Aksi Solidaritas dan Doa Bersama: Kebencian Bukan Dilawan dengan Kemarahan

 

(Yogyakarta. 13/5/18) Minggu malam pukul 19.00 WIB Tugu Yogyakarta dikelilingi oleh aparat keamanan yang berjaga serta mengurai kemacetan di perempatan pusat kota. Di sebelah selatan tugu, Masyarakat Sipil Yogyakarta menggelar Aksi Solidaritas dan Doa Bersama sebagai bentuk melawan dan mengecam atas segala bentuk aksi terorisme.

Aksi Solidaritas dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Berdiri melingkar bersama, serta diiringi dengan gesekan biola.

Semangat dalam memaknai aksi solidaritas yang dirasakan ialah masyarakat Indonesia bisa kompak serta saling bergandengan tangan berjuang melawan terorisme. Bergandengan tangan bersama dengan keberagaman yang ada untuk Indonesia. “Bukan kekuatan yang membuat kita bersama tetapi kebersamaan yang membuat kita kuat.” Tutur sang orator

Orasi disampaikan dengan tutur yang lembut dan tidak meninggikan nada bicara.  “Keberagaman bukan untuk menjadi keseragaman tetapi bisa diselaraskan. Perbedaan bukan untuk dibersamakan tetapi bagaimana tujuan kita seiring sejalan.” ungkap orator dalam orasinya.

Suara lirih nyanyian gugur bunga membuat suasana malam menjadi hikmat di tengah keramaian kota. Pembacaan puisi Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul “Satu” membawa segenap anggota aksi tertunduk sambil menggenggam sebatang lilin. Harapan yang sama tertuju pada saudara sebangsa.

Aliansi Masyarakat Sipil Yogyakarta yang tergabung dari 60 organisasi berbagai elemen masyarakat pada aksi solidaritas menyampaikan sikapnya terkait aksi teror yang terjadi di Mako Brimob dan ledakan bom gereja di Surabaya.

Poin-poin yang disampaikan ialah:

Poin pertama, meminta Kepolisian Republik Indonesia untuk menemukan dan menindak tegas otak aksi teror. Kedua, meminta pemerintah khususnya kepolisian untuk memperkuat perlindungan hak konstitusional warga negara dalam segala bentuknya. Poin ketiga, meminta pemerintah untuk mewaspadai menguatnya gerakan pelemahan demokrasi di Indonesia. Keempat, meminta masyarakat untuk tetap tenang dan waspada atas tindakan teror, tindakan kekerasan serta tidak terpancing untuk membalas tindakan tersebut dengan ujaran atau aksi yang memanfaatkan sentimen warga bangsa. Poin terakhir, memperjuangkan kedaulatan hukum dan persamaan hak warga negara adalah mutlak untuk mewujudkan bangsa yang besar, adil dan makmur. Sudah selayaknya setiap elemen bangsa dan negara berkontribusi dan menjaganya dari hal-hal yang mengoyak bangunan kebangsaan kita.

Meminta warga bangsa untuk bersama-sama memperkuat kehidupan bermasyarakat yang rukun dan saling menjaga sehingga ideologi kebencian dan terorisme tidak mendapat pendukungnya.

Mukhibullah sebagai koordinator aksi menyampaikan tujuan penyelenggaraan aksi solidaritas adalah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling bahu membahu maju bersama untuk melawan terorisme. “Tidak ada agama yang mengajarkan terorisme. Terorisme yang saat ini sedang gencar harus kita lawan baik dengan cara kampanye ataupun melakukan langsung kepada masyarakat sekitar kita.” Jelas Mukhibullah.

Pukul 21.00 aksi solidaritas diakhiri dengan menyanyikan lagu nasional Padamu Negeri dan anggota aksi bubar dengan tertib. (Suci)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *