Sebait Senja

Kian hari aku semakin mengerti, jika apa yang kudapati selama ini adalah suatu hal yang tak pasti. Kisahku ini, hanya berawal dari dua orang yang mencintai puisi yang  kemudian tertegun pada barisan sajak para pujangga. Sesederhana itu. Hingga akhirnya menjadi biasa dan selalu bertemu pada saat hiruk-pikuk senja.

***

Sore itu seperti biasa, setelah pulang kerja aku menyempatkan diri untuk pergi ke toko buku di samping kantor. Toko buku itu bisa dikatakan kecil, namun bagiku itu lebih dari sekedar toko, karena yang ditawarkan bukan hanya deretan panjang buku untuk calon pembeli, namun kehangatan dan kenyamanan yang lebih dari sekedar jual beli.

Aku menyapa pemilik toko yang ramah,  seorang nenek berusia lebih dari setengah abad. Dia menemaniku memilih buku sambil membicarakan referensi buku yang cocok denganku. Salah satu yang unik dari toko buku ini adalah, di tiap sudutnya disediakan sepasang meja kursi kecil untuk calon pembeli, agar mereka bisa duduk sambil membaca sampel buku. Ya, setiap buku yang dijual terdapat sampelnya sehingga calon pembeli dapat mengetahui isi dari buku sebelum memutuskan untuk membelinya.

Kali ini pilihanku jatuh pada buku karya Boy Chandra dengan sampul berwarna putih. Dari covernya saja buku ini menyiratkan tentang kesedihan dan kehilangan yang mendalam. Sebenarnya jarang-jarang aku memilih buku seperti ini, aku lebih menyukai buku yang menawarkan aura positif, tapi entah karena cuaca sedang mendung atau apa, aku tertarik dengan buku ini.

Belum lama aku melihat-lihat isi buku, di luar hujan turun dengan derasnya. Sepertinya buku ini memang cocok untuk menemani hari ini. Lagipula, bukankah hujan selalu menawarkan rindu dan luka secara bersamaan? Itulah salah satu alasan kenapa aku menyukai hujan. Ya, aku menyukai setiap tetes hujan yang sekan-akan selalu membawaku pada sebuah kenangan.

Satu tahun lalu, di toko yang sama aku berjumpa dengan seorang pemuda yang sangat menyukai para pujangga. Sebenarnya karena pemuda itulah aku mulai menyukai rangkaian-rangkaian indah puisi, dan juga karena pemuda itulah kisah hidupku menjadi  serba tidak pasti. Hari itu adalah pertama kalinya aku pergi ke toko buku ini.

Saat itu, karena lelah menjalani hari pertama magang kerja, maka sepulang dari kantor, aku singgah ke toko buku. Kebetulan aku juga sekalian hendak membeli buku resep makanan titipan Ibu. Pertama masuk, aku sedikit terkejut karena toko itu terasa hangat dan membuat lelahku berkurang, belum lagi pemilik toko yang menawariku secangkir teh hangat , seperti sedang menyambutku pulang. Alhasil karena merasa nyaman, aku betah lama di sana, melihat-lihat deretan panjang buku yang tersusun rapi di dalam rak. Dan, saat aku asyik melihat-lihat itulah, seorang pemuda menerobos masuk ke toko dengan pakaian yang basah. Ternyata di luar sedang hujan, dan aku sama sekali tidak menyadarinya. Pemuda itu tertawa pada pemilik toko yang sepertinya sedang memarahinya. Dengan gesit dia melenggang masuk ke rak-rak buku dan tenggelam di dalamnya. Itu pertemuan pertama, tidak ada kesan atau bahkan kenangan.

“Apa kamu masih menaruh harap pada pemuda itu, nak?” Suara ramah pemilik toko membuyarkan lamunanku. Di tangannya ada secangkir teh panas yang sedetik kemudian disodorkan padaku.

Aku balas tersenyum, “entah bu, ini tidak pasti, walaupun sebenarnya setelah bertemu pemuda itu hidupku memang tidak pernah pasti, hahahahaha” aku tertawa renyah, pemilik toko tersenyum khidmat.

“Bersabarlah nak, memang tidak ada yang pasti dalam hidup ini bukan? Sesungguhnya kepastian adalah harapan yang dibuat sendiri oleh manusia, agar mereka tahu batas perjalanan yang mereka tempuh,” aku mengangguk mengiyakan, pemilik toko mengelus pundakku, kemudian berlalu untuk menyambut pengunjung baru.

Seminggu setelah aku melihat pemuda itu untuk yang pertama kalinya, aku kembali pergi ke toko buku. Kali ini aku pergi lebih sore dari kemarin, tepat saat senja tiba. Pemilik toko menyapaku dengan ramah, ia mengajakku berbincang-bincang, dan aku senang karena dia tahu aku pernah kesini walaupun baru sekali. Pemilik toko menawariku teh panas dan aku mengangguk dengan cepat, satu detik kemudian pemilik toko masuk ke sebuah ruangan. Aku berjalan-jalan menyusuri rak buku yang kemarin tidak sempat aku lihat. Tanpa sadar, aku menuju rak khusus puisi dan sastra. Karena penasaran, aku mengambil satu dan membuka-buka isinya.

“Kamu suka puisi?” sontak aku kaget mendengar suara yang berada tepat di dekat telingaku. Karena setahuku, sejak aku masuk tadi tidak ada pelanggan satu pun di toko.

“Halo?” Pemuda itu mengibas-ngibaskan tangannya di depan mukaku karena aku tidak menjawab pertanyaannya.

“Tidak juga” sedikit gugup aku menaruh kembali buku yang tadi aku ambil.

“Yah, sayang sekali, padahal kamu cantik,” sahut pemuda itu dengan polosnya.

“Permisi? Apa yang kamu katakan barusan?” Aku melongo heran, tidak yakin dengan apa yang barusan aku dengar. Aku bahkan belum pernah bertegur sapa dengannya sebelum ini tapi mendadak pemuda itu sudah merayuku.

“Ya, kamu cantik seperti puisi, garis wajahmu layaknya barisan sajak yang tertata rapi,  aku suka itu,” lagi, pemuda itu merayuku sambil tersenyum dengan polosnya.

“Nak, tehnya ditaruh di meja ini ya?” Pemilik toko membuyarkan keterkejutanku. Refleks aku menghampirinya dan meninggalkan pemuda unik itu untuk mengucapkan terimakasih.

“Hati-hati, dia lelaki baik namun seperti ombak, terkadang surut terkadang pasang, kau akan terombang-ambing jika berani menyelaminya, ” pemilik toko berbisik pelan padaku. Belum sempat aku bertanya apa maksudnya, beliau sudah menghampiri pengunjung yang lain.

“Hei wanita penikmat senja, maukah kau menikmati secangkir teh bersamaku?” Lelaki aneh itu lagi-lagi berbisik tepat di telingaku dan membuat tubuhku bergidik.

Aku diam sambil mengamatinya perlahan. Jika diperhatikan lelaki itu cukup tampan,dengan gaya yang minimalis namun tetap modis, mengingatkanku pada wirausahawan-wirausahawan muda yang tadi aku temui karena urusan pekerjaan. Dia tersenyum polos padaku, dan matanya juga demikian. Polos namun lembut, dan tanpa sadar aku menyelaminya.

Kami menikmati secangkir teh bersamaan, dia mengajakku berbicara berbagai hal. Yang terbanyak adalah tentang puisi, dia bercerita bagaimana dia mencintai hal itu dan membuatnya mengelilingi dunia hanya untuk membaca karya-karya para pujangga dari tempat asalnya. Hanya  butuh satu jam, hingga aku merasa jika aku sudah mengenalnya dengan baik. Di akhir “minum secangkir teh” kami, dia memberiku sebuah buku, tentunya buku antalogi puisi dari penulis lokal.

“tenang saja, aku sudah membayarnya, aku segera membeli buku itu setelah seminggu yang lalu melihatmu, soalnya kamu mirip dengan isi buku itu, Kompleks,” dia mengerlingkan sebelah matanya padaku, tepat saat baris terakhir senja menghilang, dia pun demikian. Menghilang.

Hingga saat ini pun, dia menghilang tanpa aku ketahui namanya. Satu tahun sudah, lelaki itu tidak kelihatan, bahkan hingga aku sudah menjadi pegawai tetap, bukan hanya anak magang. Dan mulai hari itu, secara rutin, setiap harinya aku mengunjungi toko buku, menaruh harap untuk bertemu dan sekedar bertanya nama lelaki itu. Tidak ada penyesalan, karena aku yakin ini bagian dari perjalanan hidup.

Benar kata pemilik toko, sekali aku menyelaminya, aku akan dibuat terombang-ambing selamanya. Hingga detik ini pun, aku menanti, berharap akan ada yang berbisik lembut di telingaku, saat senja kembali. Dan aku memang selalu bertemu dengannya, di dalam senja. Setiap kali aku melihat sosoknya, semburat merah di langit yang polos seolah merayuku.

“Apa kau sekarang sudah menyukai puisi, wahai wanita penikmat senja?”

Jantungku berdegup kencang melihat sosok lelaki dengan latar belakang senja di depanku, dan, aku benar-benar tenggelam olehnya. (Fatimah Zahro)

 

 

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/576390452285962283/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *