Literasi Bangsa Kita

Setiap tanggal 23 April, oleh UNESCO diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Buku merupakan sayap-sayap baru, buku apapun. Buku-buku eksak, yang dengannya membawa kita terbang ke taman semesta. Buku-buku humaniora, yang dengannya menjadikan kita sebenar benarnya manusia. Buku-buku fiksi, yang dengannya membawa kita bebas menyusuri ruang imajinasi.

Dua tahun silam, Central Connecticut State University, melalui situs resminya menerbitkan hasil riset mengenai tingkat literasi yang berkembang di 61 negara. Di antara 61 negara, Indonesia menempati urutan ke dua. Sayangnya, urutan kita ternyata kedua dari bawah. Untung-untung tetangga kita (baca: Malaysia) berada pada urutan ke-53.

Kita tidak perlu berdebat panjang mengenai akurasi riset tersebut. Toh, bukti rendahnya budaya literasi di negeri ini sangat mudah dijumpai setiap hari. Kerap dijumpai saudara kita yang kesehariannya hanya menatap layar gawai dan tenggelam di lautan media sosial ketimbang menyelam di antara lembaran kertas buku.

Haidar Bagir, melalui artikelnya “Amnesia Buku” yang terbit di Mizan.com(26/4/16) telah memaparkan bagaimana kondisi literasi kita di zaman sekarang. Ia menyatakan bahwa Indonesia memang sangat rendah dalam budaya membaca, dalam hal ini adalah telaah literasi. Parahnya lagi, menurut Haidar,  kita didominasi oleh budaya tutur. Hal tersebut masuk akal jika dikaitkan dengan fenomena yang sering muncul di media sosial seperti Facebook, Twiter, Instragram dan semacamnya. Linimasa dibanjiri oleh pertikaian hingga komentar-komentar negaif tanpa ada data dan  argumen yang memadai.

Ini menjadi ironi, sebab takaran berkomentar tinggi sementara minat baca (buku) rendah. Sehingga menurut Haidar, pola permasalahan yang muncul adalah ketika kita kesulitan  dalam mengembangkan budaya membaca, negeri kita masih didominasi oleh budaya tutur. Bersamaan dengan itu, masyarakat kita sudah masuk ke budaya audio-visual (radio dan TV) yang lebih menarik perhatian. Tidak selesai disitu, masyarakat kita secara ‘terpaksa’ ikut larut dalam budaya digital serba mudah (internet).

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi yang begitu pesat di zaman sekarang memudahkan setiap orang mengakses informasi. Memang benar. Cukup mengetik kata kunci tertentu pada search engine, ribuan postingan bertebaran mewarnai linimasa. Sajian informasi mulai dari rangkaian peristiwa yang terjadi setiap detiknya sampai ‘teori segala sesuatu’ menjamur dengan mudahnya. Sialnya lagi, ketika ingin memperkaya khazanah keilmuwan atau setidaknya menumbuhkan sikap kritis terhadap masalah tertentu, kita justru memilih belajar dari situs ala ala blogspot.com atau situs abal-abal semacamnya.

Memang, dalam taraf tertentu teknologi digital mampu memudahkan akses informasi kepada masyarakat. Namun demikian, tantangannya justru semakin besar. Di saat budaya literasi berada pada porsi yang rendah, disaat itu pula pasokan informasi menerpa serta sebagian besar tulisan yang tersedia di media digital telah menyebabkan masyarakat lebih suka mengakses tulisan-tulisan pendek yang kurang keluasan dan kedalamannya. Seperti yang telah dipaparkan di atas.

Hal tersebut menjadi ironi, mengingat Indonesia merupakan bangsa yang besar. Permasalahan literasi bukanlah perkara sederhana. Sebab jika kita masih abai, jelas kita akan tertinggal jauh lagi dengan negara-negara lain. Literasi harus menjadi panggung pergerakan, atau setidaknya mampu menjadi jawaban atas permasalahan bangsa ini.

Kampanye Gerakan Literasi

Sebenarnya, kita hari ini memiliki cukup penunjang dalam hal literasi. Sebut saja toko-toko buku yang mudah ditemui, perpustakaan yang bertebaran di kampus-kampus dan kota besar pada umumnya, hingga ruang baca publik. Inovasi baru-pun telah ada, misalnya mobil perpustakaan keliling yang dicanangkan oleh pemerintah telah menjangkau beberapa daerah di Indonesia, khusunya pulau Jawa.

Tidak hanya itu, kawan-kawan kita yang punya kesadaran tinggi atas masalah literasi yang tergabung dalam beberapa komunitas ikut menggencarkan program literasi. Sebut saja Komunitas Perpustakaan Jalanan DIY yang menawarkan lapak bacaan gratis setiap Jumat malam di pelataran Tugu Jogja, hingga sebuah komunitas kecil bernama Book for Papua yang bergerak di bidang pendidikan. Mereka aktif mengajar dan mendistribusikan buku bacaan untuk anak-anak dan remaja di pedalaman Papua.

Sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, masyarakat Indonesia hari ini setidaknya punya cukup penunjang dalam hal literasi. Selanjutnya adalah kesadaran yang menyeluruh dari masing-masing individu akan pentingnya budaya literasi.

Memaknai Literasi

Salah kaprah yang akut adalah memaknai literasi sekedar kemampuan melek huruf. Literasi yang dimaksud adalah literasi dalam arti luas, yaitu tradisi membaca – yang darinya muncul pemaknaan dan pemahaman terhadap bacaan. Dari tradisi tersebut, muncul gagasan-gagasan yang menuntun pada kualitas diri.

Membaca tidak identik dengan profesi apapun, yang penting kita manusia. Membaca bukan hanya milik mereka yang berprofesi sebagai politikus, dosen, atau seseorang yang menyandang status mahasiswa. Membaca merupakan kewajiban bersama. Kita ambil contoh peran seorang junjungan besar kita, Muhammad SAW. Ia berprofesi sebagai seorang penggembala dan pedagang sebelum mendapat wahyu. Ia ditetapkan sebagai Nabi sekaligus Rasul melalui wahyu pertama, iqra’. Tuhan memerintahkannya untuk membaca.

Membaca (iqra’) lakunya ‘wahyu’ yang akan selalu relevan untuk umat manusia sampai kapanpun. Dengan begitu, literasi – atau dalam hal ini adalah membaca – merupakan modal yang teramat penting. Membaca serta analisis berpikir adalah langkah pertama dalam budaya literasi.Sederhananya, dari budaya literasi, timbul implementasi dalam keseharian seperti cara berpikir dan bertindak.

Tidak hanya itu, literasi juga dapat dimaknai sebagai kemampuan menulis, yaitu menuangkan kembali gagasan-gagasan yang telah dikembangkan dari bacaan ke dalam sebuah karya. Menulis adalah langkah kedua dalam budaya literasi.

Dengan demikian, literasi sangat identik dengan membaca dan menulis. Membaca dan menulis merupakan dua sisi yang berbeda namun saling terikat. Seperti dua mata koin yang berlainan sisi namun menjadi satu kesatuan dalam wujud benda. Perlu diingat lagi bahwa membaca tanpa menulis hanyalah omong kosong, atau setidaknya membaca tanpa implementasi dalam kehidupan sehari-hari tidak ada gunanya. Terlalu egois jika membaca hanya untuk kepentingan diri sendiri tanpa membagikannya pada orang lain.

Sebelum menutup tulisan ini, mari kita renungkan bersama. Majunya peradaban dunia sekarang salah satunya merupakan sumbangan dari budaya literasi. Jika hanya sebagian yang “membaca”, maka bangsa ini tetap menjadi bangsa yang itu itu saja. Dalam konteks yang lebih lanjut, jika tidak ada yang “menulis”, maka orang pintar dan orang bodoh beserta seisi bangsa ini akan mati ditelan peradaban. (Iqbal Kamal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *