Meski Tak Ada Regulasi Khusus Untuk Difabel, Rahmat Tak Absen Ikut PESTA

(Kampus Terpadu UII, 16 Agustus 2017) Pekan Orientasi dan Ta’aruf (PESTA) UNISI 2017 merupakan kegiatan ospek Universitas Islam Indonesia (UII) dengan tema “Integritas Cendekiawan Muslim dalam Merajut Kebhinekaan”. Sebelum berlangsungnya kegiatan ospek pada 18-19 Agustus nanti, penitia menggelar kegiatan persiapan yang disebut Pra-PESTA. Pada Pra-PESTA kali ini, peserta dibagi menjadi dua, guna mengikuti kegiatan yang telah dipersiapkan oleh panitia. Kegiatan tersebut berupa social project dan koreografi. Social project merupakan kegiatan bersih-bersih desa pada daerah-daerah yang telah ditentukan, sedangkan koreografi merupakan kegiatan yang dimana peserta diajak untuk berkumpul di lapangan dan bersama-sama membentuk kolase.

Di lokasi koreografi, beberapa dari mahasiswa baru terlihat menyematkan pita hijau dan merah di bahu kirinya, yang artinya mereka sedang sakit atau memiliki penyakit yang terbilang gawat. Namun, kebanyakan dari mereka tidak terlalu mempermasalahkan penyakit yang diderita dan lebih memilih untuk ikut bergabung bersama teman-teman koreografi daripada harus menunggu di pinggir lapangan. Di kerumunan peserta koreografi, ada salah satu mahasiswa baru yang terlihat berjalan menggunakan tongkat. Ia bernama Rahmat Ramadhan, mahasiswa program studi Teknik Kimia ini terlihat tetap berada dalam koreografi di lapangan walaupun memiliki kebutuhan khusus di kakinya. Ia mengaku antusias dengan kegiatan koreografi dan ingin ikut menjadi bagian di dalamnya.

Melihat keikutsertaan Rahmat ke dalam proses koreografi tidak begitu saja diijinkan oleh panitia, terutama Reza Mahesa selaku Koor DPB. Reza sendiri sudah berusaha menawarkan Rahmat untuk duduk di pinggir lapangan saja karena dirasa kegiatan koreografi akan sulit dilakukan olehnya. Namun, tetap saja mahasiswa dari Sulawesi Tengah ini kekeuh ingin ikut turun ke lapangan bersama teman-temannya. Melihat respon yang diberikan oleh Rahmat, Reza menyerah dan membiarkan Rahmat ikut serta dalam koreografi. Reza mengaku bahwa mereka tidak bisa memaksa karena mahasiswa baru berhak untuk mengikuti jalannya kegiatan selagi mereka merasa sanggup.

Pada peraturan yang telah ditetapkan, Komisi B, Hanif Imam Dharnawan mengakui memang tidak terdapat kebijakan khusus bagi peserta (mahasiswa baru) difabel atau orang berkebutuhan khusus karena mereka juga tidak menyangka dapat menemui salah satunya di peserta PESTA UNISI 2017 sehingga peserta yang berkebutuhan khusus disamakan dengan orang sakit dengan sematan pita merah di bahu kiri.

Pada saat pembagian jamaah, Muh. Bahrudin Khoiron yang akrab dipanggil Rudi selaku wali jamaah tidak menyangka apabila salah seorang dari jamaahnya berkebutuhan khusus. Awalnya Rudi bingung akan keikutsertaan Rahmat pada kegiatan koreografi, ia sudah mencoba beberapa kali menawarkan Rahmat untuk duduk di pinggir lapangan kalau-kalau ia berubah pikiran atau merasa tidak kuat, namun tawarannya terus ditolak oleh Rahmat dengan penegasan bahwa dirinya bisa. Melihat Rahmat yang mengikuti instruksi panitia pada proses koreografi dengan baik serta kesanggupannya dalam membaur bersama peserta lain membuat Rudi akhirnya menyerah untuk merasa khawatir dengan keadaan Rahmat. Rudi juga mengakui bahwa Rahmat memang kuat dan sanggup mengikuti jalannya acara Pra-PESTA UNISI 2017 dengan baik.

Rahmat menyadari bahwa dirinya memiliki kebutuhan khusus yang membuatnya tidak bisa bergerak sebebas teman-teman lain. Ia juga memahami jika banyak orang yang menganggap bahwa orang berkebutuhan khusus selalu dipandang lemah. Namun, rahmat tetap mencoba untuk sanggup mengikuti rangkaian acara Pra-PESTA UNISI. (Firda Mahdanisa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *