Dari Chester Hingga Jonghyun: Depresi, Bunuh Diri, dan Tantangan Ke Depan

 

“Real depression is not being sad when something in your life goes wrong. Real depression is being sad when everything in your life goes right” – Kevin Breel.

Belakangan ini beberapa peristiwa kematian dilatarbelakangi oleh depresi. Sebutlah Chester Bennington, Robbin Williams, Chris Cornell, hingga Kim Jonghyun. Jika dilihat sekilas, kehidupan nama-nama di atas terlihat menyenangkan dan ‘aman-aman saja’. Pendidikan lumayan. Karier juga oke. Apalagi ekonominya mantab bosque. Namun depresi memang sesuatu yang tidak disangka-sangka. Linimasa diramaikan dengan gangguan mental yang satu ini. Barangkali hal tersebut mendorong penulis untuk mengutarakan dan ingin menyinggung beberapa hal terkait gangguan ini, gangguan yang ternyata mampu berujung bunuh diri.

Pertama, mereka yang depersi hingga berujung bunuh diri adalah ‘korban’ bukan pelaku. Bagaimana bisa?

Kita setuju bahwa tidak ada manusia yang tidak mempunyai masalah. Hidup adalah tumpukan masalah. Sayangnya, untuk beberapa kasus, mereka yang depresi ibarat manusia mungil yang kalah besar dari masalah hidupnya. Persepsinya begitu. Mereka adalah korban dari masalahnya sendiri.

Mereka yang depresi, lalu berujung bunuh diri-pun masih berstatus korban, bukan pelaku. Memang, secara pikiran sehat mengatakan mereka yang mengakhiri hidupnya sendiri sebagai korban tidak masuk akal. Pembaca boleh tidak menerima pernyataan tersebut, tidak ada paksaan. Pembaca boleh tidak menyetujuinya karena berdasarkan dalih agama – bunuh diri adalah ‘perbuatan’ yang didorong oleh syeitan. Namun, jika bepikir abstrak, bukankah kita sendiri syeitan yang membiarkan mereka tersiksa tanpa pertolongan?

Kedua, masalah ‘iman’. Masalah yang banyak diributkan netizen yang budiman.

“Imannya lemah, makanya bunuh diri” Komentar salah seorang netizen.

Penulis tidak tahu ‘iman’ yang dimaksud adalah iman dalam artian yang mana. Menurut KBBI, iman adalah (1) kepercayaan atau rasa percaya yang berkenaan dengan hal agama, dan (2) kemantapan hati, ketetapan hati, keseimbangan batin. Barangkali penulis ingin sedikit membelokkan iman yang dimaksud. Maka, ada dua poin yang berkenaan dengan iman tadi, yaitu religiusitas dan self -confidence.

Sebuah peneitian longitudinal telah dilakukan oleh Leurent dkk (2013), dengan cakupan beberapa negara dan mendapatkan fakta yang cukup unik. Dilansir dari CBCNews (26/12/17),  seseorang yang religius justru lebih depresi dibanding yang tidak religius. Penelitian itu mennyatakan bahwa 10,3 persen partisipan religius menjadi depresi, dibandingkan dengan 7,0 persen untuk partisipan atheis . Barangkali hal senada juga pernah diungkapkan oleh salah seorang dosen psikologi Universitas Islam Indonesia, kebetulan penulis mengambil mata kuliah dengan beliau. Pada suatu sesi kuliah, dosen yang kerap disapa Pak Ali itu mengatakan bahwa ia mempunyai mahasiswa yang telah menyelesaikan skripsi dan berdasarkan hasilnya, orang religius justru lebih rentan depresi. Alasannya tidak dijelaskan secara detail. Barangkali itu hanya penelitian korelasional. Setidaknya masih serupa dengan penelitian Leurent dkk.

Jadi, penulis dengan gamblang menyimpulkan bahwa depresi tidak mengenal suatu agama, tidak mengenal apakah ia ‘beragama’ atau tidak, apakah ia miskin atau kaya. Depresi akan menyerang siapapun. Mungkin yang berbeda hanyalah cara pulih dari depresi itu sendiri.

Untuk kasus depresi, ada orang yang mampu keluar dari masalahnya dan ada yang tidak mampu keluar dari masalahnya; berujung bunuh diri. Hal itu justru melahirkan dua premis yang menjadi paradoks. Seperti yang kita yakini selama ini (1) Tuhan memberi masalah/cobaan tiap insan ‘sesuai’ dengan kemampuannya. Namun faktanya, (2) tiap manusia mempunyai kapasitas yang berbeda dalam menghadapi masalah, dalam artian bahwa ada yang tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri – tidak punya kapasitas yang mumpuni dan begitupun sebaliknya. Ada yang rentan terhadap deprsei, ada yang tidak.

Menjawab paradoks itu cukup sederhana saja. Pertama, jika mengacu pada tingkat religiusitas, Tuhan selalu siap kapanpun dan dimanapun untuk menjadi pendamping bagi masalah hidup yang berkedok depresi bagi hamba yang punya ‘iman’ kepada-Nya. Asumsi penulis juga sama, seseorang apabila selalu mengingat-Nya pasti akan mempunyai hati yang tenang. Sekiranya tidak ada yang membantah.

Ronneberg dkk (2014) juga membuktikan dalam penelitiannya. Ia menemukan bahwa religiusitas memang berpengaruh terhadap depresi, dimana semakin tinggi religiusitas seseorang maka semakin tinggi pula kemampuan seseorang untuk ‘pulih’ dari depresi.

Apakah penelitian itu akurat, dalam artian hanya untuk seseorang yang religius saja? Bagaimana yang konon imannya lemah itu? Atau bahkan yang tidak punya iman sama sekali. Apakah ia kesulitan pulih dari depresi? Menurut penulis, diluar sana bahkan seorang atheis tidak jarang bisa pulih dari depresi. Atau, kita tahu bahwa Selena Gomez bisa pulih dari depresi bukan karena ia sering menghadiri gereja tiap minggu.

Alternatifnya adalah semacam uluran tangan harapan, empati, hingga self-confidence. Tidak perlu jauh-jauh dengan dalih agama untuk menolong mereka yang depresi. Tidak perlu berkomentar imannya lemah. Tidak perlu bertanya agamanya apa. Hal yang tidak akan merubah apapun. Yang perlu dipertanyakan adalah, apakah kita benar-benar manusia atau tidak – yang konon berperikemanusiaan.

Katakanlah jika mereka ‘jauh’ dari agama-pun, Tuhan tetap Maha Adil. Tuhan menciptakan kurang lebih 7,6 miliar manusia di muka bumi, atau hanya 257 juta  manusia Indonesia untuk satu, dua atau tiga diantaranya  menjadi pendamping bagi ia yang mengalami depresi, membawanya keluar dari lubang hitam yang gelap dan hampa itu. Mereka hanya membutuhkan uluran tangan harapan dan empati. Entah dari keluarganya, teman, atau psikolog/psikiater. Hal ini akan membentuk self confidence bagi mereka yang depresi. Self confidence adalah suatu keyakinan individu terhadap dirinya sendiri, tentang bagaimana ia mampu keluar dari depresi dengan penuh percaya diri dan pikiran positif.

Dilansir dari Psychcentral.com (29/04/14), menurut Dr. Lars Marsen, seorang psikolog klinis berkebangsaan Australia, self confidence sendiri, akan membentuk self esteem yang menjadi salah satu faktor kunci untuk pulih dari depresi.

Ketiga, menyinggung kembali isu kesehatan mental, dalam hal ini adalah depresi.

Juli lalu, mendiang Linkin Park yang kerap disapa Chester mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Ia mengalami depresi. Penulis sendiri bisa dikatakan cukup nge-fans dengan Linkin Park, lumayan paham mengenai para musisi Barat, dan berteman dengan banyak sesama penggemar band Barat di media sosial Facebook. Timeline dipenuhi oleh kesedihan, kekesalan, kekecewaan. Tidak  hanya itu, kampanye anti-depresi juga digencarkan. Kampanye itu digerakan secara masif. Usaha yang bagus. Namun perlahan menurun termakan waktu.

Lagi-lagi, beberapa hari terakhir isu ini kembali naik. Berita kematian Jonghyun, anggota grup SHINee seketika menjadi kata kunci populer di Google. Kampanye anti-depresi kembali digerakan. Itu hal yang baik. Usaha yang bagus. Tapi isu ini hanya bersifat banal. Penulis memprediksi isu ini akan termakan waktu juga, sama halnya kematian publik figur yang lainnya. Tinggal menunggu korban berikutnya, lalu menaikan kembali isu kesehatan mental; kampanye anti-depresi.

Sebenarnya, kampanye anti-depresi yang gercep itu usaha yang patut diapresiasi. Hal itu menandakan bahwa masih ada empati di dunia ini. Namun, jauh lebih baik jika isu ini tidak hanya sesaat ketika ada korban, apalagi linimasa akan ramai jika korban adalah publik figur. Jangan sampai depresi hanya menjadi isu musiman. Jangan sampai. Perhatikan orang-orang terdekat sekarang. Apakah mereka aman-aman saja?

Keempat, Sejauh mana kita benar-benar aware terhadap masalah kesehatan mental? Lebih rinci lagi, bagaimanakah kasus kesehatan mental di Indonesia? Tapi penulis membatasinya pada kasus depresi saja, melihat gangguan mental yang ini cukup urgent untuk dibahas.

Sekiranya problem ini jangan hanya menjadi konsumsi komunitas psikologi dan psikiater saja. Atau diluar itu yang tidak punya latar belakang ilmu jiwa. Untuk kasus depresi terakhir hanya hangat di kalangan K-popers saja. Seringkali kasus tersebut kita anggap jarang terjadi di Indonesia, atau kita anggap banyak terjadi di negara lain saja, bukan berati kita tidak perlu aware terhadapnya.

Dilansir dari Tirto.id (24/03/17), Pada titik tertentu, depresi memang dapat berujung pada bunuh diri. Data yang dikeluarkan oleh WHO pada 2012 memperkirakan terdapat 350 juta orang mengalami depresi, baik ringan maupun berat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia pada 2013, menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional —yang ditunjukkan dengan gejala depresi dan kecemasan— adalah sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas  atau  sekitar 14 juta orang. Sementara untuk kasus bunuh diri di Indonesia, rasio bunuh diri sebesar 4,3 per 100.000 penduduk pada tahun 2012 .

Kemudian dilansir dari Sindonews.com (22/03/17), pada tahun 2016 rasio bunuh diri di Indonesia adalah 3,7 orang per 100.000 penduduk menurut data dari World Health Organization (WHO). Hal itu menempatkan Indonesia di urutan ke-8 untuk kasus bunuh diri di Asia Tenggara. Data tersebut menunjukan penurunan kasus serupa empat tahun sebelumnya.

Apakah itu pertanda yang baik? Belum tentu. Sebab tidak ada data yang lebih bersifat nasional terkait kasus bunuh diri di Indonesia, selain dari WHO (Wirasto, 2012). Di Indonesia, banyak kasus bunuh diri tetapi  jarang dilaporkan. Sekiranya masih banyak yang menganggap bahwa bunuh diri adalah hal yang tabu dibicarakan di masyarakat. Pemikiran seperti itu justru akan membuat psikolog, psikiater dan juga peneliti mengalami kesulitan dalam mengumpulkan data dan mencari solusi untuk masalah ini.

WHO sendiri (dalam Dirgayunita, 2016) memprediksikan bahwa pada tahun 2020, depresi akan menjadi salah satu gangguan mental yang banyak dialami dan depresi berat akan menjadi penyebab kedua terbesar kematian setelah serangan jantung. Berdasarkan data WHO tahun 1980, hampir 20% – 30% dari pasien rumah sakit di negara berkembang mengalami gangguan mental emosional seperti depresi.

Kelima, kurangnya tenaga profesional.

Upaya edukasi serta pemberian layanan terhambat oleh minimnya tenaga profesional. Saat ini Indonesia  baru memiliki sekitar 451 psikolog klinis (0,15 per 100.000 penduduk),  773 psikiater (0,32 per 100.000 penduduk), dan perawat jiwa 6.500 orang (2 per 100.000 penduduk).  Padahal WHO menetapkan  standar jumlah tenaga psikolog dan psikiater dengan jumlah penduduk adalah 1:30 ribu orang, atau 0,03 per 100.000 penduduk.

Sementara rasio tenaga profesional memiliki pengaruh terhadap kesehatan mental masyarakat. Merujuk pada data, Malaysia dan Filipina —yang memiliki tingkat bunuh diri lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia— memiliki rasio psikiater yang lebih tinggi dari Indonesia.

Sekiranya tenaga profesional yang minim harus menjadi perhatian lebih oleh pemerintah. Eduksi mengenai masalah kesehatan mental seyogianya menjadi tanggung jawab tenaga profesional baik psikolog maupun psikiater. Kepada pembaca yang sedang menempuh ilmu jiwa atau teman-teman mahasiswa psikologi, hal ini menjadi tantangan bersama kedepannya.

Tidak hanya itu, pembaca yang tidak mempunyai latar belakang ilmu jiwa-pun bisa turut ikut serta dalam upaya ini. Sekedar mendengar curhat saudara sekitar atau menjadi ‘tong sampah’ bagi tumpukan masalahnya lalu berempati kurang lebih mampu meminimalisir permasalahannya. Jangan sesekali mengatakan kepadanya “Ih, baperan.. gitu aja sedih” . Percayalah bahwa kalimat itu adalah kalimat yang tidak kalah menusuk dengan “maaf, Anda belum dinyatakan lolos SBMPTN bla bla bla”. (Iqbal Kamal, Magang Kognisia 2017)

Ilustrasi Oleh: Bang Sat

Daftar Pustaka:

[1] KBBI V. 2016

[2] Leurent, B., dkk. 2013. Spiritual and Religious Beliefs as Risk Factors for the Onset of Major Depression: An International Cohort Study. Journal of Psychological Medicine: Vol. 43 (10). Diambil dari https://www.cambridge.org/core/journals/psychological-medicine/article/spiritual-and-religious-beliefs-as-risk-factors-for-the-onset-of-major-depression-an-international-cohort-study/4F9A85A2C5288198CAF82D46002B918A

[3] Ronneberg, C. R., dkk. 2014. The Protective Effects of Religiosity on Depression: A 2-Year Prospective Study. The Gerentologist Journals: Vol. 56 (3). Diambil dari https://academic.oup.com/gerontologist/article/56/3/421/2605601

[4] Venzin, Elizabeth. 2014. “Is Low Self-Esteem Making You Vulnerable to Depression?”. Diambil dari https://psychcentral.com/blog/is-low-self-esteem-making-you-vulnerable-to-depression/

[5] Tirto.id (2017, 18 Maret). “Statistik Bunuh Diri dan Darurat Kesehatan Mental”. Diakses dari https://tirto.id/statistik-bunuh-diri-dan-darurat-kesehatan-mental-ck1u

[6] Sindonews.com (2017, 22 Maret). “Kasus Bunuh Diri, Indonesia Tempati Posisi 8 di Asia Tenggara”. Diakses dari https://lifestyle.sindonews.com/read/1190568/166/kasus-bunuh-diri-indonesia-tempati-posisi-8-di-asia-tenggara-1490164957

[7] Wirasto, R. T. 2012. Suicide Prevention in Indonesia: Providing  public advocacy. Japan Medical Association Journals: Vol. 55 (1). Diakses dari https://www.med.or.jp/english/journal/pdf/2012_01/098_104.pdf

[8] Dirgayunita, Aries. 2016. Depresi: Ciri, Penyebab, dan Penangannya. Jurnal An-Nafs: Kajian dan Penelitian Psikologi, Vol. 1 (1). Diakses dari http://ejournal.iai-tribakti.ac.id/index.php/psikologi/article/view/235/184

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *