Gondrongisme

Apa masalahnya berambut gondrong? Terkesan tidak rapi? Rapi tidaknya seseorang tidak diukur dari rambut. Terlalu rumit. Toh yang berambut pendek-pun masih urak-urakan. Rapi atau tidak, itu hanyalah masalah persepsi, dan persepsi tergantung dari mindset Anda. Apakah gondrong terlihat seperti preman? Semoga saya tidak lupa jasa-jasa tokoh dari jamannya Plato merenung sampai jamannya Gadjah Mada melawan penjajah. Mereka orang baik. Mereka orang gondrong. “Mbok jangan terlalu menggeneralisir toh. Jaman dulu kan nggak ada Barbershop, makanya rambutnya pada panjang”. Saya yakin betul bahwa tukang cukur sekarang bekerja untuk mencari nafkah dengan melayani jasa bagi orang-orang yang sudah gerah dengan rambutnya yang lumayan panjang dan dirasanya memang sudah waktunya untuk dipotong, bukan untuk “menggunting” stereotype buruk yang melekat pada laki-laki gondrong.

Apakah karena mereka laki-laki; tidak sepantasnya berambut panjang seperti perempuan? Jika Anda masih memakai nilai “kodratnya laki-laki berambut pendek dan perempuan berambut panjang” bukankah sama halnya dengan “laki-laki tidak sepantasnya memasak”. Pekerjaan perempuan, toh? Saya teringat si A’a Burjo yang sering memasak nasi telur pesanan saya. tidak sepantasnya laki-laki memasak, A’a. itu adalah pekerjaan perempuan. Astaga. Juga, jangan lupa bahwa sekarang kebanyakan koki itu laki-laki. Melenceng dari nilai di atas? Mari sama-sama mengoreksi mindset.

Ya, saya menjadi satu dari sekian spesies manusia berambut gondrong. Hampir dua tahun belakangan saya tidak menginjakan kaki bahkan menolehkan mata sedikitpun ke barbershop. Saya memang punya kebiasaan memanjangkan rambut ketika masa SMA. Jika tiba “waktunya”, saya menjadi “dagangan laris” oleh guru-guru kala itu, bahkan saya terkenal bukan sebagai murid berprestasi, pecandu kegiatan ekstrakul-bolos, atau nakal atau apalah – tapi murni karena rambut itu. Memang, dalam rentang waktu tertentu, guru-guru akan melakukan razia rambut pada murid laki-laki. Razia rambut menjadi momen-momen horror.

Kebiasaan SMA yang tidak begitu “bebas” itu saya balaskan sekarang – masa kuliah.

Dan, inilah saya sekarang. Spesies mahasiswa dengan rambut panjang sebahu, yang jika terkena angin bisa berayun-ayun. Spesies tidak rapi di mata pegawai atau pejabat instansi formal macam dosen, tentara, dan polisi. Saat kesempatan pulang kampung, sang ibu beberapa kali berkomentar “cantik yah rambutmu, mau potong kapan, nih?” Hingga si mbah-mbah saya berkomentar bahwa saya mirip sang bapak. Ya! Bapak saya dulu juga gondrong. Wah pantes aja ada benih-benih pengikutnya. Di lingkungan masyarakat, ada yang memandang saya kewanita-wanitaan, gaya kuno mirip Wiro Sableng, bahkan pernah disangka dukun! haha ada-ada aja.

Sementara di kampus, ada yang bilang mirip Skrillex, juga ada yang menyuruh digimbal seperti Bob Marley, bahkan ada teman perempuan memanggil saya Pretty Boy, dan hal-hal aneh lainnya. Berbagai pandangan dan respon orang-orang sekitar sudah menjadi hal yang biasa bagi saya.  But seriously I’m gonna treat it all with a mature thinking.

Suntikan Seni: Pembebasan diri

” Seorang Kurt Cobain berambut gondrong. Juga Axl Rose, John Lennon dan Bob Marley. Hmm.. Musisi sepantasnya berambut gondrong. Penulis, Budayawan dan Pelukis terkenal, Sujiwo Tejo juga gondrong. Seniman pasti punya pemikiran yang tidak disangka-sangka. Pasti ada maksudnya mereka membiarkan rambutnya tumbuh” Begitulah kira-kira saya berkata dalam hati.

**

Dulu, saat masa-masa SD, saya hampir tidak naik kelas lantaran nilai matematika hampir anjlok. Buku-buku matematika yang dibelikan oleh orangtua dan saudara-saudara saya biarkan. Kalaupun saya membacanya, butuh waktu lama untuk memahaminya. Saya juga sering keluyuran dengan teman-teman sekolah maupun anak-anak tetangga samping. Mungkin itu yang menjadi sepersekian persen alasan saya mengambil jurusan dengan ilmu humaniora ketimbang eksak. Kalaupun saya sedang di rumah, yang saya lakukan hanyalah mendengarkan musik, main gitar atau sekedar coret-coret (gambar) tokoh anime. Rutinitas itulah yang membuat bapak berkata langsung pada saya dan didengarkan juga oleh anggota keluarga saya yang lain saat reuni keluarga (baca: lebaran). “Kamu memang nggak pandai sama hitung-hitungan, beda sama kakak-kakakmu. Kamu cocoknya ilmu-ilmu sosial atau nggak seni”

**

Lalu hubungan berambut gondrong dan jiwa seni seseorang itu apa?

Seniman, sederhananya adalah orang yang menghasilkan karya seni. Karya seni adalah bentuk penyampaian pesan oleh seniman (ya dibalik aja sih). Nah, jika dicermati, seorang seniman tidak hanya menyampaikan pesan melalui karya saja, tapi juga bisa dilihat dari penampilan dan gayanya yang nyeleneh. Jangan salah, gaya nyeleneh mereka bukan tanpa makna. Salah satunya dengan berambut gondrong. Seniman selalu suka dengan “kebebasan” berekspresi dan tidak suka nilai standar. Maka berambut gondrong menjadi bentuk kebebasan berekspresi yang mereka tampilkan ke hadapan umum. Berambut gondrong menjadi bentuk pembebasan dari nilai standar di masyarakat; laki-laki harus berambut pendek. Mainlah ke Institut Seni Indonesia di jalan Parangritis sana. Jangan heran jika ada banyak mahasiswa gondrong. Tapi gak semua seniman berambut gondrong sih, mereka mempunyai caranya masing-masing dalam mengaktualisasikan kebebasan.

Saya tidak mengklaim bahwa saya seorang seniman, juga tidak ingin disebut seniman. Tidak perlu menjadi seniman untuk memelihara jiwa seni. Saya memotret senyum bersahaja petani sawah lalu memilih filter monochrome (hitam-putih) di saat yang lain kebanyakan memilih berwarna. Saya bebas meng-upload foto sampah berserakan ketimbang pemandangan indah (yang saat ini booming) ala anak traveller dadakan. Atau saya akan memilih membaca buku dalam kamar ukuran 3×4 ditemani suara lawas Eric Clapton dan cangkir kopi sambil tiduran dan mengangkat-ngangkat kaki di tembok ketimbang di perpustakaan kampus yang suasananya begitu “kaku”. Saya bebas memilih berlaku “beda” dengan nilai-nilai standar itu; saya memilih berambut gondrong. Itulah yang saya ambil dari seni; suatu kebebasan berekspresi.

Mungkin hal ini seakan berbisik pada diri saya sendiri “apakah kamu tidak malu dengan rambut gondrongmu tapi tidak bisa membuat karya, walau hanya hal sederhana macam coretan-coretan seperti ini?” 

Melawan

Seperti yang telah disinggung diatas, di masyarakat, sekolah, maupun kampus masih ada stereotype bahwa mereka yang memelihara rambut gondrong ingin mengikuti jejak-jejak preman, tipikal tidak mau diatur, bahkan seringkali disebut (maaf sekali!) tidak mengenal sopan-santun. Oh Tuhan, semoga saya tidak lupa juga bahwa Muhammad SAW rambutnya panjang sebahu.

Jika menelaah sejarah, kita akan tau mengapa gondrong begitu buruk. Saat era rezim Soeharto, beliau dengan terang melakukan razia terhadap orang-orang yang berambut gondrong. Gondrong diidentikan dengan budaya Hippies. Tidak cocok dengan kepribadian bangsa (katanya). Mahasiswa, seniman, budayawan, dan si gondrong-gondrong lain seakan bertanya “apa hubungannya? laki-laki gondrong juga udah ada sejak jamannya kerajaan-kerajaan nusantara ini. Ah ngaco”. Razia itu dianggapnya lucu.

Ada usaha unik yang dilakukan oleh mahasiswa, seniman, budayawan dan gondrong-gondrong lainnya. Ketika rezim tetap bersikeras melakukan kampanye anti-gondrong, saat itulah mereka melakukan kampanye anti-orang gendut – sebuah bentuk kekecewaan terhadap banyaknya korupsi yang terjadi.

Sayangnya, kita hanya mengambil “gondrong yang dibenci pemerintah”, bukan “gondrong yang melawan ketidakadilan pemerintahan”.

Saya tidak menyalahkan langsung anggapan-anggapan masyarakat tentang rambut gondrong saat ini. Saya sadar, saya dibekali akal untuk ‘berpikir’. Bagi saya, semua anggapan buruk itu adalah dampak langsung dari masa Orde Baru di atas.

Beberapa pihak yang telah “mencicipi” masa-masa Orde Baru masih mengambil pandangan bahwa rambut gondrong dulu dibenci oleh pemerintah, dengan imbas “cap buruk” yang masih tertanam dan seenggaknya harus dipunahkan. Ditambah lagi, peran media sangat kental. Adanya framming tentang (secara tidak langsung) mengaggap bahwa berambut gondrong begitu jahat, buruk dan hal-hal negatif lainnya. Contoh sederhananya adalah tayangan FTV indonesia, dimana tokoh-tokoh jahat sebagian besar diperankan oleh orang bertato dengan rambut khas gondrong. Menculik anak kecil lah, jadi tukang malak lah, preman kampung lah. Pokonya negatif (titik).

Bagi saya, ada sesuatu yang bisa diambil dari fenomena semacam itu. Gondrong adalah bentuk perlawanan. Bukan melawan dengan berteriak-teriak, memaksa atau bermain kasar, bahwa gondrong itu sama dengan yang lainnya. Berdemo menolak kebijakan pemerintah yang dilengkapi catatan kata-kata “sakit hati” dan bermodalkan rambut gondrong ala-ala mahasiswa saat ini yang nyatanya hanya sekedar ikut-ikutan. Dan gak semuanya juga yang demo itu gondrong. Perlawanan bagi saya adalah bagaimana, saya dengan rambut panjang ini melawan semua stigma dengan tetap membawa sejatinya mahasiswa yang berintelektual. Biarkan kesadaran menjawab.

**

Akhirnya, mari membuka mata. Mari membuka mindset. Saya akui, kita sekarang hidup dalam dunia “kemasan”. Sesuatu apapun yang tampak dari luar sudak cukup jelas menggambarkan apa yang ada dalam dirinya. Peribahasa Barat “don’t judge a book by its cover” terdengar layaknya lawakan klise. Gondrong itu ya preman-lah, pribadi yang tidak mau diatur, anarkis, pemberontak, nakal dan sitgma buruk lainnya. Mereka lupa kalau semua muslim tidak mau dicap teroris oleh karena kelakuan buruk yang dilakukan oleh kelompok islam radikal macam ISIS dan saudara-saudaranya. Sama-halnya dengan laki-laki gondrong. Tidak semuanya begitu dan tidak ada satupun laki-laki berambut gondrong yang mau digeneralisir seperti itu. Kalaupun ada yang buruk, toh cuman kebetulan.

Sudahlah, tidak ada faedahnya berdebat keras malawan stigma-stigma itu. Yang ada mungkin malah dijadiin bukti kuat bahwa laki-laki gondrong memang suka melawan, pemberontak! Duh. salah meneh. Yang diperlukan hanyalah kesadaran. Entah itu disadari secara langsung atau tidak langsung. Saya hanya perlu “memanjangkan” intelektual sebagaimana memanjangkan rambut. Merawat sopan santun segamainana merawat rambut. Menyuburkan ideologi sebagaimana menyuburkan rambut. (Iqbal Kamal, Magang Kognisia 2017)

 

Salam Gondrongisme (baca:gondrong-is-me). Udah itu aja.

Ilustrasi: Bang Sat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *