Full Day School, Ciamik atau Menyesatkan?

Kelelahan. Mungkin itu kata yang bisa digambarkan dari raut wajah para siswa setiap harinya. Tugas yang selalu menghantui setiap harinya, membuat semakin sedikitnya waktu yang dimiliki oleh para siswa untuk refreshing. Kebijakan ini menuntut para siswa agar lebih aktif. Bukan hanya siswa, para guru pun juga merasakan hal yang sama.  Kesibukan yang dialami para murid dan guru merupakan dampak tidak langsung dari diterapkannya Full Day School. Full Day School (FDS) adalah kebijakan Menteri pPndidikan hasil reshuffle era Jokowi, dimana selama 5 hari sekolah, kegiatan belajar mengajar diadakan selama delapan jam, dari jam 7 sampai jam 3-4 sore. Menurut KOMPAS.com 14 Juni 2017, Full Day School sebenarnya adalah wacana usang tahun 1994 yang pada saat itu ditolak para ulama-ulama NU. Mereka menolaknya karena kebijakan Full Day School dapat membunuh TPA/TPQ bahkan madrasah diniyah yang kebanyakan para siswa baru pulang sekolah pada sore hari. Pro-kontranya sendiri ialah, Full Day School membuat para siswa memiliki hari libur yang lebih panjang dan para orang tua merasa lebih tenang karena anaknya berada dibawah pengawasan sekolahnya hingga sore hari. Orang tua yang bekerja hingga malam hari pastinya terbantu dengan adanya kebijakan ini. Sedangkan, di kalangan kontra,  ada anggapan bahwa anak-anak akan merasa keberatan dengan sekolah selama delapan jam sehari.

Kebijakan FDS sendiri bukan hal yang baru bagi beberapa sekolah. Semenjak tahun 2000-an saja, sudah banyak sekolah-sekolah yang berbasis Full Day School, umumnya sekolah-sekolah tersebut merupakan sekolah IT (islam terpadu) yang menggunakan system FDS untuk menunjang mata pelajaran tambahan. Lima hari sekolah, dan dihari keenam, biasanya diisi kegiatan ekstrakurikuler. Lantas, bagaimana dengan sekolah yang tidak menerapkan sistem seperti di sekolah islam terpadu (IT)? Apakah pendidikan agama mereka terbengkalai? Apakah para orang tua mereka juga mengajarkan pendidikan agama dirumah?

Di era modern ini, banyak orang tua yang tidak memiliki waktu untuk membimbing anak-anaknya lagi sepulang sekolah, karena kesibukan bekerja. Sebab, menurut Iqbal, dkk (Jurnal Khasanah tahun 2016) kebanyakan dari orang tua sekarang ini memasrahkan anaknya pada instansi pendidikan tanpa mengontrol lagi aktivitas anak di sekolah. Mereka juga acuh dengan pendidikan agama yang anak-anaknya peroleh. Bagaimana tidak, pergi pagi, pulang larut malam tanpa sempat menanyakan kembali apa yang diperoleh anaknya di kelas. Mereka tidak tahu apakah anaknya sudah sholat dan mengaji atau belum. Padahal, Pendidikan agama itu penting untuk membentuk karakter para siswa. Mereka juga perlu memahami apa makna sebenarnya manusia itu menjalani kehidupan, lewat pendidikan agama yang mereka dapat. Setara Institute, Wahid Institute, bahkan Kemenag berpendapat Full Day School ini jangan sampai mendangkalkan keislaman seseorang.

            Terlepas dari banyaknya kontroversi dibalik kebijakan ini. Namun, semenjak tahun ajaran 2017, pemerintah sudah mewajibkan sekolah-sekolah menerapkan kebijakan FDS. Sebelumnya, sudah banyak sekolah-sekolah yang melakukan uji coba terhadap kebijakan ini. Hasilnya pun bagi mereka belum memuaskan. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa kebijakan ini masih diterapkan? Hal semacam ini sepertinya sudah biasa di Indonesia, dimana kebijakan Pendidikan selalu diubah-ubah ketika berganti pemerintahan tanpa memikirkan dampak dari kebijakan tersebut. Seperti kata syair yang terkenal di kalangan NU:

Al-muhafadzatu ‘ala al-qadiimi al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadiidi al-ashlah” (melestarikan budaya lama yang positif dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih positif).

Maka, sudah sebaiknya kurikulum lama yang telah jelas tetap diterapkan di Indonesia. Kemudian, merubah nilai-nilai yang masih kurang dalam kurikulum tersebut secara perlahan agar dapat di terapkan dengan baik di Indonesia, dan tidak terburu-buru.

Sebagaimana juga yang telah termaktub dalam QS Al-Mujaddilah ayat 11, Allah akan meningkatkan derajat orang yang berilmu. Allah akan selalu memuliakan orang yang berilmu. Namun, dengan catatan tentu saja ilmu yang diridhoi oleh Allah ialah ilmu yang berguna bagi maslahat umat. Bukan sekedar ilmu yang untuk diri sendiri saja. Untuk itu, Pertimbangan utama orang tua sekarang ialah menyekolahkan anaknya adalah agar kelak mendapatkan pekerjaan yang layak demi keberlangsungan kehidupan di masa mendatang, serta mendapatkan ridho Allah. (Zakiyyah Ainun Nayyiroh)

*Penulis adalah magang LPM Kognisia 2017/2018

 

ilustrasi: radargorontalo.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *