Menginsafi Paul Kalanithi

Judul When Breath Becomes Air
Penulis Paul Kalanithi
Penerbit Bentang Pustaka
Tanggal terbit Agustus – 2016
Jumlah Halaman 248
Text Bahasa Inggris, Indonesia

Era globalisasi memberi kesempatan kepada manusia untuk menaklukkan dunia dengan sekejap. Bepergian keliling dunia, menikmati indahnya samudera hindia dari atas pesawat, merasakan bagimana perubahan kondisi mood ketika harus berganti hari karena perpindahan zona waktu. Hal tersebut membuat dunia seperti ”global village” atau desa global, ketika batas-batas nyata geografis hanya tinggal sekadar konsep. Batas-batas kebendaan diganti dengan batas maya berupa teknologi, internet, dan sosial media.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh dua orang manusia untuk mengadu nasib di paman Sam. Sebuah negeri dengan penuh kemungkinan, baik ataupun buruk. Mereka menjalin kasih tak direstui, meninggalkan kampung halama melintasi dunia beribu mil dari India bagian selatan menuju New York City lalu kemudian berpindah ke Kingman, Arizona yang terletak di Barat Daya Amerika. Sang pria adalah kristen, sang perempuan adalah hindu. Pernikahan mereka berdua mengakibatkan perpecahan dalam keluarga dan “dikutuk” oleh kedua belah keluarga. Bagaimana sang pria bisa sampai menyakinkan istrinya untuk ikut “kabur” bersama dan memadu kasih merupakan suatu misteri.
Mereka terpaksa pindah ke Kingman, Arizona dari Bronxville, New York. Kawasan pinggiran kota yang cukup berlimpah hanya sekitar utaranya Manhattan, New York menuju ke kawasan yang dikelilingi oleh dua lintasan pegunungan. Daerah ini lebih dikenal oleh dunia luar sebagai tempat pemberhentian pengisian gas menuju “ke dunia yang lain.” Daerah padang gersangnya memberikan banyak pengalaman yang membuat bulu kuduk berdiri. Serangan tarantula, laba-laba serigala, dan lain-lain.
Binatang-binatang liar menjadi sumber kecemasan yang konstan tetapi bagi sang Ibu, masa depan anak-anaknya merupakan hal yang paling ditakutkan dari segalanya. Sebelum mereka berpindah ke Arizona dari New York, anak mereka yang tertua hampir menyelesaikan masa SMA nya di Westchester dimana universitas elit Amerika merupakan ekspektasi. Dia akhirnya diterima di Stanford University segera setelah mereka berpindah ke Kingman, Arizona dan harus langsung meninggalkan rumah untuk melanjutkan kuliah di Stanford. Ketika akhirnya berpindah ke Arizona, akhirnya diinsafi bahwa Kingman bukanlah Westchester. Ketika sang Ibu melakukan survey sistem sekolah publik Mohave, ia sungguh sangat kecewa.
Hasil sensus di Amerika menunjukkan bahwa Kingman adalah distrik paling rendah pendidikannya di Amerika. Angka drop-out SMA lebih kurang sekitar 30 persen. Hanya sedikit anak-anak SMAnya yang bisa sampai melanjutkan ke dunia perkuliahan, dan yang pasti bukan ke Harvard. Harvard merupakan simbol pencapaian prestasi paling hakiki bagi sang Ayah. Tetapi Kingman, Arizona memberikan mimpi buruk yang tak pernah diduga.
Sang Ibu memberanikan diri untuk mencari segala masukan dari teman-teman ataupun karib-kerabatnya disana. Suatu malam, ia bahkan sampai menangis tersedu-sedu di ranjangnya. Ia takut dengan rendahnya kualitas sekolah akan menghambat atau merusak masa depan anak-anaknya akhirnya, entah darimana, mendapatkan daftar bacaan persiapan kuliah. Sang Ibu merupakan seorang fisiologis, lulus di India, menikah usia 23 tahun dan diharuskan untuk membesarkan anak-anaknya di sebuah negara yang bahkan tidak dikenalnya. Ia juga bahkan tidak pernah membaca buku-buku yang ada dalam daftar tersebut. Tetapi ia berjanji untuk mampu memastikan bahwa kehidupan anak-anaknya tidak sengsara.
Salah satu anaknya bernama Paul Kalanithi. Ketika usia 10 tahun, ia sudah membaca buku 1984. Salah satu buku paling legendaris karangan George Orwell. Buku tersebut merupakan salah satu buku yang ada dalam reading list yang didapatkan ibunya. Perkenalannya dengan Orwell membuatnya jatuh hati secara mendalam pada bahasa. Sampai usia 12 tahun ia telah menghabiskan beberapa buku seperti The Count of Monte Cristo karangan Alexander Dumas, karangan Edgar Allan Poe, karangan Nikolai Gogol, karangan Charles Dickens, karangan Mark Twain, karangan Jane Austen …..
Kakaknya, Suman yang berkuliah di Stanford juga mengiriminya beberapa buku bacaan kuliahnya seperti The Prince karangan Niccolo Machiavelli, sebuah risalah politik paling legendaris. Candide karangan Voltaire. Ada pula penulis seperti Thoreau, Sartre & Camus. Brave New World karangan Aldous Huxley, cucu Thomas Huxley (yang terkenal sebagai Darwin’s Bulldog) mengenalkannya pada filsafat moral dan menjadi subjek esainya ketika akan masuk ke universitas, dimana ia berargumen bahwa kebahagiaan bukan merupakan tujuan hidup. Hamlet karangan William Shakespeare memberinya dorongan untuk melewati krisi remaja yang biasa menimpa. Buku-buku terbaik dari segala era dan seluruh dunia menemani perkembangan Kalanithi.
Kejahilan masa remaja menjangkiti Kalanithi remaja, suatu hari ia tertangkap basah karena pula ke rumah ketika fajar terbit. Ibunya yang khawatir menginterogasinya kemungkinan adanya obat-obatan yang biasanya remaja pake, Kalanithi hanya berpikir sang Ibu tidak pernah memahami bahwa hal yang paling menggairahkannya adalah volume puisi romantis yang diberikan padanya minggu sebelumnya. Buku-buku menjadi kawan paling dekat, memberi cara pandang baru terhadap dunia.
Dalam pencariannya supaya anak-anaknya mendapat pendidikan, sang Ibu membawanya beribu-ribu mil ke utara menuju kota besar paling dekat, Las Vegas, hanya supaya bisa mengambil tes PSAT, SAT, dan ACT. Kegigihan Ibunya masuk ke dewan sekolah dan melakukan perubahan-perubahan disana menbuatnya menjadi fenomena. Bagi Kalanithi, sastra memberikan sesuatu yang kaya mengenai arti manusia; otak, kemudian, adalah mesin yang bisa menggerakkannya. Kecintannya pada buku membuatnya memilih jurusan sastra, selain juga biologi dan neurosains. Arti tentang menjadi manusia dan apa yang membuat hidup menjadi berarti masih saja mengisi pikiran-pikirannya tiap malam.
Sastra merupakan jalan paling elegan menjelaskan pengalaman kehidupan manusia selain itu memberikan bahan yang kaya bagi refleksi moral. Selama menjalani kehidupan perkuliahan ia lebih banyak menghabiskan waktu mendalami sastra, mengikuti kemah dan mengambil beberapa lowongan magang yang ada. Kembali ke kampus, hidupnya terasa lebih kaya dan penuh dan selama dua tahun setelahnya ia masih mecari pemahaman tentang kehidupan pikiran lebih dalam. Ia mempelajari sastra da filsafat untuk memahami apa yang membuat kehidupan penuh makna, mempelajar neurosains dan bekerja di sebuah laboratorium fMRI untuk memahami bagaimana otak bekerja, memberi alat bagi organisme untuk mencari makna di dunia.
Memasuki masa akhir kehidupan di kampus, Kalanithi merasa ada sesuatu yang masih belum selesai baginya, seperti rasa bahwa ia belum mau selesai untuk belajar. Ia memasukkan aplikasi untuk pascasarjana sastra Inggris di Stanford dan diterima. Di Stanford ia beruntung bisa mendapat bimbingan dari Richard Rorty, mungkin salah satu filsuf paling beken di zamannya. Ketika sudah mau menyelesaikan tesisnya salah seorang pembimbing tesisnya memberi nasihat andai dirinya mau mencari sebuah ruang di dunia sastra akan sulit karena kebanyakan sastrawan mempunyai rasa ketidaksukaan yang tinggi pada sains.
Kebanyakan dari teman-teman kuliahnya menuju New York untuk mencari nafkah. Ia masih saja belum selesai dengan pertanyaan “Dimanakah biologi, moralitas, sastra, dan filsafat saling bertemu”?. Pada suatu sore di musim panas, pikirannya mengembara. Suara Augustine mendorongnya supaya mengesampingkan buku dan ambillah kedokteran. Semua nampak terungkap secara gamblang. Ia harus mengambil kedokteran. Ayahnya, pamannya, kakak tertuanya semuanya dokter.
Waktu kosong selama setahun memberinya banyak opsi, ia mengambil program HPS di Cambridge. Kehidupan di pedesaan Inggris Raya makin membuatnya yakin bahwa pengalaman langsung tentang hidup dan mati sangat esensial untuk menghasilkan opini moral. Tindakan lebih berharga dibanding hanya opini. Jalan untuk merasakan langsung sensasi tentang pertanyaan moral tersebut hanya bisa lewat bidang kedokteran. Ia menyelesaikan studinya dan kembali ke Amerika, menuju ke Universitas Yale untuk mengambil studi kedokteran. Studi kedokteran menajamkan pemahamannya tentang hubungan makna, kehidupan, dan kematian.
Menghabiskan banyak waktu di Stanford untuk mempelajari sastra dan sejarah kedokteran di Cambridge dalam upaya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kematian, hanya untuk sampai pada rasa ada sesuatu yang tak diketahuinya. Ia berkeyakinan bahwa hal tersebut hanya bisa diketahui dengan cara face-to-face. Menghadapi pasien, menghadapi kematian. Memberi kesaksian padanya tentang misteri kematian, manifestasi biologis serta pengalaman eksistensial. Kedokteran ketika ia masuk sudah banyak berubah yang tidak berubah hanyalah semangat tanggungjawab heroik ditengah kegagalan dan darah.
Menginjak tahun ke empat studi kedokteran, ia menyaksikan teman-temannya mengambil spesialisasi yang kurang menantang. Uang menjadi motivasinya, utamanya mengambil spesialisasi yang berurusan dengan gaya hidup. Bingung dengan semua itu, Kalanithi mengumpulkan data dari semua sekolah kedokteran paling elit di Amerika, ia menemukan pola yang sama. Ketika menginjak masa akhir studi kedokteran kebanyakan mahasiswa cenderung memilih spesialisasi dengan tekanan rendah dan bayaran tinggi. Idealisme yang ada di aplikasi esai ketika masuk menghilang entah kemana.
Ketika kelulusan mulai mendekat, sesuai dengan tradisi Yale, untuk menulis ulang sumpah kelulusan campuran kata-kata dari Hippocrates, Maimonides, William Osler, bersama dengan beberapa pendahulu kedokteran yang legendaris. Baginya ada citra “pengkhianatan” bagi kemurnian kedokteran. Mendahulukan gaya hidup adalah bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan, bukan karena adanya “calling”, memakai konsepnya Max Webber. Pada akhirnya ia memilih neurosurgery sebagai spesialisasinya. Pilihannya pada neurosurgery berawal ketika ia mendapati seorang anak dengan tumor otak yang besar sedang berada di sebuah ruangan bersama seorang spesialis bedah saraf.
Bedah otak dan saraf merupakan kejadian dramatis bagi pasien dan keluarganya yang mempunyai dampak masif pada banyak peristiwa kehidupan. Dalam persimpangan kritis tersebut, pertanyaan vital tidak hanya apakah mati atau hidup, tetapi hidup macam apa yang pantas untuk dijalani. Karena otak menengahi pengalaman tiap manusia pada dunia, setiap masalah bedah saraf memaksa pasien dan keluarga untuk menjawab pertanyaan: Apa yang membuat hidup betul-betul bermakna untuk terus dilanjutkan?
Kalanithi betul-betul terpukau dengan urusan bedah saraf, hal tersebut memaksanya untuk senantiasa bekerja secara sempurna; seperti konsep orang-orang Yunani kuno zaman dahulu, arete, kebajikan mengharuskan kesempurnaan fisik, mental, emosional, sekaligus moral. Bedah saraf (neurosurgery) nampaknya memberikan konfrontasi yang paling menantang dan direct dengan makna, identitas dan kematian.

To Be Continued

Jazman Arrafiq Mountashir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *