Orangtua: Komponen Penting dalam Pendidikan yang Tak Boleh Terabaikan

Pendidikan adalah sebuah proses untuk memanusiakan manusia, tulis Paulo Freire dalam bukunya The Pedagogy of the Oppresses. Pendidikan berarti membebaskan, membebaskan manusia dari segala belenggu penindasan.

Pendidikan menurut Freire bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran kritis transitif pada setiap siswa. Kesadaran kritis transitif adalah kemampuan manusia dalam menafsirkan masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak.

Paulo Freire juga membahas metode pendidikan untuk anak. Menurutnya, pendidikan yang diberikan untuk anak haruslah bersifat dialogis. Tidak hanya teoritis namun juga praktis, karena masa anak-anak merupakan fase yang sangat berharga. Bahkan, menurut Ilmuan Psikologi bernama John W. Santrock, masa anak-anak adalah masa optimalnya aspek kognitif, emosi, dan perilaku. Oleh karena itu, masa anak-anak ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh guru dan keluarga, khususnya orangtua.

***

Mari kita pahami bersama bagaimana pentingnya komunikasi orangtua dan guru bagi pendidikan anak. Orang tua atau keluarga secara umum merupakan pendidikan pertama yang didapat oleh anak. Keluarga merupakan lingkungan terdekat yang bisa memenuhi segala kebutuhan anak.

 

Makna pendidikan secara luas tidak bisa hanya diartikan sebagai sekolah saja. Pendidikan adalah sebuah proses yang menjadikan seorang anak menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Keluarga merupakan lingkungan terpenting anak yang efektif untuk mengajarkan sopan santun, bertutur kata, karakter, dan nilai-nilai kebaikan lainnya. Di sinilah keluarga menjadi penting karena sekolah belum sepenuhnya mampu mengontrol anak setiap harinya selama 24 jam.

 

Muhajir Effendy Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia saat ini mengatakan bahwa untuk menyukseskan pendidikan anak, ada tiga komponen penting harus bersatu. Tiga komponen tersebut adalah sekolah, keluarga, dan masyarakat. Orangtua tidak bisa hanya menghandalkan sekolah semata untuk pendidkan anaknya.

 

Selain itu, intensitas anak di rumah lebih banyak ketimbang di sekolah. Jadi, peran orangtua dalam memberikan pendidikan anak, baik itu dalam aspek kognitif, terutama emosi dan psikomotor sangat penting. Aspek emosi dan psikomotor ini sebenarnya sangat efektif jika orangtuanya sendiri yang mengajarkan.

 

Di sekolah, anak belum tentu dididik bagaimana mengolah rasa. Terkait aspek psikomotor, di sekolah juga kurang adanya pendidikan mengenai itu. Pendidikan dalam aspek psikomotor yang dimaksud dalam hal ini adalah memberikan contoh yang baik kepada anak. Hal ini juga tidak bisa dilaksanakan sekolah scara utuh, karena, kembali lagi, di sekolah anak hanya setengah hari. Oleh karena itu, asupan kedua aspek tersebut – emosi dan psikomotor – sebaiknya ditambah ketika anak berada di rumah oleh orangtua.

Orangtua

Orangtua sangat berperan bagi penanaman  nilai-nilai dasar anaknya. Penanaman nilai dasar bagi setiap anak sangat efektif di usia 1-5 tahun. Sebab, seorang anak akan mengalami perkembangan pesat di usia 1-5 tahun. Fase ini disebut sebagai golden age. Masa dimana seorang anak optimal dalam aspek kognitif, emosi, maupun perilaku. Oleh karenanya, tidak asing bagi kita jika menjumpai seorang anak yang banyak bertanya. Artinya, seorang anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi.

 

Di usia ini, nilai-nilai yang ditanamkan orangtua oleh anak akan terus dipegang teguh seumur hidupnya. Secara naluriah, perilaku-perilaku yang dimunculkan oleh seorang setiap orang saat dewasa nanti sebagian besar dipengaruhi oleh masa kecilnya. Maka, di sini orangtua harus bisa masuk dalam celah-celah perkembangan anak. Orangtua bisa menjadi guru terbaik bagi setiap aspek kehidupan anak.

 

Guru

Guru merupakan faktor kunci penentu kualitas pendidikan. Kualitas guru sangat menentukan kualitas pendidikan itu sendiri. Bahkan, Muhajir Effendy mengatakan, jika dengan guru berkualitas, tanpa kurikulum pun pendidikan akan berkualitas juga. Guru juga menjadi agen yang menanamkan pendidikan karakter bagi anak. Namun, karena guru tidak lama bersama anak di sekolah, akhirnya muncul wacana full day school.  Program ini diharapkan pemerintah agar guru memiliki banyak waktu untuk mendidik karakter kebangsaan, kebudayaan, maupun psikologis anak. Namun, program ini pun masih menimbulkan banyak perdebatan. Tapi, guru tetap memiliki peran yang sangat penting bagi pendidikan anak.

 

Pentingnya Sinergi Orangtua-Guru

Ada sebuah studi pada tahun 2016 membuktikan bahwa peran orangtua dapat meningkatkan 40% keterlibatan siswa di kelas. Penelitian ini menguji hubungan orangtua dan guru melalui komunikasi berbasis sms (short masaage system). Setiap hari guru memberikan informasi perkembangan anaknya di sekolah selama dua bulan. Misalnya, jika ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, guru meminta orangtua mendampingi. Apabila anak memiliki masalah, sedih, murung di kelas, orangtua juga diinformasikan agar ketika di rumah dapat dibantu menyelesaikan emosi negatifnya. Komunikasi yang terjalin selama dua bulan itu terbukti meningkatkan kepedulian orangtua dan keaktifan siswa di kelas.

 

Penelitian Berger (2004) juga mengatakan bahwa orangtua merupakan partner yang tepat untuk menemani anak belajar. Orangtua dapat menanyakan kepada anak kesulitan apa saja yang ditemui pada saat belajar. Permasalahan yang terdapat pada anak mungkin bukan hanya masalah akademik atau pelajaran itu sendiri. Namun, permasalahan emosi negatif juga terkadang hadir pada anak. Di sinilah kemudian orangtua dapat membimbing anak menyelesaikan permasalahan emosinya.

 

Menurut riset, orangtua sangat berpengaruh bagi prestasi, motivasi belajar, dan perilaku sosial anaknya. Orangtua yang memberikan dukungan anaknya di rumah akan meningkatkan keyakinan diri akademik sang anak. Orangtua juga bisa menjadi teman diskusi pada setiap masalah yang dihadapi anak dalam belajar. Misalnya ketika anak sedang merasa sedih karena suatu hal dan akhirnya tidak mau belajar. Orangtua juga bisa menjadi pendengar yang baik dan memberikan dukungan emosi. Setelah itu, orangtua bisa membuat anaknya belajar mengatasi emosi negatifnya. Hal ini pun juga merupakan sebuah pendidikan, yakni pendidikan kesehatan mental.

 

Oleh karena itu, bagi orangtua yang ada di luar sana, dampingilah anak-anak kita. Temanilah dia dalam setiap proses belajarnya.

 

Kita tidak bisa memungkiri bahwa ke depannya, seorang anak pasti akan menghadapi masalah. Setiap anak mungkin akan terseok-seok  menghadapinya. Mereka mungkin akan sulit memahami kesedihannya sendiri. Mereka juga akan banyak berkonflik dengan temannya. Dengarkanlah keluh-kesah mereka, temanilah mereka untuk kuat menjalani hidup.

 

(Mirza)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *