BERKORBAN

Berkorban

 

Kemarin setelah kuliah, seperti biasa saya nongkrong-nongkrong di parkiran. Sudah menjadi ritual khusus untuk mahasiswa prodi saya berbasa-basi ria dan ngerokok-rokok terutama sebelum masuk kelas dan setelah kelas sambil menunggu antrian parkiran yang panjangnya bukan main dan suka nyelip kurang ajar disini.

Waktu saya nongkrong, tiga  teman saya sedang membicarakan acara penyambutan maba prodi kami besok. Satu teman saya membicarakan kalau di acara ini si kaprodi berinisiatif untuk membantu acara penyambutan maba, karena acara makrab yang biasa dijadiin acara penyambutan itu terhalang surat edaran kampus yang nggak ngebolehin acara mahasiswa lewat dari jam 5 sore dan lokasinya nggak boleh di luar area kampus. Dia beranggapan bahwa kaprodi kami telah banyak berkorban demi kemajuan prodinya, tapi dianya masih sering disalahkan kalau ada acara-acara yang nggak kesampaean, terutama satu acara yang dulu pernah dibangga-banggakan mahasiswa prodi kami—yang namanya saya nggak boleh sebutkan karena membahasnya seperti membahas PKI—yang tidak diizinkan lagi oleh dia.

Mahasiswa

Omongan mengenai acara tadi, berlanjut ke ngomongin teman kami yang menyumbangkan idenya untuk acara yang cukup besar—sebagai pengganti acara yang tak bisa disebut namanya tadi, teman saya ini sebut saja namanya si A. Saya tahu teman saya yang menyumbangkan ide itu tidak mau jadi panitia acara yang dia konsep sendiri, jadi saya tanya teman saya yang di situ kenapa si A nggak mau jadi panitia. Alasannya sih sederhana, capek katanya, dan kepengen mengejar passion-nya dia.

Si A ini memang pernah bilang ke saya kalau dia ingin istirahat dari organisasi-organisasi yang ia ikuti, padahal dia bisa-bisa saja dapat jabatan tinggi, ketika saya tanya kenapa, dia cuman diam aja. Saya tidak tahu maksud dari diamnya. Apakah karena tidak tahu, atau pertanyaan saya tadi terasa sensitif bagi dia. Egois sekali dia ini saya pikir, tapi saya juga tidak berhak menyuruh dia ini itu, emang siapa saya?

Pemimpin vs Pemimpi

Obrolan di parkiran tadi berujung ke keheningan yang panjang. Saya sendiri mikir, generasi saya ini orangnya sangat cinta dengan diri masing-masing. Ketika generasi saya tidak suka dengan suatu hal, kita tidak pernah mencoba untuk menyukai hal tersebut, dan memilih untuk pergi. Berbeda dari kaprodi yang diomongin tadi, dia sebagai orang yang juga ingin mengembangkan dirinya, harus terpenjara dalam kerangkeng yang dinamai kepemimpinan. Pemimpin seringkali merupakan orang yang harus berkorban dan menyingkirkan impiannya demi orang banyak.

Saya teringat beberapa bulan yang lalu, pernah ada “musibah” yang menimpa kampus saya ini. Nggak nanggung-nanggung musibah tadi memakan korban 3 orang dan bikin orang se-Indonesia goncar-gancir. Di situ, muncul bapak rektor Harsoyo yang menjadi wajah kampus saya ini. Dia rela dicaci-maki oleh orang banyak sebagai seorang pemimpin yang tidak becus, tetapi di dalam kampus ia begitu dibanggakan. Baru pertama kalinya saya melihat mahasiswa menolak rektornya mundur, biasanya mahasiswa yang nyuruh rektornya mundur. Di dalam kampus, orang-orang mencari-cari para mahasiswa Student Goverment yang sembunyi di ketiak rektor, padahal mereka yang paling busung dadanya ketika penerimaan mahasiswa baru sembari membanggakan jabatan mereka yang katanya setingkat rektor itu. Duh, mimpi kamu terlalu gede bapak-ibu SG.

Saya jadi menyimpulkan kalau banyak orang yang nggak mau jadi pemimpin karena nggak mau berkorban dan saya bersama teman-teman mahasiswa lainnya sangat-sangat takut untuk menjadi pemimpin. Hal sederhana saja, kita suka menunjuk-nunjuk orang lain untuk menjadi pemimpin kelompok atau pemimpin kelas yang kerjaannya paling-paling sekedar ngehubungin dosen. Tapi, karena kita malas harus meluangkan waktu untuk menanggung kewajiban itu, kepercayaan tadi selalu diserahkan ke teman-teman kita yang mau berkorban dan mengalah. Mengalah agar yang lain bisa menang bukan mindset generasi kita, generasi kita taunya menang, menang, dan menang.

Nggak heran, kepanitiaan atau orang-orang organisasi hanya itu-itu saja karena hanya segelintir yang mau berkorban. Saya berbicara seperti ini bukan berarti saya yang benar, saya juga bukanlah orang yang mau berkorban, saya terlahir egois dan dididik untuk menang. Saya rasa teman-teman saya yang lain juga begitu. Bukti yang lebih sederhana, banyak yang suka ‘nilep’ antrian di parkiran, pura-pura gatau biar bisa keluar cepat. Bodo-amat dengan orang yang antrinya lama karena parkirnya di atas yang penting saya bisa pulang ke rumah.

MABA

Yang namanya mahasiswa baru pasti paling rajin ikut kegiatan/organisasi baru karena ingin namanya besar, saya juga pernah merasakan itu. Saya yakin kebanyakan teman-teman mahasiswa baru yang sekarang ini juga begitu dan perlahan banyak yang mundur karena “capek”. Makanya, banyak organisasi yang kehilangan orangnya satu-persatu karena anggotanya merasa capek atau ingin mencari lingkungan yang baru seperti teman saya si A yang tadi.

`           Maka kalau dipikir-pikir apa yang kita lakukan selalu saja tentang “aku, aku, dan aku” tidak pernah ada kata kamu, kita, kalian, mereka selalu saja yang perlu dipertimbangkan adalah kepentingan diri sendiri.

Saya tidak mau menyalahkan sifat egois yang kita miliki, tetapi mungkin sesekali kita perlu belajar berkorban  demi kepentingan orang lain setidaknya untuk membalas budi orang-orang yang pernah berkorban untuk kita sendiri.

Untuk itu, saya titipkan salam hangat saya bagi orang-orang yang rela berkorban, di manapun kalian berada. (Bangsat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *