Ketakutan Malam Jumat

 

 

Beberapa hari yang lalu, di Purworejo, tempat KKN yang dulu pernah menyita waktu. Saya kembali menapakkan kaki dan menebar senyum sasmita kepada semua orang yang ada di seberang jalan. Mathuk-mathuk dan mongga-monggo selalu jadi isyarat kalau sudah mulai masuk wilayah desa.

Ya, jika boleh jujur, memang hati sudah tertambat di sana, jemari sekejap jadi berat jika harus melangkah pergi. Memang rutin saya kunjungi, setidaknya sebulan sekali untuk terus mengerjakan program KKN yang belum selesai.

Ya, Kaliglagah, desa yang selalu meredam amarah. Desa yang penduduknya masih jarang sholat Jumat tapi tahlilan selalu berangkat. Penduduk yang masih berpegang adat dengan erat. Masih suka Ndolalak, Jathilan, Kuda Kepangan dan manjat anjir (panjat pinang). Mereka percaya leluhur masih punya kuasa dan masih punya taji.

Nah, beberapa waktu lalu saya secara tiba-tiba ingin ke sana. Mungkin karena sudah bosan dengan aroma Jogja yang tak lagi ramah dan sedang pada masa dimana pilihan pulang ke rumah adalah jalan yang salah. Hahahaha.

Ketika itu malam Jum’at dan saya tiba setelah adzan Maghrib. Saya mampir dulu ke rumah Pak Kadus Sutris, bapak baru pasca KKN. Sembari menunggu jamaah sholat maghrib datang dan sholat didirikan saya duduk dan istirahat sebentar untuk kemudian berjamaah bersama warga. Sayup-sayup terdengar satu pujian atau sholawatan atau nyanyian di waktu senggang antara adzan dan iqomah di kumandangkan. Pujian ini amat keramat, karena hanya dilantunkan di malam jumat.

Begini pujiannya,

Dina malem jum’at ahli kubur bali ngomah
Njaluk dikirimi wacan Qur’an sak kalimah
Ora dikirimi ngusap dodo mrebes mili
Bali ning kubur, tudhung tangan karo tangisan.”

 

Waduh, sekonyong-konyong perasaan saya terperanjat, duduk menjadi tidak nikmat, dunia serasa kiamat, mata terbelalat, niat taubat buru-buru di semat. Dan bau menyan di hidung yang teramat padat.

Kok saya jadi mikir dan agak deg di hati kalau semua orang juga mau mati. Entah sekarang atau nanti. Kemudian membayangkan kalau arwah saya nanti yang berdomisili di kubur, melakukan kunjungan kerja ke rumah anak-anak saya nantinya di dunia.

Lalu perasaan takut muncul, kalau tanpa dinyana-nyana anak saya malah santai-santai menonton TV di malam Jumat bukan malah membaca Qur’an dan dua kalimat syahadat. Sedang bapaknya di kubur sedang sekarat.

Bayangan saya ketika itu terjadi, arwah saya akan masuk dalam mimpi anak saya dan memaki dia.

“Lee, koe ki wis susah-susah tak rumat, kawit cilik wis ngentekno ragat. Nah jaman saiki wis do tamat malah teturon nikmat neng malam jum’at. Koe saiki dadi pejabat kui kerono bapakku awet prihatin ngruwat. Tak sepiti meneh koe !  “

Haha mungkin anak saya langsung tahlilan setelahnya. Itu ketakutan yang pertama. Tidak didoakan anak saya. Wajar kalau takut, karena ketika mati ikatan kepada dunia hanya tersisa tiga perkara. Ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan doa anak sholeh.

Katakutan ke dua, saya jadi takut mati. Sadar diri kalau banyak yang belum di perbuat semasa hidup, padahal kita tidak pernah tau kapan takdir mati akan datang. Saya juga bukan Soe Hok Gie yang mensyukuri kematiannya di Semeru atau Joshua Karabish tokoh rekaan Budi Darma yang telah siap mati karena penyakit yang tak bisa disembuhkan namun meninggalkan puisi hebat. Saya cuma seonggok manusia biasa yang mati mungkin hanya meninggalkan nama.

Kemudian saya terbayang, Mbah Kaum (Kaur Kesra Desa atau orang yang dianggap mumpuni dalam agama) berkata di setiap pidato pemakaman sebelum keranda diberangkatkan.

“Allah sampun dawuh, kullu nafsin dzaiqotul maut. Saben-saben menungso iku mesti kemetuk mati (setiap orang pasti bertemu mati).”

 

Dualah Gusti, nggeh nggeh kulo rumongso, mboten nggersulo.

Nah ketakutan ke tiga yang saya rasakan adalah saya takut kalau didatangi simbah-simbah saya dalam mimpi dan membayangkan simbah saya berkata seperti apa yang saya katakan kepada anak saya dalam bayangan ketakutan pertama saya.

“Lee, koe ki wis susah-susah tak rumat, kawit cilik wis ngentekno ragat. Nah jaman saiki wis do tamat malah teturon nikmat neng malam jum’at. Koe saiki dadi pejabat kui kerono bapakku awet prihatin ngruwat. Tak sepiti meneh koe !”

 

Waduuh, kok ngeri kalau benar simbah saya mau datang mengkebiri. Langsung selagi ada waktu. Saya gesa-gesakan kirim alfatihah pada simbah-simbah saya, karena ternyata sudah lama saya tidak nyekar doa dan nyekar kembang di makamnya.

 

“Khusuon ila abaina wa ummahatina wa ajdatina wa jaddatina, alfatihah.” sambil komat-kamit bibir saya.

Hati menjadi agak tenang. Ada sedikit kelonggaran nafas.

Tapi tiba-tiba ada suara yang mengusik ketenangan saya dari dalam musholla.

“Assalamualaikum wa rohmatullah, Assalamualaikum wa rahmatullah. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin.”

“Jangkrik !” kata saya dalam hati. (Fajrul Falah Wasangsuna, Mahasiswa Psikologi 2013)

Yogyakarta, 15 Juli 2017

 

Ilustrasu oleh: Bang Sat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *