Menyikapi Klaim Donald Trump Atas Yerusalem

Beberapa waktu yang lalu kita dihebohkan dengan pernyataan yang dideklarasikan oleh presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim bahwa Ibu Kota Israel adalah Yerusalem. Hal tersebut sontak mengegerkan warga dunia, beberapa negara mengecam keras pernyataan Trump tersebut, menjadikannya isu politik yang sangat panas sampai saat ini.

Jika kita mencari di mesin pencarian google, akan muncul Yerusalem sebagai Ibu Kota dari Israel, padahal dulunya Tel Aviv, tapi sekarang sudah berubah, seiring dengan deklarasi Trump atas Palestina. Tidak lama setelah pernyataan Trump tersebut majelis umum PBB melakukan penghitungan suara atas resolusi yang mendesak Amerika Serikat menarik keputusan yang menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hasil dari voting tersebut menunjukkan sebanyak 128 Negara termasuk Indonesia, Prancis, dan Korea mendukung resolusi menarik keputusan yang menyatakan Yerusalem Ibu Kota Israel, 35 Negara memilih untuk abstain¸ dan 9 negara melawan termasuk Amerika dan Israel.

Bagaimana sikap kita melihat hal tersebut, kita ketahui bahwa Yerusalem merupakan situs suci bagi umat Islam setelah Mekkah dan Madinah. Kota ini merupakan sejarah peradaban manusia, Masjid  Al-Aqsa erat kaitannya dengan kisah Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebelum ke Sidratul Muntaha, melihat sejarahnya tentu saja kita harus melindunginya. Saya sangat tidak setuju dengan klaim yang dilakukan oleh Donald Trump atas Yerusalem, tindakan tersebut, karena merupakan tindakan yang illegal dan sepihak. Tidak hanya sikap kita sebagai umat muslim ataupun Indonesia saja yang menolak, bahkan pengakuan sepihak tersbut  membuat marah seluruh Negara Islam di Dunia khususnya Timur Tengah.

Menurut Hamdani dalam tulisannya Dialog Islam dan Barat yang menyebabkan terjadinya konflik antara peradaban Islam dengan Peradaban Barat terletak pada pertanyaan pertanyaan mendasar yang menyangkut kekuasaan dan kebudayaan. Siapa yang berhak memerintah?, siapa yang seharusnya diperintah?, persoalan sentral dalam kaitan dengan masalah politik, merupakan akar penyebab terjadinya kontes antara Islam dengan Barat.

Sekalipun demikian terdapat konflik tambahan, tidak begitu berarti antara dua versi yang berbeda mengenai mana yang salah dan siapa yang benar, dan sebagai konsekuensinya, siapa yang salah dan siapa yang benar. Hubungan hubungan tersebut lebih jauh dikeruhkan oleh sejumlah persoalan substantif pada posisi yang saling bersebarangan. Secara historis, salah satu persoalan utamanya adalah menyangkut kontrol wilayah terorial.

Ini merupakan satu peristiwa paling krisis yang pernah dialami dunia Islam sepanjang sejarah akibat pertemuannya dengan peradaban Barat baik secara ideologis, politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Secara politik Barat telah menjadi kekuatan baru yang memperbudak dunia Islam melalui arus kolonialisme dan imperialismenya. Melalui imperialisme yang halus dengan penyebaran sistem ideologi dan pendidikan, Barat kembali tampil sebagai kekuatan yang memperbudak pemikiran umat Islam. Isu sekularisme, materialisme, dan komunisme menjadi satu hantaman ideologi yang membuat dunia Islam tidak berkutik. Dalam beberapa aspek penetrasi Barat ini telah berubah menjadi arus westernisasi yang banyak memengaruhi wilayah Islam dan para pemikir Islam.

Pengaruh ideologi modern, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyekap umat Islam dalam kebimbangan dan kegamangan. Modernisme Barat melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya telah menguasai semua peradaban lainnya. Dunia Kristen maupun agama-agama lainnya telah dipandang gagal dalam membendung laju modernisme ini. Kini umat Islam sendiri sebagian ada yang menyambut gembira secara perlahan-lahan dengan adanya peradaban yang universal ini. Kita tidak dapat memungkiri hal tersebut, modernisasi barat atau intervensi asing terhadap dunia islam terus berkembang dari berbagai lini.

Ketegangan dan konfrontasi hubungan antara Islam dan Barat dapat kita cermati pada Intervensi Amerika terhadap permasalahan antara Palestina dan Israel, yang dianggap berat sebelah dan bias. Dalam kasus Israel-Palestina, Amerika dengan cepat menuding apa yang dilakukan orang-orang Palestina terhadap warga sipil sebagai tindakan teror, tetapi menutup mata jika hal yang sama dilakukan militer Israel terhadap warga sipil Palestina. Bagi kaum Muslim, hal itu tentu menyulut kemarahan dan ketidakadilan yang dianggap sebagai dukungan (propping up) terhadap tirani Israel atas kaum muslim.

Ketidakadilan dan sikap menduanya kebijakan amerika ini melahirkan sikap anti amerika seperti ancaman gerakan esktimisme, radikalisme, dan terorisme, sebagai jawaban atas segala intervensi dan ketiadakadilan kebijakan Barat (khususnya Amerika) di dunia Islam seperti yang telah dibahas di atas, terutama mengenai bagaimana Amerika mebuat keputusan sepihak atas Yerusalem. Ekspansi kolonialisme Barat harus segera dihentikan, kita harus menghilangkan rasa inferior dunia Islam dengan superior Barat. Sekarang kita tidak dapat mengelak, kita telah terbelenggu dalam penetrasi imperialisme dan kolonialisme barat, melalui ekspansi dan intervensi yang luar biasa.

Penetrasi yang dilakukan dunia Barat terhadap Islam sekarang ini bukan hanya peperangan dan konflik Amerika Israel terhadap Palestina, tetapi juga melalui bidang ekonomi, sosial, budaya, yang membuat masyarakat kita terlalu mudah meniru dan menjiplak gaya Barat tersebut.

Pada dunia Pendidikan, dapat kita rasakan sudah hilangnya nilai-nilai agama di dalamnya. Kini yang bisa lakukan adalah bagaimana kita sebagai individu yang mengaku muslim, untuk kembali kepada ajaran Islam yang benar dengan berpedoman al-Qur’an dan hadits, sehingga generasi muda bisa menetralisir berbagai pengaruh yang dilancarkan oleh Barat dan Amerika yang berkedok sebagai HAM atau yang lainnya.

Perubahan dan kebangkitan Islam bisa terwujud  apabila pemahaman dan komitmen terhadap ajaran Islam merata di kalangan masyarakat Islam, sehingga dalam diri mereka tersimpul keinginan untuk mengaktualkan Islam dalam pentas kehidupan bernegara. Pada intinya perubahan dimulai dari individu muslim itu sendiri. Namun yang perlu digaris bawahi adalah pernyataan klaim Trump atas Yerusalem tersbut merupakan bentuk dari kepentingan-kepentingan politik, bukan keagamaan.

Daripada Anda meributkan mana “tamu” dan mana “tuan rumah”, siapa yang berkuasa? Ribut dan mencari kekuasaan merupakan bukti dan cerminan bahwa Anda adalah buah dari keberhasilan intervensi dan penetrasi Barat terhadap Islam. Pemimpin dalam dunia Islam adalah pemimpin yang selalu berpedoman dengan Al-Qur’an dan Hadits, bukan pemimpin haus akan kekuasaan. (Achmad Sholeh, mahasiswa Psikologi 2015)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *