Seperti Film Kartun, Digilas Bangkit Lagi

Suatu hari saya menonton serial Tom and Jerry di salah satu siaran televisi yang tidak dapat saya sebutkan namanya. Di epsode tersebut menampilkan adegan ketika Jerry menantang Tom beradu angkat besi. Tom dengan sigap menerima tantangan tersebut. Berbaringlah ia mengambil ancang-ancang mengangkat dua besi bulat yang disatukan dengan besi lonjong serupa tongkat. Diangkatlah besi bertuliskan sekian ratus kilogram itu dari tempatnya. Kemudian, dengan akal cerdiknya Jerry menggelitiki kaki Tom dengan kemoceng. Besi itu lalu jatuh menimpa Tom, berguling menggilas tubuhnya hingga rata dengan tanah. Tanpa pikir Panjang, Jerry kemudian mengambil langkah seribu, lari. Namun ia tak bisa lolos semudah itu. Berbekal kesepuluh jari tangan dan kakinya, Tom bangkit untuk mengejar Jerry walau tubuhnya bak tisu terkoyak-koyak oleh angin.

Bangkit
“Bangkit!”, kata-kata itu sering saya dengar ketika sedang mengalami keterpurukan. Sayangnya, kata-kata itu justru keluar dari mulut orang lain, tidak dari hati saya sendiri. Padahal, ‘bangkit’ bagi saya tidaklah sesuatu yang bisa didapatkan dari luar diri saya. Ia bagaikan bibit yang tumbuh, menjulang tinggi dalam jiwa saya. Jika ia tumbang oleh angin, selama belum tercerabut akarnya, ia tetap akan tumbuh. Apabila disapu derasnya ombak, ia tak bergeming sedikit pun. Bagi sebagian orang yang tidak terbiasa menanam tumbuhan yang bernama ‘bangkit’ di jiwanya, ia mungkin tak akan mampu bertahan digerus ombak dan angin itu. Begitulah kira-kira arti kata ‘bangkit’ yang saya peroleh dari cerita-cerita orang maupun referensi-referensi buku atau film.

Belajar Bangkit
Tom adalah seekor kucing rumahan yang selalu ingin menikmati kehidupannya sehari-hari. Namun, Jerry si tikus cerdik tak pernah membiarkannya begitu saja. Selalu ada cara untuk mengganggu kucing itu. Seringkali Tom kesal dan marah dibuatnya. Tidak sedikit perlakuan Jerry yang membuat si kucing apes. Kelakuan iseng si tikus licik kepada Tom itu bermacam-macam bentuknya. Mulai dari membakar pantatnya, menggilas, menjepit, dan menjatuhkannya dari jurang. Sadis memang, tapi si Tom tak pernah kapok mengejar Jerry.

Padahal, jelas-jelas dirinya selalu dikalahkan olehnya. Dari sinilah saya belajar untuk bangkit, benar-benar bangkit. Saya melihat bahwa Tom memiliki jiwa yang tahan banting, daya dobrak yang tak masuk akal. Meski tinggal kesepuluh jarinya, ia tetap mengejar Jerry yang bahkan belum tergores sedikit pun. Seandainya saya jadi Tom, mungkin diri saya ini tak akan melakukan itu. Badan sudah tergiling, ya apalagi yang bisa dilakukan. Namun, itulah mengapa saya mau belajar dari Tom. Dia menginspirasi saya untuk tetap bangkit. Saya pikir, tak ada salahnya menganalogikan setiap adegan Tom dan Jerry dalam hidup kita. Mengapa kita tidak terus berusaha berjalan walau kita sudah tak punya kaki. Mengapa kita tak mencoba dan mencoba, walau hanya tinggal kesepuluh jari. Dalam beberapa hal, Tom mampu mengilhami pikiran saya.

Benar-benar Bangkit
Mereka yang mampu bangkit dari keterpurukan paling terpuruk sekalipun adalah orang-orang yang terpilih. Jepang, negara yang sempat porak-poranda oleh bom yang hanya berukuran kardus mie instan itu akhirnya menjadi salah satu negara maju. Konon, setelah kejadian yang menewaskan hampir seluruh rakyatnya, Jepang masih harus menanggung radiasi mematikan bom nuklir itu. Ribuan orang cacat, tanah tak bisa ditanami, air menjadi beracun. Sungguh na’as. Sudah jatuh, ditimpa tangga pula. Tapi dengan semangat kebangkitan yang tertanam kuat, mengakar dalam jiwanya, Jepang akhirnya benar-benar bangkit. Saya menjadi tidak percaya diri untuk mengatakan diri saya ini benar-benar bangkit. Sebab, masalah yang saya derita selama ini, jika dibandingkan dengan warga Jepang, bagaikan setitik noda hitam di kain putih selebar lapangan bola. Ditambah lagi, motivasi saya bangkit hanya dari orang lain.

Motivasi
“Orang yang meninggalkan temannya sendirian itu lebih buruk dari sampah”, sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Naruto. Teman bagi naruto adalah segala-galanya. Sejak kecil ia tak pernah beretemu dengan orangtuanya. Mereka meninggal sebelum Naruto bisa mengenalinya. Naruto juga sangat dijauhi oleh warga Desa Konoha karena di dalam dirinya ada musang berekor sembilan. Iblis paling menakutkan yang juga membunuh orangtua Naruto.

Namun, ia tak pernah menyerah untuk mendapatkan perhatian teman-temannya. Teman, baginya adalah sebuah motivasi untuk hidup. Dirinya tak bisa hidup tanpa teman, hingga membuatnya rela mati demi melindunginya. Itulah yang kemudian membuat Naruto menjadi seorang ninja yang hebat. Perjuangannya menjadi kuat untuk melindungi teman-temannya adalah motivasi yang selalu ia pegang. Dengan motivasi itu, Naruto terus bangkit. Berulang kali dikalahkan, dijatuhkan, dipatahkan tulang-tulangnya, ia tetap berdiri tegak di depan teman-teman yang sangat dicintainya.

Nah, dari Naruto ini saya juga belajar. Belajar memiliki motivasi, memegangnya teguh, dan melakukannya. Motivasi sangatlah penting baginya, begitu juga saya. Saya jadi berpikir, apakah saya ini Naruto? Kan motivasi saya kadang muncul dari teman saya. Ah, rasanya tidak mungkin. Tapi intinya, jika kita ingin bangkit, setidaknya meneladani konteks-konteks yang disampaikan film tersebut. Berdasarkan serial kartun dan anime di atas yang saya pelajari, kita harus memiliki motivasi untuk terus bangkit. Entah apa motivasi itu, kita harus memilikinya. Jika tidak, maka tak ada alasan kuat bagi kita untuk terus bangkit disaat tumbang berulang kali. (Mirza Iqbal)

 

Ilustrasi: Khafiya Nur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *