Adik-adik, Mari Jadi Egois

Banyaknya masalah di Kampus akhir-akhir ini membuat saya cukup bahagia. Bukannya saya seorang psycho yang mencintai chaos di kampus perjuangan tercinta, tapi sebagai anak PERSMA (Pers Mahasiswa) banyaknya masalah ini membuat saya seenggaknya banyak ide yang bisa dituliskan, jadi kan saya tidak usah pusing-pusing mencari ide untuk menulis. Saya kemarin jadinya menulis masalah seperti kontroversi PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru) dari yang gede seperti acara PESTA UNISI, hingga acara fakultas dan prodi, kemudian semakin berkurangnya minat Mahasiswa terhadap kelembagaan Student Goverment (SG) –yang selalu dielu-elukan oleh Mahasiswa itu–, hingga terjun ke tengah orasi Mahasiswa FTSP yang sedang “berebut” Mahasiswa Baru dengan pihak Fakultasnya. Yah, diliat-diliat dari masalah tadi kebanyakan juga penyebabnya maba-maba juga.

Untuk awalnya, coba saja pembaca sekalian mengetik keyword “Mahasiswa Baru” di laman Google, maka akan tampil berita-berita seperti “Mahasiswa Baru Kampus A ikut Kuliah anti-narkotika”, atau “Kampus B sedang membaca doa untuk Rohingnya”, juga “si Kampus C sedang mendidik keluarga barunya dengan Kuliah umum kebangsaan.” Rada lucu memang melihat Kampus-kampus saat ini sedang mem-branding Kampusnya lewat acara PKKMB sebagai acara yang sangat mendidik, serta —tentu saja— anti-kekerasan. Sedangkan, para Mahasiswa Seniornya sendiri mencoba untuk mendoktrin adik-adiknya menjadi Mahasiswa idealis dengan istilah Mahasiswa itu harus jadi ((masukan kata-kata ajaib seperti Agent of Change, Iron Stock, dan sejenisnya)) di media Mahasiswa seperti Persma atau brosur-brosur pengenalan Organisasi mereka yang megembel-embelkan kata-kata ajaib. Lalu yel-yel “HIDUP MAHASISWA” yang saya gatau para Maba sudah sebutkan berapa kali selama kegiatan PKKMB berlangsung. Sebagian meneriakkannya dengan sungguh-sungguh, penuh kilau mata masa depan dan penuh kebanggaan telah tersandangnya title prestisius “Mahasiswa,” yang kemudian dikomentari seniornya “Ah maklum masih maba, belum tau kehidupan kampus.” Sedang yang lain mungkin memang menganggap hal tadi konyol dan ikut-ikut saja meneriakkan sebagai formalitas, kasian sama mas-mbak lembaga yang pakai almamater itu.

Pengalaman saya tadi yang terjun mengawasi (nontonin) pelaksanaan PKKMB –serta yang juga pernah menjadi Maba tentu saja— membuat saya mikir, apa sudah sepastinya maba ditakdirkan menjadi Galau? Mereka mikirin banyak hal koyok Apa yang mau dilakuin selama studi nanti, apa jadi Mahasiswa ideal ala kampus kah? IPK bagus, lulus cepat biar kemudian menjadi pekerja yang seringkali tidak sesuai dengan studi yang diambil –khususnya perbankan– Atau menjadi ideal ala Abang-abang ? Yang aktif organisasi, rapat sampai subuh, khatam Buku kiri, kanan yang dibeli di lapakan legendashopping, vokal dalam isu-isu yang menindas rakyat, nilai nggak papa lah jelek asal solidaritas sesama kawan dijaga tapi akhirnya terancam di-Drop Out karena semester sudah dua digit, kehilangan idealismenya –mungkin– dan seringkali berakhir sama seperti jalan mahasiswa ideal ala-ala kampus. Oh, romantisme kampus yang nggak mau pudar, seperti kutipan Puisi Taufik Ismail yang suka dibanggakan Mahasiswa itu, kalau “Presiden takut Mahasiswa” walau kenyataannya Pemerintahan saat ini –seperti yang terjadi di kontroversi Surat Edaran Kemenristekdikti— ya bodo amat dengan Mahasiswa dan Pemerintahan Mahasiswa yang diagung-agungkan sejak jaman dahulu kala itu, yo buktinya di fakultas saya sendiri pun akhirnya kekurangan Caleg SG buat kursi DPM dan lagi pusing nyari orang buat menduduki kursi pristisius ini. Oh ya, dan Pemerintahan juga bodo amat kok dengan kebebasan berpikir dan berpendapat –yang juga diagung-agungkan sejak dulu—di Kampus, dengan penindakan terhadap Dosen yang dianggap menyebarkan paham “radikal” tanpa memberi tahu pemikiran radikal ini kopemikiran radikal itu kaya ngene loh. Perlahan Institusi Perguruan tinggi kehilangan hak pristisusnya yang barangkali juga kehilangan istilah “Maha” -nya itu. Sedih juga saya yang sudah membangga-banggakan hal diatas tadi ke teman Mahasiswa dari negara tetangga yang pernah berkunjung beberapa bulan lalu, mereka terlihat terpukau dengan gaya Kampus Indonesia yang sangat berbeda dengan di negara mereka yang masih kayak sekolah.

Tapi, kembali ke masalah mahasiswa baru tadi juga belajar menjadi Dewasa. Cita-cita ingin membahagiakan orang tua, ingin sukses menjadikan Mahasiswa ideal ala kampus pilihan terbaik bagi kebanyakan Mahasiswa baru –yang saya perhatikan akhir-akhir ini–. Lebih baik realistis dibanding menjadi idealis, siapa yang peduli dengan rakyat? Lebih baik cepat lulus, cepat kerja kemudian bisa membahagiakan diri sendiri. Yang sulung dituntut untuk menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya dan setidaknya bisa membiayai mereka sekolah. Yang bungsu dituntut untuk cepat lulus, agar orang tuanya bisa pensiun dan tidak memiliki tanggungan lagi karena anaknya yang paling terakhir sudah kerja atau setidaknya sudah menikah. Demi cita-cita yang mulia tadi, banyak hal yang dipertimbangkan agar seniornya tidak meracuni pemikiran mereka dan menaikkan nilai Ijazah yang diterbitkan.

Perlahan-lahan pemikiran realistis menjadikan kampus sekedar wadah mencari selembar kertas bertuliskan angka-angka saja. Perlahan-lahan sistem pendidikan kita bukanlah lagi “pendidikan,” namun hanya tempat pengolahan sumber daya manusia yang bisa memenuhi tuntutan Ekonomi negara –tentu saja manusia tadi juga anti-narkotika, anti-korupsi, dll—agar tenaganya bisa digunakan dengan baik, serta tidak merugikan negara dan perusahaan. Perlahan kita dibentuk menjadi mesin pencetak uang dan menjadi angka-angka yang bisa dipamerkan negara ke tetangga. Maka, untuk adik-adik sekalian yang membaca dan sedang bingung memilih jalan idealisme, tips saya jadilah egois, karena egois memang penting. Seperti kata musisi kondang Jawa Barat,Doel Sumbang,

“… di jaman edan seperti ini menjadi egois itu perlu, sebab susah untuk menjadi senang. Biar saja urusan orang berantakan yang penting aku bisa senang sendiri.

Iblis akan selalu beserta kita.”

(Rizky Eka Satya)

Gambar: http://rizkyanandap.blogspot.co.id/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *