Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya

Judul Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya
Penulis Sabda Armandio
Editor Dea Anugrah
Cetakan Februari 2015
Penerbit Moka Media
Jumlah Halaman 348

 

Tugas seorang penulis (sastra) adalah membunuh klise. Itulah kalimat Aan Mansyur yang pernah saya baca di salah satu website literasi. Menghadirkan tokoh protagonis penyuka kopi – sungguh sudah sebasi tema senja dalam puisi. Sabda Armandio sepertinya sudah tahu sedari awal. Dio – panggilan akrab penulis – menampakkan diri melalui novel pertamanya, Kamu : Cerita Yang Tidak Perlu Dipercaya dengan protagonis yang sederhana: kalem dan penyuka mie instan.

Adalah beberapa hari menjelang Ujian Nasional, tokoh Aku bolos sekolah untuk pertama kalinya dan berturut-turut selama tiga hari. Tiga hari yang biasa namun sarat akan peristiwa-peristiwa dan obrolan yang tidak biasa. Hari pertama, protagonis diajak oleh seorang Kamu yang bilang bahwa ini adalah persoalan gawat nan penting untuk… mencari sebuah sendok. Hanya sebuah sendok. Hari kedua, protagonis diajak oleh mantan pacarnya untuk… ke dokter kandungan. Anda boleh menebak siapa yang menghamili. Hari ketiga, ajakan bolos itu datang dari… sebaiknya anda membeli buku ini.

Kira-kira begitulah mulanya cerita dalam novel ini, jalinan peristiwa terurai perlahan, satu per satu. Kejadian yang boleh dipercaya, atau tidak sama sekali. Tidak ada paksaan di dalamnya.

Tokoh Aku adalah seorang yang pasif, melankolis, mudah melupakan sesuatu dan menganggap setiap kejadian tidaklah terlalu penting, tapi cerdas. Sementara Kamu adalah seorang yang tengil, pemberontak, gemar menghisap ganja, namun tidak kalah cerdas. Keduanya hanya mempunyai satu kesamaan: cara berpikir yang nyeleneh.

Selama tiga hari bolos sekolah, pembaca akan menemukan jawaban absurd dari sejumlah pertanyaan seperti Apa Asyiknya Sekolah Tanpa Bolos, Untuk Apa Sebenarnya Perang di Dunia, Kenapa Televisi Suka Mencampur-aduk Berita, Apa Makna Seorang Terlahir di Dunia, Mengapa Sekolah Gemar Menyeragamkan Muridnya, hingga Bagaimana Negara Membunuh Melalui Sistem Pendidikan.

Hari pertama, penulis menawarkan alur yang sarat akan tragedi kemanusiaan, yang entah disadari atau tidak. Seperti melintasi hamparan bunga tulip yang entah ujungnya dimana. Di tengah perjalanan, Aku dan Kamu bertemu dengan orang utan yang mengenakan kaos bertuliskan #SaveHuman.

“Kalian memakan uang?”

“Tidak,”

“Bukankah itu makanan pokok kalian?”

Kamu menepuk keningnya.

“Uang bukan untuk dimakan,” kata Aku.

“Aku pernah mendengar orang-orang membakar hutan, berteriak ‘cari uang buat makan’. Jadi kupikir kalian memakan uang,” ujar orang utan sambil menggosok-gosok kepalanya.

Berlanjut ke pertemuan Aku dan Kamu dengan seorang yang tua renta, bernama Kakek Su. Aku dan Kamu mendengar dengan seksama pengalaman Kakek Su ketika masa penjajahan Belanda hingga Jepang.

Aku tidak suka dengan ide perang. Ketidaksukaanku itu melewati batas benci. Aku pikir, dengan ikut perang artinya secara tidak langsung aku menyetujui ide itu, sekalipun tujuannya untuk membela diri…. Tidak ada yang menyenangkan dari melihat orang tertembak, atau melihat tumpukan mayat berserakan seperti bangkai tikus. Aku memilih tidak peduli. Tidak peduli siapa menang siapa kalah, siapa menjajah siapa. Selama aku tidak dijajah oleh siapapun, aku bebas. Bagiku, yang terpenting saat itu adalah perang segera berakhir. Wangi nyawa manusia tercium tiap sudut kota dan ketololan itu nampaknya tak akan lekas berakhir. Aku benar-benar merasa sendirian (hlm. 118)

Hari kedua dan ketiga, penulis menawarkan alur cerita konflik yang mewarnai kegelisahan remaja SMA. Sebut saja hamil di luar nikah, merokok, nyimeng, jatuh cinta, patah hati, bunuh diri, perdebatan mengenai keangkuhan orang dewasa hingga ihwal masa depan. Selain itu, kekuatan cara berpikir Aku dan Kamu dalam menyikapi peristiwa sanggup membuat pembaca mengambil rehat ketika melahap halaman demi halaman, entah untuk berpikir sejenak atau sekedar memasang mimik tidak percaya dengan ungkapan tokoh di dalamnya.

Absurditas tokoh Aku dalam novel ini misalnya, ketika ‘mantan pacarnya’ berterus terang bahwa ia dihamili oleh seseorang. Reaksi yang biasa. Hanya perasaan seperti…

Degup jantungku normal, nafasku kalem saja. Aku tidak marah, tidak kesal. Hanya diam. Diam, keras, dan tidak terlibat. Seperti tebing karang (hlm.164).

Atau ketika ditanya mengapa ia santai saja dan tidak marah..

Siapa pun lelaki itu, menurutku dia sudah memenuhi tanggung jawabnya terhadap peradaban. Yah, berkembang biak, menjadi banyak. Seperti kelinci, atau marmut. Biasa saja. Sejak dulu manusia menolak kepunahan dengan cara itu, kan? (hlm. 184)

Tentu saja itu jawaban konyol. Tapi begitulah novel ini bekerja. Melalui tokoh di dalamnya, penulis menghantam imajinasi kebanyakan orang, seperti saya ini.

Selain itu, penulis paham betul cara meludahi orang-orang dengan sopan. Sebut saja bagaimana Aku menangkis kekhawatiran mantan pacarnya yang keluar dari sekolah karena hamil di luar nikah.  Reaksi yang mewakili cara berpikir dewasa dan perenungan panjang.

Aku pernah baca berita, tentang murid-murid yang dikeluarkan dari sekolahnya hanya karena dia hamil. Menurutku sekolah itu keterlaluan bodohnya. Seolah-olah setelah hamil, dia bukan manusia lagi (hlm. 214).

Atau fatwa liar dari Kamu yang boleh menyangkut intoleransi umat beragama seperti akhir-akhir ini.

Seseorang yang bertuhan harusnya membangun jembatan, bukan dinding. Membangun tanah lapang, bukan menara. Sebab keimanan seharusnya mengubungkan, bukan membatasi. Meluas, bukan meninggi. (hlm. 75)

Dari judul novel ini saja, pembaca diminta untuk ‘tidak mempercayai apapun’ soal Kamu. Nyatanya penulis senang membuat pembaca terjebak. Pembaca akan digiring dengan argumen Kamu yang aneh, tapi layak dipikirkan.

Karena aku tidak tahu harus mempercayai siapa akhir-akhir ini. Rasanya orang gemar membuat kita tersesat. Jadi, kupikir, aku harus membuat peta milikku sendiri. Tidak ada lagi yang bisa kupercaya selain diriku sendiri. (hlm. 323)

Atau seorang Kamu yang gemar memberontak hingga mengkritik sistem pendidikan.

Pemberontak? Aku hanya berpikir bahwa sekolah berusaha menyeragamkan murid-muridnya, baik pakaian maupun cara berpikir. Aku nggak mau diseragamkan. (hlm.298)

Kau benar, pendidikan itu penting. Aku sepakat. Tapi, kasihan sekali ya bersekolah hanya demi kesuksesan (hlm. 300)

Novel ini sederhana, hanya saja penulis ingin pembaca berpikir rumit. Isu yang diangkat memang mengandung perdebatan setiap hari. Tapi saya sangat menikmatinya, dengan tutur khas remaja yang ringan dan nyeleneh. Selain itu, penulis menyelipkan humor, bukan sembarang humor: lelucon yang sarat akan sarkas dan ironi.

Sebetulnya, saya sudah dua kali membaca novel ini. Pertama adalah tiga tahun silam, ketika novel ini pertama diterbitkan. Namun saya tidak terlalu paham apa yang penulis coba uraikan. Jadi sekedar membaca saja. Saya membaca novel ini untuk kedua kalinya setelah terkesima dengan karya kedua penulis yang baru-baru ini hangat dibicarakan: 24 Jam Bersama Gaspar.

Novel ini, benar-benar menggambarkan kualitas penulisnya. Novel ini adalah satu dari lima buku terbaik tahun 2015 pilihan majalah Rolling Stone Indonesia. Seperti yang saya sebutkan di awal, penulis paham betul cara membunuh klise. Alur yang tidak disangka-sangka, atau melalui karakter setiap tokoh ketika menyikapi realita. Sepertinya penulis benar-benar paham bahwa kenyataan justru aneh ketimbang fiksi, atau boleh sebaliknya. Selain itu, isi kepala Sabda Armandio serta racikan tangan Dea Anugrah menjadikan buku ini layak anda baca. (Iqbal Kamal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *