DEWASA

Seorang teman menunjukan saya sebuah foto di gawainya. Terlihat sebuah kutipan  “Kamu telah dewasa  ketika masalahmu tidak lagi sekadar masalah cinta,” kata unggahan OA Line yang sering dihina warganet karena terlalu lebay.

Seketika saya terpikir. Apa masalah yang telah saya rasakan akhir-akhir ini? Beberapa bulan lalu, umur saya genap 20. Di hari itu, saya habiskan hari dengan berjalan-jalan di kampung halaman. Umur 20 masih terbilang muda, namun saya merasa aneh saja ketika ada angka “2” di kepala umur saya.

Sudahkah saya dewasa?

Ada yang bilang umur 20-an merupakan penentu bagi hidup seseorang. Ketika dia telah hancur di umur segitu, maka kedepannya akan tetap hancur sehancur-hancurnya. Teman saya pernah berkata, “Andai saja kita hidup dua kali, maka bisa saja hidup kita yang pertama digunakan untuk eksperimen. Sayangnya, hidup kita hanya sekali.”

Walau umur saya baru mendekati 21. Tentu saja, saya juga pernah merasakan kegagalan dan kekecewaan. Saya gagal SNMPTN juga gagal SBMPTN, untung-untungnya orang-tua saya bersedia untuk membiayai saya kuliah di swasta. Tetapi, kegagalan itu telah menampar keangkuhan saya dengan keras.

Kegagalan dalam cinta pun saya tentu saja pernah merasakan. Pernah hubungan saya gagal karena saya dan dia sudah bosan. Pernah juga saya ditolak karena diri saya tidak sehebat apa yang dia pikirkan pertama kalinya. Bagi saya, cinta bukanlah suatu hal yang kita sembunyi-sembunyikan dan dicap kekanakkan. Manusia terlalu takut untuk kehilangan orang-orang disekitarnya. Ter-anomie kan.

Masa muda merupakan masanya kita mencoba-coba. Ada yang sesederhana mencoba mabuk dan menggunakan obat. Ada juga yang merepotkan orang banyak. Di kota asal saya, pernah ada sekumpulan anak muda mengadakan acara besar, pengisinya dj-dj besar. Namun, beberapa masalah menimpa mereka. Acara jadi gagal dan mereka patungan buat mengganti uang tiket pendatang yang tidak puas. Jumlahnya tidak main-main, ratusan juta mesti mereka cari dengan segera. Belum lagi menerima cercaan warganet.

Takut Gagal

Siapa yang berani lompat, maka harus siap untuk jatuh. Saat ini, banyak buku-buku dan talkshow yang membahas tentang orang-orang yang berani untuk “melompat,” lalu sukses di usia muda. Tetapi, benak saya berkata “ Sudahkah saya belajar dari orang-orang yang berani untuk “melompat” lalu gagal?”

Mungkin, Bill Gates bisa kaya raya walau gagal kuliah. Tetapi, bagaimana dengan jutaan orang lain yang upahnya pas-pasan karena tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi? Ketika melihat orang-orang sukses, seringkali yang dilihat hanya betapa bahagianya mereka sekarang. Bagaimana dengan keringat, darah dan air mata yang telah mereka keluarkan untuk mencapai semua itu?

Umur 20-an ialah umur dimana manusia menjadi semakin pendengki. Ada kedengkian tiap melihat seseorang di umur yang sama, memiliki hal-hal yang sepertinya terlalu tidak mungkin untuk didapatkan.

Dulu, seorang teman pernah mengirimkan saya sebuah video berbahasa inggris. Di dalam video tersebut, seorang motivator Amerika “Eric Thomas” sedang berteriak-teriak di depan sekumpulan siswa, “Dreaming is over.”

Ia menyebutkan dengan lantang bahwa generasi sekarang begitu sakit . Ia menyebut generasi saya ini sebagai generasi palsu. Memamerkan kehidupan palsu  lewat snapchat dan instagram.

You want the lifestyle but you don’t want to earn it.”

Tamparan

“Hidup itu indah, maka menangislah sepuasnya,” tulis Sapardi. Di masa-masa umur saya, saya perlu belajar lebih banyak tentang kehidupan. Pelajaran yang tidak saya dapatkan lewat manapun, kecuali lewat keringat, darah dan air mata.

Dulu sekali, saya pernah membeli sebuah baju kaos dengan warna yang norak. Tetapi, di tengah baju tersebut tertuliskan, “The biggest adventure you can take is to live a life of your dream.” Saya tidak pernah memikirkan secara mendalam makna dari kalimat tersebut sampai 4 tahun semenjak saya pertama membelinya. Apa yang saya impikan?

Mimpi

Barangkali kata “Dream” disini tidak secara saklek saya artikan sebagai mimpi. Ada kata “Adventure” disitu, yang namanya petualangan tidak berarti petualangan saya tanpa hambatan. Suatu saat pasti akan ada jalanan terjal, bebatuan tajam serta hujan yang deras.

Saya menemukan jalan baru dalam petualangan saya. Jalan untuk menjadi apa adanya. Jalan dimana saya tidak perlu berharap terlalu banyak dengan hal-hal materiil dan orang lain. Jalan dimana saya hanya perlu menjalani apa yang ada hari ini, dan tidak muluk-muluk hidup dalam mimpi saja.

Segalanya begitu sederhana. Jika saya jatuh ya sudah, jika saya sukses ya syukur. Tidak ada yang perlu dibanggakan atau dikhawatirkan. Nikmati apa yang disajikan.

Konon, nama saya sendiri “Satya,” dapat diartikan sebagai “Jalan penghidupan yang tentram, bahagia dan merdeka.” Semestinya saya menjalankan filosofi dari nama yang saya miliki. Menjadi bahagia ialah menjadi merdeka. Barangkali, orang tua saya menamai saya begitu agar saya paham  bahwa bahagia tidak melulu menjadi orang kaya atau memiliki pasangan cantik.

Dewasa

Ternyata, kedewasaan bukan berarti saya mesti depresi dengan masalah-masalah hidup. Kedewasaan bisa saja datang ketika saya dengan bijak menikmati hidup apa adanya. Tidak ada kedengkian yang merusak, atau ketakutan untuk gagal.  Saya belajar lewat kaos jelek yang saya beli dengan iseng.

Albert Camus pernah mengatakan, sebuah cerita tidak selalu mengenai akhir yang bahagia, tetapi tentang perjalanan cerita tersebut. Untuk para pembaca: Selamat menikmati petualangan. (Bang Sat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *