Kursi-Kursi Untuk ‘Mereka’

(Kampus Terpadu UII, 26/09/2017) Potensi timbulnya sentimen organisasi eksternal masih menjadi isu yang sensitif di kalangan mahasiswa Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Khususnya dalam suasana pesta politik Pemilihan Wakil Mahasiswa (Pemilwa). Hal tersebut diakui oleh Imam Syaiful Wicaksono, ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Imam memandang bahwa sentimen semacam itu sebenarnya hanya menimpa beberapa organisasi eksternal di sejumlah fakultas. “Namun, entah kenapa organisasi eksternal digeneralisir tidak baik,” keluhnya ketika diwawancarai oleh reporter LPM Kognisia, Selasa (12/12/2017).

Menanggapi dinamika perpolitikan UII, Imam mengatakan bahwa animo mahasiswa dalam mengikuti Pemilwa merupakan suatu hal yang positif. Sebab telah melibatkan berbagai elemen organisasi, baik internal maupun eksternal dalam membangun demokrasi. Untuk itu, lanjut Imam, KAMMI mendelegasikan dua calon legislatif dalam Pemilwa di tingkat fakultas.

“Nama-nama calon legislatif itu adalah Antisa Kurnia Hayatri dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Musyarofah dari Fakultas Tehknik Industri (FTI)”, ungkap Imam.

Selain KAMMI, organisasi eksternal lain yang juga mengirimkan kader ialah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Majelis Penyelamat Organisas (MPO) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB). Hal tersebut disampaikan oleh Hery Pratama selaku sekretaris HMI. Ia mengatakan ada empat delegasi HMI yang saat ini tengah menjadi calon legislatif di tataran FPSB.

“Mereka itu, Firman Hidayat Hubungan Internasional (HI) 2014, Guntur Herlambang Psikologi 2014, Annisa Fatmawati Psikologi 2014, dan Muhammad Haidar Ali Psikologi 2014,” bebernya.

Menurut Hery, HMI memang merupakan wadah bagi kader-kadernya untuk menempa kemampuan berorganisasi, seperti di lembaga atau yang lainnya. “Jadi karena itu HMI merasa peduli dengan UII dan mengirimkan kader-kaderanya untuk turut bertanggungjawab sesuai dengan misi dan visi UII,” ujar Herry.

Berbeda dengan Fauzi, ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia tidak secara terbuka mengatakan siapa saja kader PMII yang ikut nyaleg, entah itu di tataran universitas maupun fakultas. Sebab menurut Fauzi jika ada kader PMII yang menjadi calon legislatif, maka itu adalah hak mereka sebagai mahasiswa UII.

“Kader PMII boleh mengajukan atas nama organisasi atau tidak karena pada tingkat universitas perpolitikan sudah mulai berwarna, pemikiran seperti itu perlu dikelola untuk menumbuhkan semangat persaingan antar satu kelompok dengan kelompok yang lainnnya atau yang disebut Fastabiqul Khoirat,” kata Fauzi.

Saat ini ketiga organisasi eksternal tersebut, sebagaimana disampaikan oleh para narasumber di atas, memiliki harapan yang relatif sama terhadap berlangsungnya Pemilwa, yakni dapat berjalan sesuai dengan semestinya tanpa mengedepankan  golongan tertentu. Selain itu, mereka juga berharap mahasiswa/i ikut berperan aktif dalam menggunakan hak suara pada Pemilwa tahun ini, agar nantinya tidak ada Golongan Putih (Golput). (Merlina)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *