Fanbul: Dari Nakal Menjadi Fenomenal

 

Menjadi mahasiswa bukanlah sebuah hal yang mudah. Bahkan, setelah menjadi mahasiswa, mereka belum tentu bisa mendapatkan gelar sarjana. Tugas-tugas yang menumpuk, godaan-godaan di tanah perantauan, belum lagi rasa jenuh terhadap rutinitas kampus, dan tuntutan lulus tepat waktu. Semua hal itu memanglah menjadi konsekuansi tersendiri bagi seorang mahasiswa. Hampir setiap mahasiswa mengalaminya, tak terkecuali yang dilalui oleh Irfan prabowo, alumnus Ilmu Komunikasi UII. Keinginannya untuk kuliah timbul karena alasan yang diluar kebiasaan orang-orang. Pria yang kerap disapa Fanbul ini merasa harus kuliah karena diejek oleh teman-temannya, bahkan dia menjadi taruhan oleh teman-temannya tentang berapa lama dia akan terkena DO.

Bisa dibilang, semenjak dirinya masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), pria kelahiran 5 Juni 1992 di Depok ini menjadi seorang pelajar yang ‘nakal’, menurut pengakuan Fanbul. Ia sering ikut tawuran, bolos sekolah, dan melanggar aturan sekolah sehingga membuatnya harus terkena DO sebanyak dua kali saat di bangku SMP. Ia pun menjalani homescholling dan ujian paket B untuk mendapatkan ijazah SMP. “Masa-masa anak muda yang seru,” tambahnya saat diwawancarai oleh reporter Kognisia.

Kebiasaan nakalnya saat SMP masih berlanjut hingga dirinya memasuki Sekolah Menangah Atas (SMA). Fanbul mengawali hari pertama SMA-nya dengan tawuran dan berakhir dengan Drop Out (DO) saat bulan ketiga. Untuk itulah Fanbul memulai homescholling lagi dan mengejar paket C untuk mendapatkan ijazah SMA-nya. Fanbul menjelaskan, salah satu alasannya terkena DO berkali-kali yaitu karena dirinya tidak cocok dengan sistem pendidikan dan merasa tidak mempunyai bakat apapun serta tidak adanya saluran untuk mengapresiasi dan menyaurkan energi berlebih yang dimilikinya dan teman-temannya.

Setelah lulus SMA, awalnya Fanbul tidak berniat melanjutkan kuliah dan ingin berbisnis saja. Sebab pada waktu itu, dia sedang memiliki bisnis di internet yang membuatnya memiliiki penghasilan. Bahkan untuk ukuran anak muda seusianya, penghasilan itu sudah lebih dari cukup. Ia pernah berkata pada Ibunya jika cita-citanya adalah menjadi penjaga warnet karena bisa mendapatkan komputer sekaligus internet gratis pada saat yang bersamaan untuk menunjang bisnisnya. Hingga pada suatu hari, ayahnya mengajak Fanbul mengelilingi Kota Yogyakarta. Sejak saat itulah muncul keinginan Fanbul untuk tinggal di Yogyakarta.

Akan tetapi, sang Ayah tidak serta merta menyetujui keinginannya itu. Ayah Fanbul memberikan syarat untuk Fabul, jika dirinya ingin tinggal di Jogja, maka ia harus melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Tidak banyak bertanya, Fanbul langsung menyetujuinya. Dari awal Ia memang memilih jurusan yang katanya nggak ribet Setelah sebelumnya Fanbul mendaftar di salah satu Universitas Negeri terkemuka di Yogyakarta. Namun saat akan melaksanakan ujian masuk, dia bercerita jika dirinya tidak ‘sreg’ (tidak cocok) sehingga dia memutuskan untuk kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi UII.

Jogja dan awal kuliah menjadi titik balik bagi seorang Fanbul. Seseorang yang tidak pernah mengikuti organisasi apapun, diangkat menjadi ketua angkatan tahun 2010. Mulai dari situlah dirinya berkembang dan belajar. Fanbul mulai mengikuti organisasi-organisasi, komunitas, dan kegiatan volunteer, salah satunya pada saat Gunung Merapi meletus, Fanbul menjadi salah satu relawan. Hal itu membuat jiwanya tersadarkan dan tersalurkan ke hal yang positif. Selain kegiatan volunteer, Fanbul juga aktif di organisasi internal kampus, dia pernah menjadi koordinator di lembaga kemahasiswaan tingkat Fakultas.

Jiwa sosial Fanbul yang sangat besar membuat tenaga dan pikirannya tersalurkan secara positif, dan pada tahun 2012, Fanbul merintis komunitas ‘Jogja Peduli’ bersama Anies Baswedan dan 20 komunitas lain. Tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 2013 dirinya mengikuti sebuah kompetisi ide gerakan sosial yang membuatnya menjadi Juara 1 dengan komunitas Saung Mimpi yang masih aktif hingga sekarang. Dari situlah, Ia mulai dikenal dan diundang di beberapa kegiatan baik itu di Indonesia maupun Negara lain, setidaknya terdapat 7 negara yang Ia datangi untuk melakukan teaching dan negosiasi terkait pendanaan. Total komunitas yang diikutinya selama ini sebanyak 7 komunitas dengan 6 komunitas merupakan komunitas sosial dan satunya adalah komunitas stand up comedy. Fanbul mengatakan, dari komunitas sosial itulah, Ia berusaha untuk menemukan dirinya sendiri dan teman-teman yang membantunya berkembang.

Selain komunitas sosial, sebagai anak Ilmu Komunikasi, Fanbul beserta teman-temannya mendirikan sebuah platform yang diberi nama ‘Hipwee’. Platform ini bergerak di bidang informasi, seperti berita atau penulisan kreatif. Menurutnya, Hipwee cukup terkenal dan sukses di kalangan mahasiswa sekaligus menjadi bahan penelitian skripsinya. Jejak fanbul tidak hanya berakhir sampai disitu, saat ini dia dan teman-temannya sedang merintis sebuah platform sosial yang bertujuan untuk menghubungkan para professional dengan komunitas sosial.

Terhitung semenjak dirinya masuk kuliah, pada tahun 2010, Fanbul menyandang status mahasiswa selama 7 tahun karena dia baru saja mendapatkan ijazah pada tahun 2017 ini. Walau begitu dia dapat membuktikan bahwa jika selama 7 tahun tersebut, dia bisa menemukan dirinya sendiri dan menemukan passion-nya di bidang kepemudaan dan komunitas sosial dengan proses yang panjang dan pengorbanan yang besar. Saat ini, Fanbul berdomisili di Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan konsultan digital sekaligus merintis bisnis di bidang travel. Keinginannya menuntut ilmu tidak hanya berhenti sampai di gelar sarjana saja, Fanbul berencana melanjutkan kuliahnya di bidang E-Business di Inggris. (Zahro)

Satu tanggapan untuk “Fanbul: Dari Nakal Menjadi Fenomenal

  • Oktober 16, 2017 pada 12:22 pm
    Permalink

    Ketika membaca tulisan2 seperti ini, jadi bikin optimis menjalani dunia kuliah 😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *