Mabit FPSB: Mempererat Ukhuwah

 (Kampus Terpadu, 31/05/2018) Memasuki bulan yang penuh berkah yaitu bulan Ramadhan. Di dalam bulan ramadan biasanya terdapat lebih banyak kegiatan-kegiatan Islami dibandingkan bulan-bulan biasanya terutama dalam lingkungan kampus. Kegiatan tersebut seperti kajian, tadarus, i`tikaf, mabit,dan lain-lain. Setiap tahunnya kegiatan-kegiatan tersebut  memiliki konsep yang berbeda-beda. Hal tersebut dilakukan pula di Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya. Pada tahun ini di FPSB terdapat kegiatan yang berbeda dengan tahun lalu yaitu mabit (malam bina iman dan taqwa). Kegiatan mabit dilakukan ini atas inisiatif Arief Fahmi selaku Dekan FPSB. Arief Fahmi selaku inisiator mengatakan bahwa “sebenarnya ide ini bukan berasal dari beliau melainkan hanya terinspirasi dari kegiatan takmir yang biasa dilakukan di Masjid Ulil Albab”.

Kegiatan mabit ini wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa/i FPSB angkatan 2017. Menurut Zaimah Luthfia selaku sekertaris Mabit, mengatakan bahwa alasan mabit bersifat wajib agar semua peserta dapat hadir dalam acara tersebut. Kegiatan mabit terbagi dalam tiga gelombang dan dilakukan setiap akhir minggu. Kegiatan mabit ini juga menggantikan dua kali pertemuan ta`lim. Menurut Arief Fahmi kegiatan ini bekerjasama dengan dosen agama juga pengurus ta`lim sehingga memang terdapat konfersi absensi talim dalam pelaksanaan mabit.

Tujuan dari kegiatan mabit ini adalah untuk meningkatkan hubungan antara peserta, pengajar , dan juga antara pengajar dan pengajar. Walaupun sebenarnya setiap satu minggu pasti terdapat pertemuan ta`lim, “mabit tetap harus dilaksanakan, karena pertama ada pepatah yang mengatakan jika kamu ingin tahu seseorang maka tinggallah bersamanya. Walaupun kita bertemu dalam beberapa jam sesi taklim kita bisa bersabar (bertopeng) dan lain-lain baru kita kembali pada diri kita yang sebenarnya. Nah dengan menginap ini harapannya untuk lebih mendekatkan lagi karena biasanya di jam malam muncul sikap alami kita” ungkap Muhammad Ilham Abdul Majid selaku ketua mabit. Lalu, Arief Fahmi mengatakan juga bahwa tujuan dari kegiatan mabit ini secara garis besar adalah untuk meningkatkan keislaman peserta ta`lim khususnya angkatan 2017 selaku peserta mabit. Beliau juga mengatakan bahwa dalam kegiatan mabit ini tidak menekankan pada pengetahuannya namun lebih kepada penerapan (practice).

Mabit FPSB memang bukan yang pertama dilakukan dalam lingkungan kampus Universitas Islam Indonesia, “sebelumnya memang terdapat kegiatan mabit yang biasa dilakukan oleh takmir di Masjid Ulil Albab. Perbedaan diantara keduanya yaitu terletak pada sharing session, dari situlah kita membangun hubungan yang lebih erat antara muallim dengan muridnya” ucap Devy Violita Sari selaku koordinator mabit. Senada dengan Devy Viola Sari, Arief Fahmi mengatakan bahwa“Secara garis besar tidak ada bedanya mabit yang biasa diadakan  takmir dengan mabit FPSB, justru jangan sampai kegiatan mabit FPSB mengganggu kegiatan takmir. Oleh karena itu, dari konsep dan pelaksanaan dikoordinasikan mulai dari hal yang paling teknis misalnya konsumsi. Lalu, sisi konsep misalnya pelaksanaan solatnya seperti salat malam walaupun terdapat tambahan acara dari FPSB sendiri namun itu juga tetap berkoordinasi dengan takmir. Kita juga selaraskan dengan acara yang dilakukan oleh takmir”.

Urgensi dalam kegiatan mabit ini adalah menggapai religiusitas, yaitu knowledge (pengetahuan), practice dalam hal ibadah, dan experience. Dari aspek-aspek tersebut mahasiswa/i dapat mempelajari bagaimana secara bersama-sama kegiatan ibadah bukan hanya teoritis saja, juga merasakan pengalaman berada di salah satu tempat mulia. Selain itu, sharing session tidak hanya mendengarkan tetapi secara aktif menyampaikan apa yang selama ini dirasakan, ucap Arief Fahmi. Pada faktanya kegiatan mabit ini sudah direncanakan jauh sebelum bulan ramadhan namun, keputusan Dekan jatuh pada Bulan Ramadhan. Momentum Bulan Ramadhan adalah istimewa yang tentunya tidak melupakan bulan-bulan yang lain. Selain itu, kegiatan mabit ini dapat memperlihatkan bahwa kegiatan ta`lim itu peka terhadap moment istimewa (bulan ramadhan).

Walaupun perencanaan mabit ini tergolong cukup lama namun masih terdapat kendala di dalamnya.  Ilham menyampaikan bahwa panitia sempat mendapat dua kali teguran dari takmir perihal waktu kegiatan, lalu suara bising dari peserta, juga bersamaan dengan jadwal dengan kegiatan IRENA, komahi, RWC, dan himapsi. Sehingga, banyak peserta mabit yang datang terlambat karena hal tersebut. Lalu, menurut Devy Violita Sari selaku koordinator mabit kendala yang dialami yaitu masih banyak mahasiwa/i yang bingung sampai kemarin  banyak yang membawa barang yang berat, baik isinya makanan ataupun baju padahal makanan cukup, baju tidak ganti juga tidak apa-apa.

“Mungkin kedepannnya akan mengatur konsep yang lebih meriah dan anak muda agar mereka lebih tertarik untuk datang. Karena, sebelumnya ketika ditanya banyak dari mereka yang mengatakan lelah,bosan dan kurang dalam sharing session nya”, ucap Devy Violita Sari. Menurut Indria juwita prodi Ilmu Komunikasi, “kegiatannya cukup mendidik karena tidak semua universitas mengadakan kegiatan seperti ini. Ia merasa tenang dan adem karena menurutnya selama ini ia hanya disibukkan dengan urusan duniawi. Ia berharap agar lebih ditingkatkan lagi kualitasnya misalkan mengundang pemateri yang menjadi public figure”. Sedangkan menurut seorang mahasiswa yang tidak ingin dipulikasikan namanya berpendapat bahwa ia senang mengikuti kegiatan mabit terlebih mendapat pengalaman baru dapat ilmu juga dapat wawasan baru. Namun, tidak ada pengaruh atau perbedaanya dari sebelum dan sesudah mabit karena hanya dilakukan satu malam.

“Kita memperhitungkan jika kita ingin melakukan mabit lebih lama yaitu pada kapasitas ruangan dalam arti masjid itu bukan untuk tempat menginap dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, kita tidak memperbolehkan mandi di ulil ketika kegiatan mabit tersebut.dikarenakan keterbatasan fasilitas. Kita tidak mungkin mengharapkan berubah 100 % menjadi sholeh sholehah setalah mengikuti mabit, tetapi lebih pada pengalaman bahwa pernah menginap di masjid. Itu yang disebut stimulus, jika dirasa itu kurang maka mahasiswa dapat mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh takmir. Di akhir gelombang mabit kita akan mengadakan evaluasi jika hasilnya mengatakan bahwa mabit seharusnya betambah malamnya maka kita sebenarnya sudah berhasil dalam hal stimulus tetapi jika sebaliknya maka sudah ada stimulus namun belum intensif”, ujar Arief Fahmi

Pesantrenisasi lebih efektif dibandingkan mabit karena dilakukan selama 14 hari berturut-turut sehingga, lebih memungkinkan untuk menjadi suatu kebiasaan. Ini juga bukan dalam konteks membanding-bandingkan tetapi melengkapi. Selain itu, juga pesantrenisaisi sangat sulit dilakukan di waktu ramadhan. Maka apa yang kurang dalam pesantrenisasi ditutupi oleh mabit dan apa yang kurang di mabit ditutupi oleh pesantrenisasi.

“Harapannya ada penerusnya yaitu teman-teman 2017 yang telah mengetahui kelemahan dan kelebihan, mau mengabdi pada fakultas, kedua untuk acara mungkin kita bisa independen ,terakhir kegiatan ini bisa menjadi kegiatan rutin”, ungkap Muhammad Ilham Abdul Majid. Acara mabit mahasiswa/i FPSB dimaknai sebagai kegiatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mahasiswa/i menjadi la`allakumtattaqun. “Saya setuju kegiatan mabit ini masih  banyak kekurangan dan sebagainya. Kapan ketika mahasiswa/i FPSB sholeh dan sholehah semua. Pertanyaanya apakah mahasiswa FPSB sudah sholeh sholehah semua? Jika belum, maka kita cari metode-metode dan kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan keislaman mahasiswa FPSB” tutup Arief Fahmi. (Fadhilah, Dennis).

Sumber foto: Jafana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *