LPM Kognisia Gelar Launching Majalah dan Diskusi Tentang Waria

(Selasa, 27/03/2018) Lembaga Pers Mahasiswa Kognisa meluncurkan majalah terbarunya “Mencari Ruang Ruang Kebajikan.” Peluncuran Majalah edisi Maret 2018 itu digelar di Ruang Audiovisual Perpustakaan lt.2 Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, pada hari Minggu (25/03/2018). Dalam peluncuran tersebut, Kognisia juga sekaligus menggelar diskusi bertajuk “Waria Dalam Perspektif Psikologi Islam.” Dr. Fuad Nashori, dosen Prodi Psikologi UII, hadir sebagai pembicara.

Sebelum memasuki acara diskusi dengan Fuad, Pemimpin Redaksi LPM Kognisia, Mirza Muchammad Iqbal, menyampaikan tujuan Kognisia mengangkat isu waria. Ia menuturkan bahwa waria merupakan fenomena yang perlu dipahami bersama sebab acap kali mereka menjadi kelompok yang termarjinalkan di lingkungan masyarakat. “Harapannya, dengan majalah ini, pembaca bisa memahami problem sosial yang utuh tentang waria sehingga tidak cepat menghakimi mereka dengan pikiran negatif,” ujarnya.

Dalam kehidupan di masyarakat, waria menjadi golongan yang termarjinalkan. Tidak jarang status waria masih menjadi pertimbangan khususnya dalam mencari pekerjaan. Identitas waria menjadi tidak diakui eksistensinya di masyarakat karena dipercayai bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang menyimpang. Karena mendapatkan perlakuan diskriminasi dalam mendapatkan pekerjaan itulah sebagian dari mereka terjun ke dunia prostitusi untuk bekerja malam sebagai pekerja seks.

Selanjutnya, memasuki sesi materi, Fuad Nashori memaparkan waria dari kacamata ilmu pengetahuan Psikologi. Fuad menyampaikan, bahwa waria (lady boy) merupakan seorang lelaki yang mendiskripsikan dirinya berjiwa perempuan. Oleh karenanya, mereka mengubah penampilanya sehingga mirip dengan perempuan. Berpakaian dan berdandan seperti perempuan, bahkan tak jarang ada yang sampai melakukan treatment fisik seperti suntik dan bedah agar tubuh mendekati tubuh perempuan.

“Waria secara sosiologis dapat diartikan sebagai transgender,” ujar Fuad. Transgender istilah untuk mendeskirpsikan orang-orang yang melakukan, merasa, dan berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan ketika mereka lahir.

Fuad menambahkan pada umumnya, waria juga mengalami gangguan orientasi seksual transeksualisme, yakni orientasi seksual kepada sejenis. Adanya faktor biologis (dominannya hormon seksual perempuan), psikologi serta lingkungan sosial menjadikan fenomena ini banyak terjadi bahkan semakin bertambah tiap tahunnya.

Meskipun begitu, Fuad Nashori memaparkan bahwa perjuangan untuk mengembalikan diri ke fitrah sebagai lelaki atau perempuan dan mengendalikan dorongan seks merupakan bagian dari jihad akbar (perang melawan nafsu yang ada dalam diri). Sehingga para pelaku transgender tetap perlu memahami ajaran agama, yaitu perlunya memperjelas identitas gender sebagaimana fitrahnya ia diciptakan.

Menurut Fuad perlu dukungan dari para ahli untuk membantu pengembalian ke kehidupan yang fitrah. “Waria hendaknya memperjuangkan kembali ke fitrah dengan meminta dukungan dari para profesional seperti psikolog, psikiater, dan konselor yang jelas-jelas memiliki pijakan agama yang jelas”, ujarnya.

Mereka –ahli psikologi dan psikiatri– memiliki peran penting untuk mengembalikan diri ke sifat asal. Masyarakat umum juga perlu memberi dukungan bagi usaha kaum homoseks/lesbian untuk menekuni kehidupan normal. “Waria atau transgender yang ingin kembali normal disarankan untuk tidak memilih lingkungan yang memperkuat perilaku transgender,” tambah Fuad. (Dinda)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *