Untuk Orang-orang di Persimpangan Ideologi

“Man tötet den Geist nicht,” “Orang tak dapat membunuh semangat.” Kalimat sederhana Ferdinand Freiligrath ini sekilas menghentak. Ada rasa optimisme yang coba disusupkan. Barangkali sekedar mengusir rasa pesimis atau, lebih jauh, membangkitkan perlawanan dalam hidup. Paling tidak, begitu yang bisa saya pahami ketika kalimat ini merembus lewat pidato Sukarno yang terkenal berjudul “Indonesia Menggugat!”

Semangat juga adalah selempang, sebagaimana digambarkan Chairil Anwar dalam puisi “Diponegoro.” Selempang yang menemani kita untuk terus berjalan menghadapi apapun. Maju-Serbu-Serang-Terjang. Begitulah semangat, sampai ia menjelma dan hidup menjadi api yang kita sebut ‘ideologi.’

Dalam tiap-tiap pikiran, hati, dan jiwa manusia, ideologi bagaikan arah mata angin yang menuntun kita pada persimpangan-persimpangan dan di tiap persimpangan itu kita dihadapkan pada idealita, gagasan, seperangkat konsep-konsep. Ideologi bahkan membuat kita kagum atas indahnya gagasan, dunia ide, layaknya Plato yang menganggap segala di dunia bermula dari “Idea”.

Tetapi kita semua tahu, ideologi butuh proses. Kita mesti berjalan jauh dari berbagai ujung pikiran, melewati lintas batas, realitas, berhadapan dengan perspektif, kritik, dan petualangan-petualangan intelektual-spiritual  sebelum akhirnya betul-betul mencapai makna “kebenaran.” Seperti seorang tahanan, dalam Allegory Of The Cave Plato, yang akhirnya bebas menatap silau matahari setelah sekian lama hanya bisa menatap bayangan-bayangan di dinding goa.

Sayangnya, sebagian dari kita seringkali begitu terosebsi dengan ideologi hingga tak sadar ingin menjadi Nabi. Dalam keadaan ini, kita merasa perlu membebaskan kawan-kawan, yang menurut kita,  masih terkekang dalam gelapnya goa. Dan waktu kadang begitu susah dikompromi  kala kita  berharap dapat menjadi juru selamat dalam waktu yang singkat.

Lalu kita pun kecewa dan mulai berpikir untuk mencoba cara-cara instan. Kita lupa bahwa jalan ideologi mesti ditopang dengan susunan pengetahuan yang kuat dan hanya dapat dilakukan lewat pergulatan dialektis. Karenanya kita menjadi gelap mata, seperti halnya orang-orang yang ingin cepat kaya tapi putus-asa di tengah prosesnya.

Apa yang mungkin sekali kita lakukan? Hutang. Ya, kita hutang, meminjam darimana-mana dengan harapan bisa mendapat keuntungan berlipat ganda. Dalam konteks ideologi, kita bisa menyebutnya “hutang keilmuan.”

Kita membaca buku, tetapi enggan menyelami sampai kedalamannya, sampai halaman-halaman terakhirnya dan lebih memilih  di permukaan saja. Kita mendengar ceramah, petuah-petuah, tapi ogah merenunginya kembali dan menelaahnya sekali lagi.Padahal, setelah itu kita berbicara di depan kawan-kawan kita seperti orang yang tahu segalanya.

Ibarat baru belajar gerakan-gerakan dasar pencak silat, seperti kuda-kuda, tendangan dan pukulan. kita kan belum tahu, tendangan tungkai itu mesti diarahkan ke bagian tubuh apa, Tendangan T itu mesti di lampiaskan kemana. Tapi sudah berani mengajari orang seolah kita profesional betulan.

Tak sedikit dari kalangan kita, mahasiswa, yang berlaku seperti itu bukan?

Ada yang baru membaca buku Bumi Manusia halaman awal-awal, tetapi sudah lagak ngomongin sastra kiri-kanan dan sedikit-sedikit teriak revolusi. Ada yang baru kenal Jean Paul Sartre dan kemudian berlaku egois sembari membenarkan keegoisannya dengan dalih “Eksistensialisme.” Ada yang baru baca buku Rekayasa Sosial karya Jalaluddin Rakhmat lalu seenaknya mendiagnosis orang sesat pikir. Ada yang baru mendengar kutipan “Agama itu candu” dan langsung menghujat Karl Marx.

Begitulah kiranya realita saat ini. Ramai orang berhenti di persimpangan ideologi tetapi mereka acap kali tak memahami dan ogah berjalan jauh ke dalam pemikiran-perenungan atas berbagai pusat keilmuan.

Ketika obsesi menjadi Nabi-nabian, Agent Of Changes, dan juru selamat itu menggelapkan pemikiran, kita pun terlena. Begitu sadar (syukur-syukur sadar), kita telah menjadi intelektual kekimcil-kimcilan[1] yang banyak hutang lagi menyesatkan. Padahal sikap seperti ini juga mungkin sekali berdampak terhadap bagaimana kita memandang sesuatu.

Misalnya tentang komunisme. Kita bisa bicara banyak, soal komunisme, atau lebih spesifik Partai Komunis Indonesia. Kita koar-koar ke umum kalau mereka itu Partai Kapir yang busuk, tak bertuhan, sadis, dan gemar membunuh.

Oke, katakanlah kita sudah punya basis massa cukup banyak. Mereka mengikuti pemikiran kita yang benci komunis itu. Lalu suatu ketika, di antara massa kita, ada yang penasaran bertanya apa itu paham komunis? Bagaimana posisi PKI secara politik?

Dan bayangkan, kita cuma bisa menjawab dengan dasar dari film G30S/PKI karya Arifin Noer yang sudah sering dikritik karena, konon, banyak unsur manipulatifnya itu. Ditambah data blog yang abal-abal sebagai tambahan.

Kan jadi menyesatkan. Apalagi kalau massa kita sudah banyak yang baca lebih dari kita dan menemukan bahwa apa yang kita sampaikan kurang kredibel. Maka, sebaiknya kita bersiap untuk jatuh sejatuh-jatuhnya. Karena hanya itu yang akan menanti kita, kalau terus-menerus memelihara kebebalan. Ingat hutang selalu ada temponya.

Sebagai mahasiswa, semestinya kita memandang segala sesuatu secara terbuka dan mendalam. Artinya melihat dari semua sisi supaya pandangan kita tidak melulu hitam-putih. Dalam konteks memahami PKI seperti di atas, tentu akan lebih intelek kalau kita membaca berbagai analisis terkait peristiwa 1965 itu, misalnya dari bukunya Jhon Rossa (Dalih Pembunuhan Massal, 2008), analisisnya Benedict Anderson (How Did The Generals Die, 1987), atau disertasi Wijaya Herlambang (Kekerasan Budaya,2011), dan lain sebagainya.

Sama halnya, ketika kita memandang orang yang berbeda jalan ideologi dengan kita. Alangkah bijak kalau kita tidak membencinya secara serampangan, secara membabi buta, apalagi dengan menebarkan kebencian-kebencian ke junior yang tak tahu apa-apa. Padahal kita sendiri hanya tahu orang itu berdasarkan cerita atau kita hanya tahu ideologi organisasinya dari membaca buku sekilas saja. Sudah barang tentu dampaknya berbahaya.

Maka pesan saya, baik kepada diri sendiri maupun kawan-kawan sekalian, sesama petualang di jalan menuju kebenaran. Ketika kita bertemu di persimpangan ideologi, janganlah kita saling menjatuhkan secara  serampangan.

Oke, kita memang bertarung, itu sesuatu yang tak bisa dihindari karena di dunia ini pasti selalu ada tesis dan antitesis. Tapi pertarungan kita adalah pertarungan yang mesti berakar intelektual. Pertarungan yang mempertaruhkan susunan pengetahuan masing-masing bukan perang urat syaraf, apalagi sampai memakai represifitas. Sebagaimana para ilmuan, saling kritik-mengkritik untuk menemukan teori baru. Bukan semata-mata saling menghancurkan agar bisa muncul sebagai pemain tunggal.

Tapi di sisi lain, memang harus kita akui jika semangat berideologi juga adalah api yang bisa membakar apa saja. Barangkali itulah akar di balik sejarah kelam ketika para elit penguasa, agama, dan intelektual saling mempertaruhkan gagasan Indonesia ‘ideal’ mereka dengan jalan pertumpahan darah. Hasilnya: seorang Tan Malaka mesti dibunuh, Kartosuwiryo dieksekusi, ribuan orang dibantai tahun 65, dan Wijhi Thukul raib entah kemana.

Ideologi memang bukan persimpangan sederhana. Sesungguhnya di dalam ideologi terbentuklah wacana-sebagai sesuatu yang memproduksi sesuatu yang lain. Karenanya, kadang-kadang kita susah memastikan mana kebenaran individu, kebenaran mayoritas, dan kebenaran sejati. Sebab jalan ideologi dibuat dari dominasi. Di sana kita tak berjalan di jalan yang sunyi, namun kita berada di tengah-tengah atau bahkan di emper-emper sistem bernama “relasi kuasa.” (Sulkhan)

[1] Catatan: Kimcil di tulisan ini bermakna remaja yang banyak tingkah, suka pamer, sekaligus cerewet. Istilah ini tidak merujuk pada jenis kelamin atau profesi tertentu.

Ilustrasi Oleh: Bang Sat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *