dari dalam jantungku. Hingga bisa kudengar lirih suara jiwaku sendiri.  Entah bagaimana bisa begitu, aku sendiri tidak tahu. Yang jelas tiba-tiba aku merasakan sebuah kesedihan. Seperti terlempar dalam pusaran nestapa. Air mataku meleleh pelan layaknya sungai di awal musim hujan. Dan mahluk bernama kenangan pun datang. Dengan dera dan luka di tangannya, ia paksa aku untuk kembali menengok tahun-tahun silam yang tolol itu. Tanpa toleransi. Persis seperti Hantu masa lalu dari Novelnya Charles Dickens.

***

Aku pernah bermimpi menjadi seorang animator. Film-film garapan Walt Disney yang menjadi pemantik munculnya impian itu. Lulus SMP, aku pun memasuki sebuah Sekolah Multimedia. Di sana aku belajar bagaimana menciptakan animasi dari frame ke frame menggunakan software-software tertentu. Tak terlalu sulit, hanya membutuhkan ketekunan ekstra. Dua hari sejak pertama mendapat materi itu, ditambah sedikit otodidak, aku langsung bisa membuat beberapa gerakan dengan sedikit cerita. Walaupun hanya beberapa detik. Menggunakan gambar-gambar yang  ala kadarnya.

Tetapi menginjak kelas tiga Kejuruan, aku mulai bosan dengan mimpi menjadi animator. Aku melirik mimpi yang lain. Yaitu “Menjadi seorang penyair.”

Keputusan ini aku ambil sejak mengenal seorang gadis. Ia tinggal di sebuah asrama yang letaknya persis bersebelahan dengan sekolahku. Walau begitu, ia dan aku tidak bersekolah di tempat yang sama.

Gadis itu  sebenarnya tidak terlalu cantik.  Hanya saja ia memiliki sesuatu yang benar-benar misterius.  Seperti ada kekuatan adikodrati yang bersemayam di matanya. Teduh, cerah, dan hangat. Begitu mendalam.   

Aku jatuh hati padanya. Sejak mengenalnya aku tidak bisa berhenti untuk mencari tahu siapa dia. Bahkan kadangkala aku sengaja berdiri di jalan depan gerbang sekolah selama berjam-jam hanya untuk menunggunya lewat. Kebetulan arah menuju sekolahnya mengharuskan si gadis untuk melewati jalan depan sekolahku.

 Dan ketika ia benar-benar lewat… Ya Tuhan! aku merasa memiliki sekaligus kehilangan. Betul-betul absurd. Benar kata pepatah, cinta yang tak memiliki selalu bersanding dengan kebahagiaan yang menyakitkan.

***

Suatu ketika, seorang teman yang baik menunjukan nama profil Facebook gadis itu  padaku. Aku pribadi sebenarnya ingin punya nomernya, tetapi apa boleh buat. Kudengar anak-anak yang tinggal di asrama itu tidak boleh membawa barang elektronik satupun. Maka begitu aku tahu profil facebook-nya, aku pun langsung menjelajahi laman dindingnya. Dari situ aku mulai melihat bagaimana ia mencurahkan perasaannya lewat postingan-postingan yang indah. Setiap kalimat menggunakan pilihan kata yang ia susun sedemikian rupa agar mampu menyampaikan makna secara estetik, dan setiap makna ia haturkan untuk keindahan sekaligus kepedihan hidupnya sendiri.

 Semakin lama membaca postingannya, aku justru semakin tidak berani mengirim konfirmasi pertemanan kepadanya. Bagaimana aku akan berbicara dengannya? Aku siswa SMK Multimedia yang saban hari berurusan dengan software sementara dia sudah seperti penyair yang pandai berakrobatik kata.

Ketololanku berlanjut sampai menginjak kelas Tiga. Mendekati Ujian Nasional, konfirmasi pertemanan tak juga kulayangkan. Aku menyukainya tetapi aku benar-benar tak bisa melangkah lebih jauh lagi. Ia dan aku seperti berada pada dimensi berbeda. Dan aku hanya bisa menikmati setiap imajinasi tentangnya.

Hingga akhirnya Ujian Nasional selesai. Kami lulus. Dia melanjutkan kuliah ke sebuah kota yang jauh. Meninggalkanku yang tak pernah dikenalnya tetapi mencintainya seperti mencintai urat nadi sendiri. Benar-benar sial! Aku hanya bisa mengutuki kepecundanganku dalam hati. Beratus-ratus kali.

Sejak saat itu, aku seperti tak mempunyai hati yang utuh. Jiwaku tak kunjung menemukan dermaganya. Cintaku tak pernah selesai. Dan hidupku menjadi tidak tuntas.

Aku menjalani hariku dalam keabu-abuan. Terperangkap di sebuah jalan yang sunyi. Aku memilih untuk tak berkawan dengan siapapun. Membiarkan diriku membusuk di balik jeruji penyesalan-penyesalan.

***

Jarum jam wekerku menunjukan pukul delapan lewat sepuluh, anehnya sejak tadi mataku tak juga mau terpejam lagi.  Padahal aku termasuk golongan lelaki yang enggan berjumpa dengan pagi. Jujur, aku selalu melewati pagi dengan tidur lelap. Hampir tak ada aktifitas yang lain. Namun, bayang masa lalu dan luka yang menyertainya memang selalu sukses menggiringku menuju keadaan hidup dan mati. Seperti kali ini.

Dalam keadaan semacam itu, kadang aku ingin ia kembali hadir, sekedar untuk mengisi harapan agar bisa menikmati luka dari jarak dekat. Walau di sisi lain, aku juga muak terus-terusan terjebak di lingkaran setan karena merindukannya. Meski semua bayang masa lalu itu acap kali lenyap seketika menjadi sebuah layar hitam yang meruncing pada satu titik. Lalu meluber dan pecah dalam air mataku yang tak pernah habis.

Lelah dengan hantu-hantu masa lalu yang merecoki pagi ini, aku kemudian  memutuskan untuk menyeduh kopi hitam yang entah sudah berapa bulan kusimpan dalam toples penyok itu. Tapi sial, ketika aku menyalakan kompor, tabung gasku rupanya kosong. Saat aku hendak pergi membeli di warung sebelah,  malas yang terkutuk itu mendadak kembali menyergap badanku. Aku lunglai. Malas memang musuh yang berat. Sekuat tenaga aku berusaha meneguhkan hati dan mental. Namun akhirnya badanku menyerah, ia membawaku kembali ke kasur sekalipun otakku berontak.

Kini aku tergolek kembali di atas busa berukuran sedang yang mulai koyak sana-sininya. Di sekitarku, sampah-sampah plastik bekas cemilan dan botol-botol minuman berserakan melingkar layaknya sarang burung.

Pagi ini begitu sepi. Bahkan terlalu sepi untuk orang yang selalu hidup dalam ruang sunyi sepertiku. Aku menatap pohon-pohon dari jendela kamarku yang masih saja diam. Tak ada gerak sedikitpun, bahkan daun-daunnya yang telah menguning seolah enggan tertiup angin. Seperti juga tumpukan sampah plastik dibawahnya yang tetap diam, tak bergeming. Oh, kemana angin dingin kemarau yang selalu berhembus sedang itu? Tidakkah ia ingin mampir ke sekitar rumah kontrakanku? Atau barangkali ia juga sudah malas bahkan untuk sekedar menyapaku? Entahlah.

Seketika terbesit dalam pikiranku, bagaimana bila suatu saat bumi yang selalu ramai, dengan gelak tawa dan canda para manusia ini, tiba-tiba menjadi sangat sepi. Sangat sunyi. Tidak ada lagi manusia kecuali aku seorang. Betapa menyedihkannya hidup seperti itu. Aku, walau malas-malas begini dan hidup di rumah kontrakan yang terletak nun jauh di ujung perkotaan apalagi peradaban, masih menikmati adanya keramaian kok. Paling tidak, aku menikmati ramainya orang di media sosial yang berlomba-lomba mengkritik korupsi di Indonesia. Walaupun aku paham betul banyak dari mereka yang hanya sok tahu. Aku juga menikmati postingan status netizen Indonesia, yang tak jarang, membawa masalah rumah tangga hingga masalah antar tetangga.

Soal aku yang lebih suka hidup di tempat yang sunyi itu semata-mata karena aku tak ingin berbagi dengan siapapun, tidak untuk semua kepunyaanku apalagi berbagi waktu pribadiku. Satu-satunya hal yang kubagikan dari hidupku hanyalah tulisan-tulisan berisi kritik politik yang ndakik-ndakik. Selain itu, jangan harap. Hidupku hanya untukku sendiri. Tidak untuk siapapun, kecuali Tuhan. Itu pun sesekali.

Pertanyannya kemudian, apakah aku benar-benar siap mengalami kesunyian yang sesungguhnya? Itulah yang menjadi masalah. Banyak penyair sangat mendayu-dayu ketika menggambarkan sebuah kesunyian seolah itu merupakan jalan hidup yang begitu estetik. Sunyi seolah menjadi tempat pertapaan mereka yang mencintai romantisme dan penderitaan hingga mencapai harmoni kehidupan.Tetapi sekali lagi, seperti apa kesunyian yang sesungguhnya? Aku ragu apakah para penyair itu benar-benar tahu.

Meski begitu, ada satu hal yang kuyakini, bahwa kesunyian seperti halnya siluman. Ia menyergap kapan saja, dimana saja dan tanpa aba-aba. Apalah arti sebuah pagi? Tentu ia bukan tandingan bagi sunyi. Karena sunyi merupakan ujung perjalanan waktu. Sedangkan waktu memegang kuasa atas keniscayaan.

Aku menyadari itu. Sebagaimana aku menyadari kesunyian itu akan datang. Tapi aku tak ingin ia datang dengan cara yang sangat pengecut. Jika mau merenggut cahaya hidupku, maka kesunyian harus datang langsung padaku agar aku bisa mempersiapkan diri. Minimal, untuk mengatakan betapa aku mencintai hingar kehidupan meski yang kupunya hanyalah pandangan-pandangan sinis.

***

Jam wekerku berdering! Sudah pukul setengah sebelas rupanya. Sial, aku tak juga lelap. Pikiranku melayang kemana-mana. Tetapi suasana tetap saja sunyi, seolah aku sudah pindah dimensi. Di luar pepohonan masih diam, rumput-rumput tetap enggan bergeming. Kemarau memang sepertinya muak denganku.

Tapi aku tidak peduli. Saat ini aku benar-benar hanya ingin melanjutkan tidur, melepas pikiran-pikiran berat yang sebenarnya tak perlu kupikirkan.

Ya Tuhan, aku ingin bebas dari rasa sesal masa laluku. Aku ingin namanya tak lagi menjadi kutukan atas ketidaktuntasan hidupku. Aku ingin setelah bangun nanti, ada hari baru, semangat baru, dan sebuah jalan hidup yang baru.

Ah, seandainya saja aku bisa menjadi udara. Yang hadir mengisi kekosongan dengan kemurnian. Yang menyatu dengan segala kehidupan tanpa perlu menjadi bagian di dalamnya. Karena udara selalu punya tempat untuk bereksistensi. Udara punya aturannya sendiri. Semua mahluk tahu, udara tak terikat pada mereka yang hidup. Sebaliknya mereka yang hidup membutuhkan udara. (K.A. Sulkhan)

 

Sumber gambar: Pinterest.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *