Pandangan Civitas Akademika UII Terkait Aksi Terorisme di Indonesia

(Kampus Terpadu, 19/05/2018) Ibu pertiwi kembali dibuat menangis oleh aksi terror ledakan bom. Teror ini menghantam tiga tempat di Jawa Timur. Dua ledakan terjadi di hari yang sama, di beberapa gereja yang ada di Surabaya pada Minggu (13/5), lalu disusul dengan terror yang terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Ledakan kembali terjadi keesokan harinya pada Senin pagi (14/5). Kali ini Mapolrestabes Surabaya menjadi sasaran pelaku untuk melakukan aksi teror nya.

Korban yang ditimbulkan dari kejadian ini tidaklah sedikit. Tercatat ada 25 orang meninggal karena ledakan yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo tersebut, baik dari terduga pelaku maupun warga. (Sumber: cnnindonesia.com)

Sebagai institusi pendidikan yang bertanggungjawab atas terselenggarannya kehidupan bangsa secara aman, damai dan tentram. Universitas Islam Indonesia (UII) juga turut menyatakan pernyataan sikapnya atas tragedy ledakan bom di Jawa Timur. Bahwasanya dalam surat tersebut, UII benar-benar mengecam akan aksi terror tersebut dan juga berharap agar impian masyarakat Indonesia akan memberantas paham anti-kedamaian dapat segera terwujud.

Agama Islam Terkait Aksi Terorisme

Islam selalu dikaitkan dengan aksi terorisme yang ada. Willi Ashadi, Dosen Prodi Psikologi yang mengampu mata kuliah Agama pun juga turut menuturkan pendapatnya dan mencoba memberikan pandangan, bahwasanya Islam dan Muslim adalah dua hal yang berbeda. Islam adalah agama yang damai dan memaknai kedamaian. Sedangkan muslim adalah orang yang beragama Islam, akan tetapi belum tentu apakah orang tersebut menjalankan ajaran Islam apa tidak. Sedangkan aksi terorisme yang terjadi sekarang acap kali mengatasnamakan jihad. Akan tetapi dengan pemahaman yang salah.

“Boleh kita berjihad melawan orang-orang non-Muslim asalkan memang merasakan 2 hal, yang pertama jika saat berperang, seperti yang terjadi di Palestina. Jadi mereka kalau melakukan bom bunuh diri itu baru bisa dikatakan jihad. Lalu yang kedua jika didiperangi dan diusir. Nah seperti yang terjadi kemarin secara simbolis memang Islam, tapi kita tidak bisa mengecap juga.” Ujar Willi.

Penampilan orang Islam juga kerap di cap sebagai perawakannya para teroris. Seperti jenggot hingga penggunaan cadar. Thesa Putri Wahyuni, mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi yang juga menggunakan cadar menanggapi bahwa kebanyakan orang-orang yang menjadi teroris memiliki istri yang juga memakai cadar. “Jadi ini cewe-cewe yang memakai cadar terkena dampak negatifnya dan sudah menjadi stigma yang berlaku di masyarakat.” Tetapi dia juga tidak ingin menyalahkan syariat yang memang sudah ada, “Dengan adanya terorisme menggunakan cadar seperti ini kita tidak bisa menyalahkan syariatnya, kita juga tidak bisa nyalahin orangnya. Ini cuman bagaimana mereka memahami akan konsep jihad itu sendiri.” Tambahnya.

Thesa juga memberikan saran agar wanita-wanita bercadar diluar sana jangan takut dan semakin menjauh dengan orang-orang lain. Karena jika menjauh malah hanya akan menambah kecurigaan orang-orang akan wanita yang menggunakan cadar. Akan lebih baik jika dapat terus berbaur dengan masyarakat luas, dan memberitahukan bahwa wanita bercadar tidak seperti anggapan mereka.

Pelaku adalah Satu Keluarga

Pelaku aksi terorisme yang terjadi di Jawa Timur ini merupakan satu keluarga utuh, yang terdiri dari Suami, Istri, dan anaknya. Willi menduga jika ada kemungkinan kurangnya ajaran tentang nilai-nilai Islam didalam keluarga tersebut. Bahkan mungkin bisa diperparah dengan memang adanya pengaruh yang dibawa oleh Imam keluarga, yaitu suami, tentang ajaran yang menyimpang.

“Jika mereka memang beragama Islam yang baik, kok bisa ada ajaran tentang terorisme seperti ini. Dugaan saya mungkin Imam keluarganya lah yang kurang mengajarkan ajaran tentang nilai-nilai Islam yang sebenarnya didalam keluarga. Karena ini kejadian yang luar biasa saya kira. Kalo memang dia ingin menempuh jalan yang salah, jangan mempengaruhi orang lain, apalagi keluarga sendiri.” Tegasnya.

Pendapat dari Civitas Akademika

Willi benar-benar mengutuk kejadian aksi terorisme ini dikarenakan oleh target yang diincar dari aksi tersebut. “Saya mengutuk terkait pengeboman tersebut. Karena korbannya adalah mereka yang tidak berdosa. Ini dapat memberikan dampak dan citra yang tidak baik bagi bangsa kita.” Tuturnya.

Tidak hanya dosen, mahasiswa juga harus memaksimalkan peran social control-nya. Mahasiswa harus melihat kejadian terorisme ini secara lebih luas, jangan hanya terpaku dengan ledakan bom yang terjadi karena pihak berwajib akan mengurus hal tersebut. Mahasiswa dapat berfokus dengan masalah yang terjadi setelah aksi tersebut, seperti mengembalikan nama baik Islam yang tersudutkan oleh kicauan netizen di media sosial. Hal ini berdasarkan pendapat dari Farhan Alfarizi, Mahasiswa Prodi Psikologi 2015.

“Setelah kejadian aksi terror tersebut, banyak sekali cuitan di media sosial yang mengadu domba dan menyudutkan Islam. Hal inilah yang harus kita antisipasi sebagai mahasiswa khususnya yang beragama Islam. Kita harus lebih memilih apa yang harus dibicarakan dan disampaikan kepada masyarakat luas. Dan juga informasi yang kita terima juga harus lebih kita pilih lagi agar apa yang disampaikan nantinya tidaklah salah.”

Sikap UII Sebagai Kampus Islam

Sebagai sebuah institusi yang mengemban nama Islam, Willi setuju dengan langkah UII yang mengutuk keras aksi terorisme, terlebih yang terjadi itu merupakan aksi bunuh diri yang merupakan ‘extraordinary crime’ dan yang paling dirugikan merupakan umat Islam. Selain pernyataan sikap, UII juga harus membuat statement tertulis di media tentang aksi terorisme ini.

“UII secara tegas menentang kejadian yang ada di Surabaya, apalagi itu terjadi di rumah ibadah. Bagi orang-orang yang tidak tahu tentang Islam, akan beranggapan bahwa itu merupakan perilaku yang dilakukan oleh umat Islam seutuhnya. UII sebaiknya membuat pernyataan di media bahwasanya itu merupakan kejadian yang tidak baik dan tidak terpuji. Karena sangat penting untuk meluruskan bahwasanya Islam tidak seperti yang diberitakan oleh media-media diluar sana.” Tutup Willi. (Karel)

Reporter: Lala, Dini, Wulan dan Eprin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *