DEMI UCOK: PERTARUNGAN KEPENTINGAN IBU MELAWAN ANAK

 

Sutradara  Sammaria Simanjuntak
Produser  Sammaria Simanjuntak
Penulis  Sammaria Simanjuntak
Pemeran Geraldine Sianturi
Lina Marpaung (Mak Gondut)
Saira Jihan
Sunny Soon
Perusahaan
produksi
Kepompong Gendut
& Royal Cinema Multimedia
Tanggal rilis Kamis, 3 Januari 2013
Durasi 79 menit
Bahasa Indonesia

Demi Ucok adalah film garapan Sammaria Simanjuntak yang menceritakan kisah perjuangan Gloria Sinaga (Giraldine Sianturi), atau dalam film ini lebih akrab dipanggil Glo. Seorang perempuan Batak yang bercita-cita menjadi pembuat film hebat. Sebelumnya diceritakan bahwa Glo pernah membuat film yang mendapat penghargaan, namun ketika hendak membuat film keduanya, Glo pun tak memiliki dana yang memadai. Wallhasil film kedua Glo tak kunjung dibuat-buat.

Untuk mendapat sokongan dana, Glo mendatangi beberapa produser film. Akan tetapi bukannya mendapat dukungan, justru salah satu produser mengkritik naskah filmnya yang mengusng tema cerita horror dan mengatakan bahwa naskah Glo tidak cocok dengan selera penonton lokal. Pantang menyerah, Glo pada akhirnya meminta tolong Ibunya, Mak Gondut (Lina Marpaung), untuk membantunya. Mak Gondut bersedia membantu asalkan Glo mau segera menikah dengan orang Batak. Disinlah awal konflik dimulai.

Glo tidak mau dinikahkan sebelum menggapai cita-citanya, sebab ia enggan bernasib sama dengan Ibunya yang meninggalkan dunia keartisan dan lebih memilih untuk berumah tangga. Menurut Glo dengan memilih kenyamanan lalu melupakan cita-cita, maka tidak ada live happyly ever after melainkan live boringly ever after. Namun, demi film, Glo mengiyakan tawaran Mak Gondut, meskipun dalam hati Glo tetap tidak mau dikawinkan. Tarik-ulur kepentingan antara Glo dan Mak Gondut pun menjadi warna film Demi Ucok. Sang Ibu yang dengan berbagai cara tetap kukuh agar anaknya segera menikah, sementara sang anak juga dengan beragam cara mengakali ibunya agar tidak dinikahkan.

Dalam film ini, balutan kultur masyarakat Batak cukup kental. Seperti pada opening film yang menampilkan acara pernikahan orang Batak yang penuh tarian, prasmanan, sajian serba-serbi, dan pernak-pernik glamour yang membalut tubuh para hadirin di sana. Dalam film ini,si sutradara hendak menunjukkan bahwa di Batak, sesungguhnya yang menikah tidak hanya dua orang, melainkan juga keluarga masing-masing insan. Sebab semua tampak diusahakan dan dirayakan bersama.

Penyajian film ini menurut saya juga terasa lucu, karena kecanggungan, kesinisan, dan sekaligus keoptimisan Glo dalam menghadapi permasalahannya. Di sisi lain, dalam suatu dialog, Mak Gondut berkata bahwa kesuksesan orang Batak diukur dari keberhasilannya berumah tangga, yang menunjukkan doktrinisasi orang Batak. Lintas budaya antara wanita di jaman berbeda pun turut memperkaya aspek cerita.

Tokoh lain seperti Nikki (Saira Jihan) sahabat Glo, juga semakin memperkuat alur, dimana Nikki dan Glo merupakan penggambaran anak muda yang berjuang mandiri dalam hidupnya. Hanya saja, Nikki lebih umum, dia hanya ingin hidup tenang dan nyaman dengan gayanya yang oppurtunis, dia sukses memanfaatkan lelaki disekitarnya demi kepentingan pribadinya. Glo, sudah jelas, dengan segala optimismenya ia ingin membuat film. Apapun yang terjadi Glo ingin meraih cita-citanya dan tidak akan menikah sebelum mendapatkannya. Sifat optimismenya sempat diuji dengan selembar cek satu milyar yang diberikan seorang kolega Mak Gondut dalam partai politik. Namun ia memutuskan untuk tidak menggunakan cek tersebut. Pada akhirnya cek tersebut ditinggalkannya, sebab Glo yakin bahwa dalam hidup rasa takut untuk berjalan di jalannya sendiri dengan usaha sendiri merupakan hal yang salah.

Dalam kekhasannya masing-masing, tiga wanita ini tampil menjadi cerminan satu sama lain. Glo yang berjuang mengumpulkan dana demi karya dan cita-citanya, Mak Gondut yang sudah ditinggal suamniya, berjuang menjodohkan Glo. Kemudian Nikki yang tebar-tebar pesona demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Di filmi ini banyak pelajaran atau hikmah yang dapat kita ambil. Salah satunya adalah petikan statement Glo, “Bahwa hidup itu cuma ada dua alasan, takut atau cinta. Kalau lo takut, udah pasti deh lo salah arah.” (Sulkhan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *